Sitename

Description your site...

Indikator KB Hasil Susenas 2015 Dalam Kwadran

Indikator KB Hasil Susenas 2015 Dalam Kwadran

Artikel ini membahas hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015. Posisi 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat berdasar indikator KB dipetakan dalam tiga kwadran. Kwadran pertama memetakan capaian TFR dan CPR dari 14 kabupaten/kota dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Barat. Kwadran kedua menggambarkan posisi 14 kabupaten/kota dalam CPR dan MKJP. Sedangkan kwadran ketiga menunjukkan posisi 14 kabupaten/kota dalam hal TFR dan ASFR 15-19 tahun.

cpr-kwadran

Gambar diatas memperlihatkan sebaran 14 kabupaten/kota dalam kwadran TFR dan CPR. TFR merupakan singkatan dari Total Fertility Rate yang berarti Angka Kelahiran Total. Angka ini menggambarkan banyaknya jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan di suatu wilayah selama masa reproduksinya (usia 15-49 tahun). Sementara CPR yang merupakan singkatan dari Contraceptive Prevalence Rate, atau Angka Pemakaian Kontrasepsi.

CPR Kalimantan Barat menurut hasil Susenas 2015 adalah 65,4%. Angka ini berarti bahwa 65,4% dari seluruh Pasangan Usia Subur (PUS) di Kalimantan Barat menggunakan alat kontrasepsi modern. Dan angka kelahiran total di Kalimantan Barat adalah 2,335, yang berarti bahwa setiap perempuan usia subur di Kalimantan Barat rata-rata memiliki dua anak.

Kwadran I ditempati oleh Kabupaten Bengkayang dan Kayong Utara dengan CPR dan TFR yang lebih tinggi dibanding CPR dan TFR Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan Bengkayang TFR-nya adalah yang tertinggi di Kalimantan Barat, disusul oleh Singkawang dan Sambas. Terdapat 6 kabupaten/kota dengan TFR lebih tinggi dari TFR Kalimantan Barat.

Kwadran II diduduki oleh Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Mempawah, dan Kubu Raya dengan TFR yang lebih tinggi dari TFR provinsi, namun CPR-nya lebih rendah dari CPR provinsi. Kwadran II ini merupakan prioritas garapan Program KB. Sosialisasi dan pelayanan KB harus lebih dioptimalkan untuk menaikkan angka pemakaian kontrasepsi di keempat kabupaten tersebut, sehingga diharapkan TFR-nya akan mengalami penurunan.

Ada lima kabupaten/kota dengan CPR yang lebih rendah ketimbang CPR Kalimantan Barat, yakni: Sambas, Mempawah, Kubu Raya, Singkawang, dan Pontianak. Kota dengan CPR terendah adalah Kota Pontianak (53,5). Rendahnya CPR dan TFR di Pontianak, menempatkan kota ini di Kwadran III. Sementara 7 kabupaten lainnya berada di kwadran IV.

cpr-mkjp-kwadran

Pemakaian kontrasepsi di Kalimantan Barat masih sangat didominasi oleh penggunaan alkon hormonal dan jangka pendek seperti suntikan dan pil. Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) masih sangat rendah. Metode kontrasepsi hormonal dan jangka pendek masih menjadi primadona di sebagian besar kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Penggunaan MKJP tertinggi adalah di Kota Pontianak, 14,7% PUS yang ber-KB di kota ini menggunakan MKJP. Persentase pengguna MKJP di Kayong Utara, Bengkayang, dan Kubu Raya lebih besar dari persentase pengguna MKJP di seluruh Provinsi Kalimantan Barat.

kwadran-tfr-asfr

Satu hal yang merupakan prestasi Kabupaten Mempawah dibandingkan 13 kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kalimantan Barat adalah sedikitnya jumlah ibu usia 15-19 tahun yang melahirkan. Namun rendahnya jumlah ibu yang melahirkan usia 15-19 tahun tidak dibarengi dengan rendahnya TFR. Sementara tingginya TFR di Bengkayang agaknya sebagian besar disebabkan oleh tingginya angka kelahiran pada ibu usia 15-19 tahun.

Sembilan kabupaten/kota memiliki ASFR 15-19 tahun yang lebih tinggi dari ASFR 15-19 tahun di Provinsi Kalimantan Barat. Data ini mengindikasikan bahwa Program Generasi Berencana (Genre) masih sangat perlu digelorakan di Kalimantan Barat. Tidak hanya remajanya yang harus disosialisasi mengenai pentingnya Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), orangtua dan keluarga yang memiliki remaja juga perlu diberikan sosialisasi PUP. (ypi)

No Responses

Leave a Reply