Analisis Mortalitas Hasil Sensus Penduduk 2010

No comment 1655 views

Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Anak (AKA) seringkali dijadikan indikator kemampuan sosial ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Kelangsungan hidup anak sangat dipengaruhi faktor keluarga dan masyarakat lingkungannya dalam memberikan perawatan dan perhatian bagi anak.

Agustina Lubis dkk (2015) menganalisis determinan mortalitas di Indonesia dengan menggunakan data Sensus Penduduk (SP) 2010 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2010 dengan unit analisis rumah tangga dan kabupaten/kota. Analisis determinan mortalitas ini dilakukan berdasar kerangka social determinant of health (SDH).

Hasil analisis tersebut memperlihatkan bahwa provinsi dan kabupaten/kota di bagian timur Indonesia membutuhkan lebih banyak perhatian terkait tingginya angka kematian bayi dan balita di wilayah tersebut. Studi ini juga mempelajari hubungan antara suku kepala rumah tangga dengan kelangsungan hidup anak, dan diperoleh fakta bahwa terdapat hubungan atau pengaruh budaya terhadap kelangsungan hidup anak.

Ditinjau dari status pekerjaan Kepala Rumah Tangga (KRT), diperoleh hasil bahwa angka kematian anak pada KRT yang bekerja sedikit lebih rendah dibanding angka kematian anak pada KRT yang tidak bekerja. Sebaliknya, kematian anak pada rumah tangga dengan istri yang tidak bekerja jauh lebih rendah dibandingkan dengan perempuan yang bekerja.

Angka kematian bayi dan balita laki-laki lebih tinggi daripada angka kematian bayi dan balita berjenis kelamin perempuan. Angka kematian anak di daerah pedesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan aksesibilitas layanan kesehatan yang ada, dimana umumnya akses dan layanan kesehatan terkonsentrasi di perkotaan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi orangtua, semakin rendah angka kematian bayi, balita dan anaknya. Pendidikan dan status ekonomi rumah tangga membedakan perilaku hidup sehat dan aksesibilitas mereka terhadap layanan kesehatan, yang pada gilirannya mempengaruhi status kesehatan keluarga, termasuk bayi dan anak.

Pendidikan kepala rumah tangga berpengaruh secara tidak langsung terhadap kematian bayi melalui status sosial ekonomi, kepemilikan jamban, dan persalinan oleh tenaga kesehatan. Sedangkan faktor sosial ekonomi berpengaruh secara tidak langsung terhadap kematian bayi melalui kepemilikan jamban. Adapun faktor yang berpengaruh secara langsung pada kematian bayi adalah kepemilikan jamban dan persalinan oleh tenaga kesehatan. Faktor yang paling besar pengaruhnya pada kematian bayi adalah faktor persalinan oleh tenaga kesehatan. Faktor selanjutnya adalah kepemilikan jamban, disusul faktor pendidikan kepala rumah tangga, imunisasi, dan status sosial ekonomi. Secara keseluruhan, upaya untuk menurunkan kematian anak dan balita relatif lebih mudah dibandingkan upaya menurunkan kematian bayi.

Hasil analisis ini menunjukkan perlunya kerjasama lintas sektor dalam menekan angka kematian bayi, balita, dan anak. Program kesehatan yang diiringi dengan peningkatan akses air bersih dan sanitasi, peningkatan pendidikan ibu serta cakupan imunisasi dapat menurunkan kematian bayi dan anak. (ypi)

Sumber: BPS & UNFPA 2015, Bunga Rampai Analisis Determinan Hasil SP2010, Jakarta, www.bps.go.id