Sitename

Description your site...

BKKBN Optimis Tercapainya Program KKBPK Tahun 2016

Solo (27/5) – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menjabarkan sepuluh langkah strategis sebagai komitmen guna menjawab berbagai persoalan belum tercapainya beberapa indikator strategis dalam satu dasa warsa. Langkah strategis tersebut untuk memastikan pencapaian program Pengendalian Penduduk, KB dan Pembangunan Keluarga. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BKKBN, dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, Ph.D, dalam sambutannya pada pertemuan Konsolidasi Perencanaan Program dan Anggaran (KOREN) 1 Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Tahun Anggaran 2016, Rabu (27/5) di Hotel Lorin Solo.

Kesepuluh Langkah Strategis yang diharapkan tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam mencapai keberhasilan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, adapun kesepuluh strategi tersebut adalah:

PERTAMA; Memastikan bahwa seluruh rangkaian dan kegiatan yang dilaksanakan harus memiliki daya ungkit yang tinggi pada upaya penurunan TFR (Total Fertility Rate) dan penurunan LPP (Laju Pertumbuhan Penduduk), karena hal itu sebagai indokator utama keberhasilan atau kegagalan BKKBN baik sebagai sebuah lembaga maupun sebagai program.

KEDUA; Meningkatkan kesertaan ber-KB dari PUS (Pasangan Usia Subur) sebanyak mungkin dengan lebih mengedepankan penggunaan MKJP yag terus menerus makin tidak populer dikalangan peserta KB dan menurunkan ketidakberlangsungan ber-KB serendah mungkin yang mana pada tahun terakhir ini angkanya terus meningkat secara signifikan.

KETIGA; Memfasilitasi PUS yang ingin ber-KB baik karena alasan penjarangan maupun tidak ingin punya anak lagi, tetapi faktanya mereka belum memperoleh pelayanan KB. Sejatinya mereka ingin ber-KB tetapi karena berbagai sebab, mereka belum mampu kita layani. Untuk itu, saya minta saudara harus memberikan konsentrasi yang penuh untuk menangani dan melayani kelompok sasaran ini.

KEEMPAT; Menurunkan angka kelahiran dikalangan perempuan usia 15-19 tahun dengan informasi kesehatan reproduksi. Tingginya jumlah perempuan muda melahirkan, bukan saja akan mengancam TFR sulit tercapai, tatapi juga sangan membahayakan nyawa mereka dan menyumbang terhadap angka kematian ibu karena faktor melahirkan yag dalam beberapa tahun terakhir angkanya bukan berkurang tetapi makin meningkat secara tajam.

KELIMA; Menjamin setiap wanita yang melahirkan merupakan kelahiran yang direncanakan dan diinginkan. Sampai saat ini jumlah kelahiran yang tidak diinginkan ternyata sulit diturunkan. Kejadian ini jelas memberikan indikasi bahwa sesungguhnya mereka tidak ingin hamil dan melahirkan tetapi karena sesuatu sebab, mereka harus melahirkan. Akibat lanjutnya, anak yang dilahirkan juga bisa jadi bukan anak yang diharapkan. Tidak mengherankan bila kemudian kita banyak menyaksikan bayi yang dibuang dan ditelantarkan di tempat-tempat tidak layak.

KEENAM; Menjamin semua Pasangan Usia Subur mengerti dan memahami kelebihan, kekurangan dan efek samping dari setiap  alat dan obat kontrasepsi, sehingga ketika menggunakan salah satu kontrasepsi merupakan pilihan rasionalitasnya bukan paksaan maupun pengaruh pihak lain. Banyak fakta ditemukan di berbagai daerah, PUS menggunakan kontrasepsi  karena pengaruh tetangga, pengaruh Provider dan sebagainya. Idealnya setiap peserta KB menggunakan kontrasepsi atas dasar pilihannya sesuai dengan kondisi fisik dan psikis yang bersangkutan.

KETUJUH; Memastikan bahwa setiap remaja memiliki konsep keluarga kecil sehingga ketika mereka membangun mahligai  rumah tangga sudah merencanakan untuk membentuk keluarga kecil.  BKKBN jangan hanya  sibuk dengan mengurusi Pasangan Usia Subur tanpa banyak mempersiapkan remaja sebagai calon Pasangan Usia Subur. Tidak salah menangani PUS, tetapi jika abai mempersiapkan  remaja yang jumlahnya sangat banyak maka kita ibarat “gali lubang tutup lubang”. Ke depan, saya berharap BKKBN harus juga berkonsentrasi mempersiapkan remaja dengan pemahaman yang mendalam tentang kesehatan reproduksi, sehingga ketika mereka memasuki jenjang pernikahan sudah tertanam itikad untuk membentuk keluarga kecil. Mempersiapkan remaja bukan dengan kegiatan lomba dan lomba tetapi melalui proses dan pendekatan yang bersifat entertainment-edukasi.  Pendekatan kepada remaja harus dengan sifat dan karakter remaja. Umumnya mereka adalah kelompok Netizen yang dapat mendayagunakan media social maupun pendekatan-pendekatan lain yang ramah remaja. Dengan demikian, ketika para remaja memasuki jenjang pernikahan dan menjadi PUS muda, kita tidak akan lagi disibukkan dengan melakukan motivasi, penyuluhan dan sejenisnya tetapi kita tinggal menyiapkan pelayanan KB baik di Faskes Pemerintah maupun swasta.

KEDELAPAN; Melakukan penguatan program KKBPK di berbagai daerah tertentu sesuai dengan kearifan lokal dengan tetap mengacu kepada output maupun outcome yang telah ditetapkan dalam RPJMN dan RENSTRA. Program KKBPK tidak mungkin dilaksanakan dengan cara yang sama di semua daerah.

KESEMBILAN; Mengurangi disparitas pencapaian program KKBPK antarprovinsi dan  antarkabupaten/kota.  Sampai saat ini keberhasilan program KKBPK terjadi di beberapa daerah tetapi di daerah lain masih jauh dari harapan. Untuk itu disparitas ini harus segera dibenahi dengan penekanan pada kebutuhan masyarakat dan kearifan lokal.

KESEPULUH; Memastikan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan (GALCILTAS) harus mendapat pelayanan KKBPK dengan kualitas yang sama baiknya dengan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah dengan aksesibilitas dan fasilitas yang lebih memadai.  Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah GALCILTAS memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses dan kualitas pelayanan KKBPK. Negara dan pemerintah dalam hal ini BKKBN memiliki kewajiban untuk  memenuhi hak mereka guna memperoleh pelayanan KB sebagaimana yang diterima oleh masyarakat di tempat lain.

Selain itu, BKKBN diharapkan dapat mengembangkan berbagai program melalui 1) peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB yang merata untuk dapat mengatasi permasalahan pelayanan KB, 2) jaminan ketersediaan Alat dan obat kontrasepsi bagi Pasangan Usia Subur, 3) peningkatan kesertaan KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) terutama untuk mengurangi risiko drop-out yang sampai saat ini masih sangat tinggi, maupun penggunaan kontrasepsi non MKJP dengan memberikan informasi secara berkesinambungan, menyeluruh, terpadu dan terbuka lengkap dengan penjelasan kelebihan dan kekurangan dari setiap alat dan obat kontrasepsi, 4) penguatan kapasitas tenaga lapangan KB dan tenaga kesehatan pelayanan KB, serta 5) peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dan remaja tentang kesehatan reproduksi.

BKKBN juga memiliki tanggung jawab untuk lebih berperan aktif pada 1) penguatan pemahaman fungsi-fungsi keluarga terutama dalam hal penguatan mental dan karakter seluruh anggota keluarga, 2) pembinaan anak usia dini melalui Bina Keluarga Balita (BKB) Holistik Integratif  agar terbentuk karakter anak sejak usia dini, 3) pembinaan bagi keluarga yang memiliki remaja, serta pembinaan langsung kepada remaja dalam penyiapan generasi  bangsa  yang berkualitas melalui kegiatan Generasi Berencana atau GenRe, dan 4) pembinaan melalui keluarga yang memiliki lansia, peningkatan ketahanan ekonomi keluarga melalui kegiatan-kegiatan UPPKS, serta pengembangan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS).  (bangfad/Humas/ah/aw).

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.