Contraceptive Prevalence Rate

Category : ARTIKEL

Contraceptive Prevalence RateAngka pemakaian kontrasepsi yang lazim disebut Contraceptive Prevalence Rate (CPR) adalah persentase perempuan usia reproduktif yang menggunakan (atau yang pasangannya menggunakan) suatu metode kontrasepsi pada suatu waktu tertentu. CPR hampir selalu dilaporkan untuk wanita kawin atau wanita yang memiliki pasangan seksual. CPR dapat digunakan untuk mengukur pemakaian semua metode kontrasepsi, baik yang tradisional maupun modern, atau untuk mengukur pemakaian metode kontrasepsi modern saja.

Cara menghitung CPR adalah membagi jumlah perempuan usia reproduksi (usia 15-49 tahun) yang menggunakan suatu metode kontrasepsi dengan jumlah seluruh perempuan usia 15-49 tahun, kemudian hasilnya dikali 100.

Misalnya hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 diperoleh data untuk Provinsi Kalimantan Barat dari 591 perempuan usia reproduksi (15-49 tahun), terdapat 378 perempuan yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Dengan demikian, CPR kontrasepsi modern di Kalimantan Barat adalah (378/591) x 100 = 63,9%.

Data yang dibutuhkan untuk menghitung CPR adalah jumlah seluruh perempuan usia reproduksi (15-49 tahun) berdasar status perkawinan, dan jumlah perempuan usia reproduksi yang sedang menggunakan suatu metode kontrasepsi. Data tersebut dapat diperoleh dari survei kependudukan semacam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), mini survei, survei RPJM, dan pendataan keluarga.

CPR merupakan ukuran kependudukan yang berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi. CPR memperhatikan semua sumber penyediaan (supply) alkon dan meliputi semua metode kontrasepsi. Umumnya CPR digunakan sebagai ukuran hasil Program Keluarga Berencana.

Secara teknis, CPR merupakan rasio, bukan rate atau angka. (Prevalensi/kelaziman diukur dengan rasio dan insiden/kejadian diukur dengan rate atau angka). Pada suatu tahun, pemakaian kontrasepsi mengukur persentase perempuan usia subur yang menikah yang menggunakan kontrasepsi. Untuk memperoleh angka pemakaian kontrasepsi yang benar, pembagi atau penyebut (denominator) harus mencerminkan penduduk yang beresiko (terhadap kehamilan), misalnya perempuan yang aktif secara seksual yang tidak mandul, tidak sedang hamil, atau masih subur. Pembilangnya harus mencerminkan jumlah pengguna kontrasepsi di populasi tersebut. Masyarakat internasional menggunakan istilah Contraceptive Prevalence Rate sebagaimana didefinisikan diatas.

Kesepakatan dalam menghitung CPR adalah mendasarkan perhitungan ini pada perempuan berstatus menikah atau memiliki pasangan seksual (meskipun sebagian besar survei semacam SDKI juga menanyakan penggunaan kontrasepsi pada wanita usia reproduktif, baik yang menikah maupun yang tidak berstatus kawin). Di negara-negara dengan aktivitas seksual diluar pernikahan yang relatif rendah atau sedikit pada perempuan, pembatasan perhitungan CPR pada perempuan menikah akan mewakili populasi yang beresiko terhadap kehamilan. Namun, di negara-negara yang banyak terjadi hubungan seksual diluar pernikahan, perhitungan CPR yang hanya dilakukan terhadap perempuan berstatus kawin akan mengingkari atau menyangkal persentase (yang kemungkinan besar tinggi) pengguna kontrasepsi yang tidak berstatus kawin. Oleh karena itu, peneliti dan evaluator program umumnya melporkan persentase perempuan tidak berstatus kawin yang aktif secara seksual yang menggunakan kontrasepsi, bila memungkinkan, sebagai tambahan pemakaian kontrasepsi, karena mix kontrasepsi sangat berbeda pada perempuan berstatus kawin dan tidak berstatus kawin (dalam/tidak dalam hubungan stabil/tetap).

Penelitian menghasilkan data bahwa CPR penduduk yang lebih kaya cenderung lebih tinggi dibanding CPR penduduk yang lebih miskin. Penelitian itu juga menemukan bahwa negara-negara dengan CPR yang lebih tinggi memiliki disparitas yang lebih rendah dibandingkan negara-negara dengan CPR yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan CPR berperan dalam mengurangi kesenjangan (Karim dkk 2004 dalam Becker, Wolf, & Levine 2006).

Eastwood dan Lipton (1998 dalam Becker, Wolf, & Levine 2006) mengungkapkan bahwa peningkatan CPR dapat membantu penurunan tingkat kemiskinan dalam jangka panjang. Beberapa metode kontrasepsi dapat mencegah penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya sehingga berperan menurunkan kemiskinan yang terjadi di negara-negara berkembang. (ypi)

(diterjemahkan dari laman http://www.cpc.unc.edu/measure/prh/rh_indicators/specific/fp/cpr)

Avatar for admin

Author: 

Related Posts

Leave a Reply