DIKLAT PRANIKAH UNTUK PENINGKATAN PENDUDUK BERKUALITAS

Siti Badriyah *

Terjadinya peristiwa sadis yang melibatkan anak sebagai aktor ataupun korban, seperti pembunuhan, kekerasan, pelecehan seksual, pencabulan, penculikan, perdagangan dan perbudakan sepatutnya  tidak layak dibebankan sepenuhnya kepada anak. Berdasarkan data KPAID yang dipaparkan oleh Ketua KPAID Kalimantan Barat, Alik R Rosyad tentang kekerasan seksual di kota Pontianak pada 2011 terjadi 11 kasus, 2012 terjadi 16 kasus, 2013 terjadi 22 kasus, sedangkan sampai dengan April 2014 sudah terjadi belasan kasus. Artinya angka kekerasan terhadap anak setiap tahun cenderung naik (Tribun Pontianak, Rabu, 7 Mei 2014).

Data lain menyebutkan bahwa  selama 2013 sebanyak 716 orang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kalimantan Barat. Sebagian besar korban tersebut adalah perempuan dan anak yang berasal dari kabupaten dan kota yang dilaporkan kepada Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kalimantan Barat (Pontianak Pos, Jumat, 25 April 2014).

Kekerasan terhadap anak dan ibu mengindikasikan fungsi keluarga tidak berfungsi dengan baik (Opini Siti Badriyah, Pontianak Post, Rabu, 12 Desember 2012). Berbagai kasus tersebut membuktikan bahwa keluarga telah kehilangan sosok utama sebagai pengendali, pengontrol, pengawas, pendidik dan pengayom, yaitu ibu. Saat ini Indonesia membutuhkan supermom, ibu super. Bukan ibu-super secara harfiah yang berarti kuat, tahan banting dan berotot. Melainkan ibu yang bisa menjadi inspirasi dan panutan bagi anaknya, yang menurut C. Musthofa, Pontianak Post, Kamis, 29 Agustus 2013 diistilahkan sebagai IMUT yaitu Ibu Mandiri Unggul Teladan.

Pemberdayaan IMUT mengubah emosi menjadi inspirasi. Ibu mandiri memposisikan kodrat utamanya sebagai wanita. Jika ibu tidak berkarir dan fokus mengurus rumah tangga, maka peran ibu dalam keluarga adalah sebagai manajer handal yang bisa mengatur keluarga dengan baik. Sebaliknya jika ibu bekerja/ berkarir maka dia harus tetap memprioritaskan keluarga. Jika ibu sedang banyak masalah di kantor tidak perlu membawa masalah ke rumah bahkan melampiaskan kemarahan kepada anak. Ibu unggul adalah ibu yang selalu bisa memposisikan dirinya sebagai guru yang bijak bagi anak-anaknya. Ibu harus bisa mendampingi tumbuh kembang anak melalui edukasi. Ibu teladan adalah ibu yang selalu menjadi contoh – bukan sekadar memberi contoh – bagi anaknya. Karena apapun yang dilakukan, dikerjakan dan diajarkan ibu mudah ditiru, sebaiknya ibu harus bisa menjadikan dirinya lebih bernilai dan berhati-hati dalam semua aktivitas yang dilakukan.

Peran strategis IMUT perlu dilakukan kegiatan lebih lanjut melalui program pemberdayaan dengan menggunakan 3 pendekatan model pendidikan. Pertama, Pendidikan Agama dan Etika. Ibu harus bisa mengajarkan kepada anak tentang nilai agama dan etika. Anak selayaknya mengetahui bagaimana mengenal Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Agama sebagai nilai dasar harus diajarkan secara serius. Ajaran agama adalah pondasi paling berharga setiap anak. Etika adalah pelajaran bagaimana berhadapan dengan orang. Anak sepatutnya dibekali pelajaran untuk menghormati antarsesama baik dalam pergaulan maupun percakapan keseharian. Anak akan lebih berharga jika bisa menempatkan diri ketika berhubungan dengan orang yang lebih tua melalui nilai kesopanan, kejujuran dan kasih sayang.

Kedua, Pendidikan Realita. Pendidikan realita mengajarkan anak tentang manajemen menyikapi hidup. Anak seharusnya mulai dikenalkan pendidikan dasar mengenai cara menyelesaikan masalah, bertahan hidup dan kehidupan sosial. Pendidikan realita menanamkan sikap tegas untuk tidak menyalahkan keadaan. Jika anak terlahir dalam keadaan keluarga miskin maka harus lebih disiplin, rajin dan kerja keras namun tetap sederhana. Sebaliknya jika anak terlahir dari kalangan kaya, anak sedini mungkin dikondisikan bersikap dermawan, tidak sombong dan bersaharja.

Ketiga, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pranikah. Diklat pranikah adalah gabungan pendidikan agama dan pendidikan realita. Semua materi pendidikan (agama, etika dan realita) diajarkan dalam diklat ini. Beberapa materinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman seperti : kesehatan reproduksi, keluarga berencana (KB), pengasuhan anak, psikologi anak, remaja dan orang dewasa, pendidikan sex kepada anak, kewanitaan, keterampilan, kewirausahaan, dinamika keluarga menghadapi tantangan global.

Bentuk kegiatannya adalah workshop atau in house training (IHT) dengan mengadopsi Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). Jika selama ini UPPKS identik dengan kegiatan Sumber Daya Alam (SDA) yang berhubungan dengan usaha mikro, tidak ada salahnya jika diadakan suatu tambahan kegiatan UPPKS dengan pemberdayaan sumberdaya manusia. Salah satunya pemberdayaan wanita khususnya bagi calon ibu.

Penataan kependudukan diawali dengan penataan keluarga. Kualitas kependudukan ditentukan oleh kualitas keluarga. Keluarga berkualitas dibentuk dari orang tua berkualitas. Inilah kunci peningkatan kualitas kependudukan dalam menajemen negara. Jika semua keluarga bertekad untuk berencana, andai semua ibu bersemangat menjadi IMUT, sekiranya pemerintah secara total mendukung pemberdayaan massal yang berorientasi kepada pembangunan sumberdaya manusia seutuhnya maka bukan tidak mungkin Indonesia segera mempunyai penduduk yang berkualitas.

 

*pustakawati perwakilan BKKBN Prov. Kalbar