Gambaran Keluarga Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungp

Category : BERITA

Oleh: Arif Wicaksono1), Nawangsari2)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas Kepala Keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1998). Keluarga inti merupakan suatu tatanan yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Pemerintah menganjurkan secara nasional melalui BKKBN dengan slogannya yaitu 2 anak cukup atau 2 anak lebih baik(BKKBN, 2013); sejatinya dalam keluarga inti hanya terdapat empat orang individu yang dipercaya kan mengoptimalkan fungsinya satu sama lain.

Bagaimana program pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah? Apakah sudah mencapai target? Dan apakah sudah berhasil? Data dari profil data kesehatan kesehatan Indonesia tahun 2011 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI menujukkan bahwa 75,96 % dari seluruh pasangan usia subur di Indonesia merupakan peserta KB aktif ( profil Indonesia sehat 2011, 2012). Kita lihat lebih dalam lagi untuk tingkat provinsi, di Kalbar terdapat 70,88 % peserta KB Aktif, angka yang sudah cukup baik.

Jika kita tilik lebih lanjut, faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada keputusan keluarga untuk berKB adalah faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal yang berperan biasanya adalah jarak, aksesibilitas pada pelayanan kesehatan (KB), petugas kesehatandan fasilitas kesehatan. Faktor internal dapat berupa adat, kebiasaan maupun dorongan atau saran dari orang-orang terdekat yangdapat mengubah atau menambah pengetahuan, sikap dan perilaku sesorang dalam suatu pelayanan kesehatan( Notoadmodjo, 2003).

Data yang didapatkan dalam rangka profil umum mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada Angkatan 2013 memperlihatkan hal yang cukup unik. Data dari seluruh mahasiswa pada angkatan tersebut diambil yaitu sebanyak 85 orang, hanya 27 orang (31,77 %) saja yang bersaudara dua. Ada mahasiswa yang 5 bersaudara , 6 bersaudara bahkan 10 bersaudara dalam keluarganya.

Berikut sebaran jumlah anak dalam keluarga mahasiswa :

Tabel 1. Jumlah anak dalam keluarga (Data Primer, 2013)

No

Jumlah anak

Frekwensi

Persentase

1

1

3

3,53

2

2

24

28,24

3

3

36

42,35

4

4

13

15,29

5

5

5

5,88

6

6

3

3,53

7

10

1

1,18

 

 

85

100

Paling banyak adalah 3 bersaudara yaitu 36 orang(42,35 %), diikuti dua bersaudara 24 orang (28,24 %), 4 bersaudara 13 orang (15, 29 %), 5 bersaudara 5 orang (5,88 %), anak tunggal dan 6 bersaudara masing-masing 3 orang (3,53 %) dan 10 bersaudara 1 orang (1,18 %).

Kesehatan reproduksi prima dapat dimiliki dengan menghindari kehamilan 4 terlalu. Kehamilan 4 terlalu adalah terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat dan terlalu banyak( BKKBN, 2007). Untuk kasus di atas, dapat terjadi dua kehamilan terlalu, yaitu terlalu dekat dan terlalu banyak, serta tidak menutup kemungkinan terjadinya kehamilan terlalu muda atau terlalu tua. Dalam kasus ada yang mencapai 10 kelahiran, yang berarti terlalu banyak.

Kehamilan terlalu banyak sebaiknya tidak terjadi karena akan menyebabkan berkurangnya waktu ibu untuk menyusui dan merawat bayi, perkembangan anak tidak optimal dan bisa menambah beban ekonomi keluarga. Lebih jauh lagi, anak bisa mngalami kurang gizi, kurang perhatian dari orang tua dan bahkan putus sekolah( BKKBN, 2007).

Peneliti kemudian menanyakan lebih lanjut mengenai suku asal dari orang tua mahasiswa, dan didapatkan data bahwa mahasiswa yang 10 bersaudara  merupakan keturunan orang cina. Mahasiswa yang 6 bersaudara; 2 dari keturunan melayu dan 1 dari keturunan bugis. Apakah ada hubungan antara suku dan julah keturunan? Hal ini dapat dikaji lebih jauh sehingga dapat berguna untuk pendekatan secara etnis.

Asal atau suku dari mahsiswa bermacam-macam sesuai dengan jalur masuk, bisa dari Kalbar atau dari luar Kalbar. Hanya terdapat 6 mahasiswa yang berasal dari luar Kalbar ada angkatan ini dan dari 6 mahasiswa, hanya 1 yang 2 bersaudara, selebihnya 3-5 bersaudara. Artinya adalah bahkan kejadian mahasiswa kedokteran dengan jumlah anak di atas dua pun terjadi di provinsi lain di Indonesia.

Kembali fokus untuk mahasiswa yang berasal dari Kalbar, Mahasiswa yang memiliki atau hidup dalam keluarga inti yang besar mempunyai tantangan dan potensi mereka sendiri. Walaupun kebiasaan dalam keluarga merekalah yang sampai membuat mereka seperti ini, tetapi dalam perjalanan waktu saat mereka belajar dalam perkuliahan maupun praktek lapangan, mereka akan dapat memahami dan memaknai akan hakikat KB, yang bukan tidak mungkin merekalah yang akan menjadi penyuluh untuk masyarakat di daerah mereka, untuk keluarga mereka dan untuk diri mereka sendiri.

Mahasiswa kedokteran sebagai calon dokter di masa yang akan datang, akan melakukan beberapa langkah dan tindakan sesuai Millenium Development Goals (MDGs) di bidang kesehatan yang mana masih mengutamakan kesehatan ibu dan anak. Bagaimana kesehatan si ibu dan si anak jika dihadapkan pada kehamilan yang terlalu banyak dan dapat terjadinya kurang gizi pada keluarga yang kurang mampu(SKDI, 2012).

Perilaku profesional seorang dokter diharapkan berwawasan sosial-budaya sehingga dapat mengenali sosial-budaya-ekonomi masyarakat yang dilayani, menghargai perbedaan persepsi yang dipengaruhi oleh agama, usia, gender, etnis dalam menjalankan praktik kedokteran dan bermasyarakat.

Pada tahun belakangan ini banyak berita mengenai dokter keluarga, yang juga merupakan salah satu fungsi dokter sebagai pelayanan primer pada masyarakat. Sebagai dokter keluarga, dokter harus dapat menggunakan komunikasi efektif dengan baik, membangun hubungan dengan komunikasi verbal dan non verbal, berempati, menjadi pendengar yang baik, menunjukkan kepekaan terhadap biopsikososiokultural dan spiritual pada pasien dan keluarga dan dapat menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang santun, baik dan benar(SKDI 2012).

Pembangunan kesehatan tak pelak dapat dicapai dengan kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Mahasiswa kedokteran diharapkan dapat menjadi pioneer, menjadi contoh, ditambah lagi dengan pengalaman mereka sendiri sebagai anak dalam keluarga besar, sehingga dapat membantu program pemerintah, program Keluarga Berencana di daerah mereka sendiri dan ikut menciptakan keluarga Indonesia yang sehat dan berkualitas.

Avatar for

Author: 

Related Posts

Leave a Reply