Budaya Kerja berbasis Revolusi Mental

No comment 2949 views

(Pontianak, 11 Desember 2015) Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, berkesempatan memimpin Rapat Pengendalian Program dan Anggaran (Radalgram) Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat yang rutin dilakukan setiap bulan sekali. Ada yang berbeda dengan Radalgram kali ini yaitu adanya materi Budaya Kerja Berbasis Revolusi Mental yang dibawakan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat menyampaikan hasil research internal terkait evaluasi Budaya Kerja yang telah dijalankan oleh BKKBN. Sebagaimana kita tahu bahwa pada tahun 2014, BKKBN mengusung budaya kerja baru yaitu budaya kerja CETAK TEGAS (Cerdas, Tangguh, Kerjasama, Integritas dan Ikhlas) yang merupakan pengganti dari budaya kerja CUK (Cerdas, Ulet dan Kemitraan) yang telah dipakai sejak tahun 2008. Berdasarkan hasil research internal tentang budaya kerja tersebut menghasilkan beberapa hal terkait nilai-nilai yang menghambat kinerja pegawai BKKBN. Nilai-nilai tersebut antara lain: birokrasi yang cenderung ribet, silomentality, kebingungan, kekuasaan, hierarki, menahan informasi, waktu kerja yang panjang, persaingan internal, sifat saling menyalahkan, manipulasi, membangun kerajaan bisnis, kontrol, fokus jangka pendek, eksploitasi, pengurangan biaya, dan pekerjaan yang tidak terjamin keamanannya. Permasalahan nilai-nilai tersebut sedapat mungkin perlu dihindari atau dihilangkan agar BKKBN mampu meraih visi dan misinya demi mewujudkan tujuan organisasinya.

Dalam penjelasannya Kepala Perwakilan menyatakan bahwa dalam melaksanakan pekerjaan seringkali pegawai terkotak-kotak dalam sub bidang atau sub bagiannya masing-masing. Mereka tidak menyadari bahwa hasil pekerjaan satu sub bidang/sub bagian berpengaruh pada sub bidang/sub bagian yang lain. Hal ini menyebabkan pegawai melupakan value budaya kerja yang telah ditetapkan dan dianut oleh semua pegawai BKKBN dalam usaha mencapai visi dan misi organisasi, sehingga ketika ada kegagalan dalam pencapaian salah satu misi organisasi, masing-masing sub bidang/sub bagian saling menyalahkan dan tidak berusaha untuk sama-sama bangkit memperbaiki diri. Kondisi ini apabila dibiarkan terus menerus, maka hampir dapat dipastikan visi dan misi organisasi tidak akan tercapai.

Berangkat dari pengalaman tersebut maka BKKBN berusaha merumuskan dan mempertegas value budaya kerja yang dianut. Adapun value budaya kerja yang dianut oleh BKKBN saat ini adalah CETAK TEGAS berbasis REVOLUSI MENTAL. Budaya Kerja CETAK TEGAS berbasis REVOLUSI MENTAL dimaksudkan menselaraskan Gerakan Revolusi Mental yang telah dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo sejak dilantik menjadi Presiden RI pada bulan Oktober 2014.

Revolusi mental adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Gerakan ini dikenalkan oleh Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia pada tahun 1957. Revolusi mental mempunyai tiga pilar uatama yaitu Integritas, Etos Kerja dan Gotong Royong.

Integritas adalah kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan yang dilakukan. Orang yang mempunyai integritas adalah orang yang jujur, dapat dipercaya, berkarakter, bertanggung jawab dan konsisten serta berpegang teguh pada prinsip kebenaran moral dan etika. Hal ini tentunya sesuai dengan value Integritas dan ikhlas yang dianut oleh BKKBN. Integritas menurut BKKBN adalah jujur, terbuka, konsisten antara fikiran dan perbuatan. Adapun ikhlas adalah melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan tulus dan sungguh-sungguh. Contoh perbuatan yang bernilai integritas dan ikhlas dalam melaksanakan pekerjaan sehari hari adalah adanya kebiasaan untuk menyampaikan informasi/data sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dilapangan terutama dalam membuat laporan pencapaian KKP, melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya tanpa mengeluh serta memberikan laporan/menyerahkan pemberian dari mitra kerja/rekanan sesuatu pemberian yang tidak berhak untuk diterimanya.

Etos Kerja dalam revolusi mental diartikan sebagai sikap kerja yang berorientasi pada hasil yang terbaik, semangat tinggi dalam bersaing, optimis dan selalu mencari cara yang produktif dan inovatif. Orang yang mempunyai etos kerja cenderung akan mempunyai daya saing yang tinggi dalam bekerja, optimis, inovatif dan produktif. Jika melihat pada value budaya kerja BKKBN tentunya nilai ini akan kita dapati di value cerdas dan tangguh. Value budaya kerja Cerdas menurut BKKBN adalah mampu bertindak optimal secara efektif dan efisien dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Contoh perilaku cerdas yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah menyusun rencana kerja (RK) dan melaksanakannya secara tepat guna, sehingg mendorong pencapaian sasaran kerja pegawaia (SKP) yang optimal. Tangguh adalah memiliki semangant pantang menyerah untuk mencapai tujuan. Contoh perilaku tangguh adalah percaya akan kemampuan diri untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dan senantiasa mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Pilar yang terakhir dari Revolusi Mental adalah Gotong Royong. Gotong Royong adalah sebuah keyakinan mengenai pentingnya melakukan kegiatan secara bersama-sama dan bersifat sukarela supaya kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan cepat, efektif dan efisien. Value yang ada dalam gotong royong antara lain kerjasama, solidaritas, tolong menolong, peka, komunal, berorientsi pada kemashalatan. Nilai ini akan kita temui pada budaya kerja kerjasama yang adianut oleh BKKBN. Kerjasama menurut BKKBN adalah membangun jejaring dengan prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan, percaya, sinergis, serta menghargai melalui komunikasi yang kondusif untuk mencapai tujuan bersama. Contoh value kerjasama yang dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah saling menghargai, terbuka dalam berpendapat dan menyampaikan ide, mempercayai kemampuan rekan kerja dan mau memahami kelebihan dan kekurangan anggota tim.

Nilai-nilai tersebut diatas jika mampu dipahami dan diterapkan oleh pegawai dalam menjalankan tupoksi masing-masing sesuai dengan lima Misi yang dicetuskan BKKBN, maka akan dapat dipastikan Visi BKKBN untuk Menjadi Lembaga yang Handal dan Dapat Dipercaya dalam Mewujudkan Penduduk Tumbuh Seimbang dan Keluarga yang Berkualitas dapat tercapai. (rien)

Mari mengukur integritas masing-masing dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini, dan cukup jawab dalam hati (Tim ESQ, 2015)

  1. Berjanji pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik, namun kemudian tidak melakukannya………
  2. Berjanji kepada orang yang disayangi (pasangan/anak/orang tua) hanya untuk menyenangkan hatinya, namun tidak memenuhinya…
  3. Mengerjakan tugas dikantor dengan kualitas yang seadanya, padahal mampu lebih dari itu…
  4. Menunda pekerjaan hanya karena malas….
  5. Membatalkan janji sepihak dan membuat alasan yang direkayasa…
  6. Tidak masuk kantor mengaku sakit, padahal tidak benar-benar sakit….
  7. Menggunakan fasilitas/waktu kantor untuk kepentingan pribadi….