Sitename

Description your site...

Kapasitas Lahan dan Masa Pakai TPA Batu Layang

http://www.kependudukankalbar.com/wp-content/uploads/2016/11/tpa.jpg

Pontianak, 19 November 2016 Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat mengadakan Sosialisasi hasil penelitian tentang Analisis Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap Kapasitas Lahan dan Masa Pakai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Layang Kota Pontianak.  Acara sosialisasi ini dibuka  Oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat Drs. Kusmana. Hadir sebagai narasumber Laili Fitria Dosen Tekhnik Lingkungan Universitas Tanjungpura Pontianak, sekaligus sebagai peneliti dan penulis kajian tersebut.

Selain jajaran Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, acara tersebut dihadiri beberapa utusan lintas sektor  diantaranya; Ketua Koalisi Kependudukan Kalimantan Barat Meiran Panggabean, utusan Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Tanjungpura Ibu Rini, Ketua Provincial Working Group Kalimantan Barat Aida Mokhtar, Ketua Koalisi Muda Kependudukan Kalimantan Barat Siti Masdah, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak Awang Widayan, Kabid Revitalisasi Lingkungan dan Pengembangan Kapasitas Badan Lingkungan Hidup Bapak Riyanto Basuki, Utusan Bappeda Kota Pontianak, Dosen Kesehatan Lingkungan Poltekes Pontianak, utusan Wahana Visi Indonesia,  aktivis pemerhati sampah di Pontianak, pengelolah sampah “Rosela” kota Pontianak, utusan GenRenger Kalimantan Barat dan beberapa mahasiswa dari Politeknik Negeri Pontianak dan Universitas Tanjupungpura Pontianak.

Dalam paparannya Laili menyatakan bahwa penelitian ini dilatar belakangi oleh pertumbuhan penduduk di kota Pontianak yang cenderung meningkat dari tahun ketahun sehingga dimungkinkan akan berpengaruh pada jumlah timbulan sampah yang ada di Kota Pontianak.  Hal ini wajar karena   Kota Pontianak sebagai ibu Kota Kalimantan Barat, memiliki ketersediaan sarana prasarana yang paling memadai dibanding 13 kabupaten/kota di Pontianak.  Mulai dari akses Pendidikan, lapangan pekerjaan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum lainnya yang belum dipunyai oleh kabupaten/kota lainnya, sehingga penduduk di kabupaten/kota lainnya banyak yang berpindah ke Kota Pontianak untuk mendapatkan akses tersebut.

Laili menjelaskan bahwa, penelitiannya memiliki 4 (empat) tujuan utama yaitu; mengetahui jumlah timbulan sampah dan proyeksi timbulan sampah penduduk Kota Pontianak,  mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan oleh penduduk Kota Pontianak, mengetahui kapasitas lahan yang tersisa dan masa pakai TPA Batu Layang Kota Pontianak dengan pelayanan eksisiting, dan untuk mengetahui masa pakai TPA Batu Layang jika dilakukan program 3R (Reuse, Reduce dan Recycle).

Penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer. Data sekunder meliputi profil TPA Batu Layang berupa kondisi eksisting sel yang masil aktif di TPA Batu Layang serta tingkat pelayanan TPA Batu Layang yang diperoleh peneliti dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak dan data jumlah penduduk yang diperoleh dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Pontianak Tahun 2016. Adapun data primer diperoleh dari pengambilan sampel lapangan yang meliputi 6 kecamatan di Kota Pontianak. Data yang diambil berupa timbulan sampah dan komposisi sampah, dan pengambilan sampel dilakukan selama 8 hari berturut turut.

Setelah dilakukan penelitian, maka diperoleh hasil sebagai berikut, Pertama; jumlah timbulan sampah tiap orang di Kota Pontianak sebesar 0,610 kg/orang/hari atau 0,00246 m3/orang/hari. Dengan jumlah penduduk sebanyak 652.325 orang, maka timbulan sampah di Kota Pontianak mencapai 397.952,733 kg/hari. Dengan satuan volume mencapai 1.605,423 m3/hari. Maka di proyeksikan timbulan sampah di Kota Pontianak pada Tahun 2025 sebesar 510.462,92 kg/hari. Penghitungan timbulan sampah tersebut, dihitung berdasar SNI. Kedua, komposisi sampah yang dihasilkan oleh penduduk Kota Pontianak meliputi 80,3 % organik, 17% anorganik dan 2,6% B3.  Ketiga, Kapasitas lahan yang tersisa tahun 2015 mencapai 12,01 Ha. Pada tahun 2016 mencapai 0,16 Ha. Maka masa pakai TPA Batu Layang Kota Pontianak dengan tingkat pelayanan eksisiting hingga akhir tahun 2016. Keempat, masa pakai TPA Batu Layang hingga tahun 2017 jika dilakukan program 3R dengan reduksi sebesar 50% pada sumbernya.

Memerhatikan hasil penelitian tersebut diatas maka, Laili mengajukan 6 (enam) saran antara lain; diperlukan rencana pengembangan penanganan sampah jangka panjang berupa penyiapan lokasi TPA baru yang sesuai dengan rencana tata ruang Kota Pontianak, perlu adanya metode operasi TPA di Kota Pontianak dengan melakukan lahan urug saniter (sanitary landfill) karena Kota Pontianak merupakan kota besar yang berpenduduk lebih dari 500.000 jiwa, mengingat masa pemakaian berdasar hasil penelitian hanya mencapai tahun 2016 maka diperlukan penanganan sampah dengan 3R melalui Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu, diperlukan kebijakan dan strategi dari Pemerintah Kota Pontianak dalam pengelolaan sampah sehingga dapat mengurangi timbulan sampah dan prioritas jenis sampah secara bertahap dalam kurun waktu tertentu, Pemerintah Kota Pontianak dapat  memberi insentif kepada orang yang melakukan pengurangan sampah dan disinsentif kepada orang yang tidak melakukan pengurangan sampah, yang terakhir adalah diperlukan pendampingan dari pemerintah dan peran serta masyarakat dalam program 3R berupa pemberian pendidikan dan pelatihan, kampanye dan pendampingan oleh kelompok masyarakat dalam upaya pengelolaan sampah untuk mengubah perilaku anggota masyarakat.

Penelitian tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena sejauh ini belum ada penelitian mengenai dampak pertumbuhan penduduk terhadap kondisi lingkungan khususnya Kapasitas Lahan dan Masa Pakai TPA di Kota Pontianak.  Ketua Koalisi Kependudukan Kalimantan Barat Meiran Panggabean menyatakan bahwa perlu ada penelitian/kajian terkait dampak pertumbuhan penduduk terhadap persoalan-persoalan yang ada di masyarakat khususnya di Kota Pontianak. Hal senada juga dinyatakan oleh hampir semua utusan dari lintas sektor yang hadir. Oleh karena itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat Drs. Gugus Suprayitno menyatakan bahwa BKKBN akan terus bersinergi dengan pemerhati demografi dan peneliti-peneliti lainnya untuk terus mengadakan penelitian dan kajian terkait dampak pertumbuhan penduduk dimasa yang akan datang. (rien)

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.