Sitename

Description your site...

Implementasi di Lapangan sebagai tolak ukur Keberhasilan Pelatihan

Implementasi di Lapangan sebagai tolak ukur Keberhasilan Pelatihan

(Pontianak) Sebagai rangkaian tindaklanjut pelatihan, implementasi lapangan atas materi yang diperoleh selama pelatihan adalah suatu hal yang sangat penting bagi peserta pelatihan. Hal tersebut digunakan untuk mengukur apakah materi yang diterima selama pelatihan dapat diterima dan dilaksanakan dalam kehidupan nyata di lapangan. Artinya, setelah peserta kembali ke daerah masing-masing, materi tersebut dapat dipergunakan sebaik-baiknya serta menindaklanjutinya sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing dan tentunya harus disertai rasa tanggung jawab. Materi yang sekiranya belum bisa dipahami selama pelatihan, harus ditanyakan agar menjadi jelas. Demikian yang disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalimantan Barat, Ny. Frederika Cornelis, S.Pd dalam pembukaan kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM BKB Holistik Integratif bagi SKPD KB, PLKB, Kader Pintar dan Mitra Kerja di Aula Kencana Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, rabu (29/4). Menurutnya, berbicara tentang Sumber Daya Manusia adalah persoalan yang sangat panjang, apalagi dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, karena prosesnya diawali dari masa sebelum menikah, selama kehamilan, kelahiran, anak-anak sampai seseorang memasuki usia dewasa.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, Mustar, SE, MM yang turut mendampingi Ketua TP PKK Kalbar menjelaskan bahwa hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan Sumber Daya Manusia seutuhnya dimana untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas harus dimulai sejak usia dini. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa periode lima tahun pertama kehidupan anak adalah masa emas dalam meletakkan dasar-dasar tumbuh kembang anak. Kualitas tumbuh kembang anak pada masa tersebut akan menentukan kualitas kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, kemampuan belajar dan perilaku sepanjang hidupnya. Untuk itu Mustar berharap adanya sinergi dan koordinasi dari semua elemen masyarakat dalam rangka mewujudkan hal tersebut. Selain itu Mustar juga berharap bahwa kegiatan yang akan dilakukan kali ini dapat menjadi daya ungkit dan daya dorong dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga serta masyarakat. Kepala Perwakilan BKKBN menambahkan bahwa pola pengasuhan anak dan kunjungan petugas ke masyarakat saat ini dirasakan masih rendah. Angka kunjungan petugas di Kalbar hanya sekitar 14 persen, sementara indeks pengasuhan balita dan anak prasekolah Kalbar masih berada pada posisi 27 secara nasional, masih rendah dari rata-rata yakni 52. Terkait Bonus Demografi yang akan dimasuki Kalbar mulai 2025 mendatang, Mustar berharap bahwa kondisi tersebut akan menjadi titik kemajuan di Kalimantan Barat.

Selaras dengan kegiatan yang dilakukan kali ini, Perpres no. 60 tahun 2013 tentang Pengembangan Anak usia Dini Holistik Integratif, menerangkan bahwa kegiatan pelayanan holistik integratif dilakukan dengan mencakup semua kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait, yakni: pertama, aspek perawatan, kesehatan dan gizi melalui Posyandu, aspek kedua yakni pendidikan yang dilakukan melalui PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini, dan aspek ketiga, pengasuhan melalui Bina Keluarga Balita atau BKB. “Pola asuh dan tumbuh kembang anak penting dalam kehidupan masyarakat”, jelas Mustar. Selain itu, BKB Holistik Integratif yang dibangun BKKBN memang tidak terlepas kaitannya dengan kesertaan ber-KB para anggotanya. Saat ini sudah 75 persen anggota BKB yang ikut ber-KB. Sekali lagi Mustar berharap bahwa kegiatan yang dilakukan kali ini dapat bergulir dan berkelanjutan di masyarakat, sehingga secara tidak langsung kesertaan ber-KB di masyarakat juga akan semakin meningkat. (tan)

Tags:

No Responses

Leave a Reply