ERA BONUS DEMOGRAFI: TANTANGAN DAN KESEMPATAN

No comment 687 views

(Disampaikan oleh Prof. Dr. Haryono Suyono, MA, Ph.D pada Seminar Nasional Bonus Demografi yang diselenggarakan oleh BKKBN dan YMIC di Jakarta pada tanggal 27 April 2015)

Bonus demografi adalah keuntungan dari melimpahnya tenaga muda yang jumlahnya besar sebagai hasil dari penurunan tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi di suatu negara, provinsi, atau kabupaten/kota yang mendorong kenaikan jumlah penduduk usia produktif. Era bonus demografi merupakan suatu periode terjadinya ledakan penduduk usia produktif yang bisa menopang penduduk usia non-produktif, biasanya berlangsung 20-30 tahun. Pada era ini, fertilitas menurun dan rendah (jumlah anak mulai menurun), jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun relatif rendah, jumlah penduduk diatas usia 65 tahun belum tinggi, dan angka ketergantungan mulai menurun pada posisi dibawah angka 50.

Keberhasilan gerakan Keluarga Berencana (KB), kesehatan dan pembangunan selama tahun 1982-1999 yang telah menurunkan angka kelahiran dan angka kematian dengan signifikan mengantar Indonesia memasuki era bonus demografi sejak tahun 1990 dengan cepat. Empat jalan menuju bonus demografi:

  1. Jumlah penduduk usia produktif bertambah besar dan jumlah tenaga kerja meningkat.
  2. Penduduk yang bekerja lebih banyak dan tanggungannya lebih sedikit sehingga meningkatkan tabungan nasional.
  3. Perlakuan yang benar terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendorong partisipasi angkatan kerja yang lebih besar.
  4. Peningkatan kebutuhan dan serapan pasar akan produksi domestik.

Singkatnya, penduduk usia produktif yang masuk dalam pasar kerjalah yang akan menghasilkan bonus demografi. Sebaliknya bila mereka tidak terserap oleh pasar kerja, maka bonus demografi tidak terjadi.

Indonesia terdiri dari berbagai wilayah dengan struktur dan ciri demografi yang berbeda-beda, karena itu masuknya suatu daerah ke era bous demografi waktunya tidak seragam. Daerah dengan Prgram KB, kesehatan dan pembangunan yang berhasil masuik era bonus pada tahun 1990-an; daerah lain baru akan masuk era bonus pada tahun 2030-2040. Bonus demografi terjadi pertama-tama di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Banyak kejadian bahwa suatu kabupaten/kota mendahului memasuki era bonus demografi dibanding datangnya era bonus itu pada tingkat provinsi. Bisa juga bonus itu datang sangat lamban karena suatu kabupaten dengan jumlah penduduk besar belum memasuki era bonus. Oleh karena itu, setiap provinsi dan kabupaten/kota harus waspada dan menyiapkan  manajemen kependudukan secara cermat dan sungguh-sungguh.

Pembangunan padat tenaga bisa merangsang suatu daerah untuk memasuki bonus demografi karena banyak tenaga kerja yang diserap pembangunan. Sebaliknya daerah yang lamban menyerap tenaga muda akan kehilangan kesempatan untuk memasuki era bonus demografi. Banyak daerah industri yang memasuki era bonus demografi lebih dulu karena proses migrasi tenaga kerja yang diserap oleh industri. Banyak juga daerah yang akan memasuki era bonus demografi pada tahun 2040 atau bahkan tahun 2050 karena daerahnya gagal dalam Program KB dan Kesehatan, miskin, dan pembangunan tidak kondusif sehinbgga penduduk dewasa banyak pindah ke daerah lain. Setiap provinsi perlu waspada untuk mendapatkan SDM potensial agar bisa menggali kekayaan daerahnya.

Ada dua intervensi yang harus dilakukan secara terpadu dalam mensikapi era bonus demografi ini. Pertama, sebagian besar penduduk usia produktif terdiri dari penduduk dengan pendidikan rendah sehingga perlu intervensi yang memihak keluarga sederhana. Kedua, kelompok menengah dan atas perlu diajak tetap berada dalam posisi angkatan kerja, ikut membangun pertumbuhan ekonomi, disertai kepedulian terhadap sebagian besar penduduk usia produktif yang keadaannya tertinggal.

Ukuran keberhasilan intervensi dan dukungan pembangunan untuk memanfaatkan bonus adalah partisipasi penduduk angkatan kerja, utamanya penduduk muda. Sasaran utama adalah penduduk usia 25-35 tahun dengan pendidikan sampai tingkat SMP dan SMA, utamanya remaja perempuan, baik yang sudah menikah atau yang masih lajang. Persiapan yang perlu dilakukan menyangkut pemberian keterampilan agar semua yang telah mengikuti pendidikan tetap berada pada posisi angkatan kerja dan bekerja atau melakukan kegiatan usaha. Harus ada upaya pencegahan agar anak muda tidak berakhir sebagai ibu rumah tangga semata atau ikut istri. Anak muda suatu daerah yang bersekolah ke daerah lain diminta kembali dan membangun daerahnya. Ini penting agar tidak merangsang anak muda lainnya untuk pindah ke daerah lain.

Dari sisi ekonomi, perlu dikembangkan industri kreatif dan padat tenaga yang bisa menampung tenaga ahli dan terampil agar memberikan kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Usaha ekonomi harus dilakukan secara seimbang antara usaha padat modal dan usaha padat teknologi dengan usaha padat tenaga kerja.

Selain itu, diperlukan komitmen politik untuk mengarahkan pembangunan pada pemanfaatan SDM yang melimpah. SDM yang melimpah harus menjadi pemeran pembangunan, bukan sekedar menjadi konsumen dari produk asing. Komitmen politik perlu diwujudkan dalam program dan kegiatan kerja nyata. Komitmen politik harus konsisten sampai ke tingkat akar rumput karena lebih dari separuh penduduk usia produktif ada di desa.

Penduduk usia produktif tersebar di kota dan desa sehingga pemanfaatan SDM harus dilaksanakan melalui jaringan yang kuat di kota dan di desa. Jaringan itu harus berkonsentrasi pada penduduk dan keluarga. Ukuran keberhasilan jaringan adalah jumlah penduduk atau keluarga yang berpartisipasi dan dilayani.

Program pembangunan yang ditawarkan hendaknya bukan saja pro poor tetapi poor families dijadikan partisipan aktif. Intervensi Program KB dan Kesehatan menjadmin keluarga miskin menjadi kontributor dalam era bonus demografi. Keluarga miskin harus menjadi prioritas pendidikan dan pelatihan untuk bekerja, sehingga akan mempercepat upaya pengentasan kemiskinan.

Prioritas pendidikan dan pelatihan untuk kaum perempuan harus pula ditingkatkan untuk mengurangi kesenjangan gender. Prioritas pada perempuan ini juga dapat membantu menurunkan kematian anak karena ibu yang terdidik akan lebih mampu menjaga kesehatan diri semasa kehamilan dan kesehatan anak yang akan dilahirkannya melalui asupan nutrisi yang memadai dan seimbang. (ypi)