Analisis Fertilitas Hasil Sensus Penduduk 2010

No comment 2469 views

Analisis ini dilakukan oleh BPS bekerjasama dengan UNFPA menggunakan data hasil Sensus Penduduk (SP) 2010, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2010, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2010, dan Potensi Desa (Podes) 2011. Unit analisis yang dipakai adalah TFR tingkat kabupaten/kota. TFR merupakan singkatan dari Total Fertility Rate, yakni rata-rata banyaknya anak yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan hingga akhir masa reproduksinya.

Program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1970 bertujuan untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia. Pengendalian jumlah penduduk ini diperlukan agar pembangunan berjalan dengan baik karena didukung oleh sumber daya manusia yang memadai serta berkualitas, dan hasil pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh penduduk Indonesia. Indikator keberhasilan Program KB adalah penurunan TFR dari 5,61 anak per Wanita Usia Subur (WUS, usia 15-49 tahun) pada tahun 1971 (SP1971) menjadi 3,33 anak per WUS di tahun 1990 (SP1990) dan 2,27 anak per WUS tahun 2000 (SP2000). Sayangnya, di tahun 2010, TFR mengalami kenaikan menjadi 2,41 anak per WUS (SP2010).

Indikator kedua dari keberhasilan Program KB adalah turunnya Laju Perrtumbuhan Penduduk (LPP). Pada tahun 1971-1980, LPP Indonesia sebesar 2,31 persen per tahun. LPP Indonesia turun menjadi 1,49 persen per tahun pada periode 2000-2010.

Tren TFR di Indonesia, BPS 1971-2010

Tren TFR di Indonesia, BPS 1971-2010

 

Meski menunjukkan perkembangan yang baik, pencapaian dalam kedua indikator tersebut masih jauh dari target yang diharapkan. Guna mencapai penduduk tumbuh seimbang, Indonesia ditargetkan memiliki LPP kurang dari 1 persen per tahun dan TFR 2,1 anak per WUS.

Disisi lain, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, 2007, dan 2012 memperlihatkan adanya stagnansi dalam hal TFR di posisi 2,6 anak per WUS. Fenomena TFR yang tidak berubah ini lumrah dialami oleh negara-negara yang berada dalam transisi fertilitas.

Pada tahun 2005, Bongaarts meneliti tujuh negara yang mengalami stagnansi TFR. Ketujuh negara itu adalah Bangladesh, Kolombia, Republik Dominika, Ghana. Kenya, Peru dan Turki. Hasil penelitian Bongaarts memperlihatkan bahwa penyebab stagnansi TFR di tiap negara berbeda. Kesamaan yang dimiliki adalah bahwa kesemua negara yang mengalami stagnansi TFR sedang bergerak dalam transisi fertilitas menuju replacement level (TFR = 2,1).

Adapun faktor yang menyebabkan TFR konstan adalah penurunan yang tajam dalam permintaan dan pemakaian kontrasepsi meskipun akses terhadap kontrasepsi terbilang mudah karena negara-negara yang diteliti mendukung Program KB. Faktor lain yang berperan adalah adanya perubahan dalam preferensi fertilitas yang diukur dari jumlah anak yang diinginkan (Bongaarts 2005).

Berdasar kerangka berpikir yang diadaptasi dari teori Davis dan Blake (1956), Freedman dan Bongaarts (1978), serta Becker (1992), Zainul Hidayat pada tahun 2015 meneliti empat belas faktor yang diduga kuat mempengaruhi tingkat fertilitas di Indonesia dengan menggunakan data SP2010, Susenas 2010, PDRB 2010, dan Podes 2011. Keempat belas faktor itu adalah:

faktor-mempengaruhi-fertilitas

Keempat belas faktor ini berperan sebagai variabel bebas. Sementara TFR berperan sebagai variabel terikat. Hubungan antara variabel bebas dan terikat diteliti dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan metode analisis regresi biasa atau OLS.

Analisis deskriptif yang dilakukan menghasilkan data bahwa jumlah WUS pernah kawin usia 25-34 tahun di Indonesia lebih dari sepertiga total WUS pernah kawin. WUS pernah kawin usia 25-34 tahun merupakan WUS yang berpeluang tinggi untuk memiliki anak. Apabila dilihat dari tingkat pendidikannya, sebagian besar WUS pernah kawin berpendidikan SD ke bawah (48,6%). Dari sebanyak 48,6 persen WUS pernah kawin berpendidikan SD ke bawah ini, 63,9 persen tinggal di daerah pedesaan, sedangkan 33,1 persen tinggal di daerah perkotaan. Adalah hal yang wajar apabila mendapati data WUS pernah kawin berpendidikan tinggi di daerah perkotaan persentasenya lebih besar dibandingkan yang tinggal di daerah pedesaan. WUS dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih mudah menerima informasi, khususnya terkait fertilitas. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi Program KB sebaiknya lebih ditingkatkan untuk daerah pedesaan dengan sasaran utama WUS pernah kawin usia 25-34 tahun. Hal ini perlu, agar mereka lebih terbuka terhadap informasi seputar kesehatan reproduksi dan perencanaan serta pengaturan kehamilan.

Anak Lahir Hidup (ALH) adalah banyaknya kelahiran hidup dari WUS pernah kawin, sedangkan Anak Masih Hidup (AMH) adalah jumlah anak masih hidup dari WUS berstatus pernah kawin. ALH dan AMH di daerah perkotaan, berdasar hasil SP2010, lebih tinggi dibandingkan di daerah pedesaan. Kondisi ini tidak terlepas dari lebih memadainya fasilitas dan pelayanan kesehatan di daerah perkotaan. Sebaliknya, apabila ALH dan AMH disandingkan dengan tingkat pendidikan WUS, maka semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin rendah ALH dan AMH. Artinya, semakin tinggi pendidikan WUS, jumlah anak yang dilahirkannya semakin sedikit.

Penelitian yang dilakukan oleh Zainul Hidayat (2015) menghasilkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Variabel penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari tidak mempengaruhi TFR kabupaten/kota.
  2. Semakin tinggi tingkat kemiskinan di suatu kabupaten/kota, maka semakin tinggi TFR kabupaten/kota tersebut.
  3. Persentase WUS bekerja semakin tinggi menyebabkan sumber daya dan kemampuan untuk membiayai anak semakin tinggi, sehingga berakibat pada semakin tingginya permintaan anak dan pada akhirnya angka TFR juga meningkat.
  4. Semakin tinggi PDRB suatu kabupaten/kota, maka TFR semakin rendah.
  5. Semakin cepat proses urbanisasi yang terjadi di suatu kabupaten/kota, maka TFR kabupaten/kota itu juga menurun.
  6. Semakin tinggi persentase persalinan ditolong oleh tenaga medis, maka TFR di kabupaten/kota itu juga semakin menurun.
  7. Fasilitas kesehatan memiliki pola U pada TFR kabupaten/kota. Pada mulanya, peningkatan fasilitas kesehatan akan menurunkan TFR, namun kemudian mencapai tiitk minimum dan meningkatan TFR.
  8. Hubungan antara pendidikan dan TFR berbentuk U terbalik. Pada awalnya pendidikan jutru akan meningkatkan TFR, tetapi pada titik tertentu akan menurunkan TFR.
  9. Semakin tinggi CPR, maka TFR semakin rendah.
  10. Median umur WUS berpangaruh negatif terhadap TFR kabupaten/kota. Artinya, jika kohor usia perempuan yang akan memasuki masa subur semakin kecil, maka akan berdampak pada semakin menurunnya tingkat fertilitas di wilayah tersebut. Kohor perempuan yang akan memasuki usia subur pada dasarnya merupakan efek dari keberhasilan Program KB yang dilakukan dalam jangka panjang.
  11. UKP yang diinteraksikan dengan status perkawinan memiliki pengaruh negatif terhadap TFR. Hal ini sesuai dengan teori Davis dan Blake tentang determinan fertilitas.
  12. UKP, migran WUS masuk, tingkat kemiskinan, dan WUS bekerja berhubungan secara positif dengan TFR. Artinya, saat variabel bebas tersebut meningkat, TFR juga meningkat.
  13. UKP yang diinteraksikan dengan status perkawinan, CPR, median umur WUS, persentase penduduk perkotaan, dan PDRB berhubungan negative dengan TFR. Artinya TFR cenderung turun tatkala variabel bebas naik.

Sejalan dengan temuan-temuan tersebut diatas, Zainul Hidayat (2015) merekomendasikan hal-hal berikut:

  1. Peningkatan CPR tetap harus menjadi kebijakan dalam pengendalian kelahiran.
  2. Pentingnya penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan PDRB untuk menurunkan TFR.
  3. Pendidikan WUS harus terus ditingkatkan agar berdampak pada penurunan TFR.
  4. Advokasi dan promosi untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga medis yang diikuti advokasi oleh tenaga medis untuk mendorong pengaturan kelahiran dapat menurunkan TFR.
  5. Selain melalui peningkatan pendidikan, UKP dapat dicapai melalui upaya advokasi dan penyuluhan. (ypi)

Sumber: BPS & UNFPA 2015, Bunga Rampai Analisis Determinan Hasil SP2010, Jakarta, www.bps.go.id