Sitename

Description your site...

Keluarga berencana menyelamatkan jiwa! Bagaimana caranya?

Keluarga berencana menyelamatkan jiwa! Bagaimana caranya?

Program Keluarga Berencana (KB) secara langsung menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui penurunan jumlah kelahiran. Program KB berusaha meningkatkan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS, yaitu pasangan suami istri yang istrinya berusia 15-49 tahun sehingga masih berada dalam masa reproduktif) yang menggunakan alat/obat kontrasepsi (alokon) guna mengatur kelahiran. Pengaturan kelahiran ini dapat bertujuan untuk mengatur jarak kelahiran atau membatasi jumlah kelahiran.

Jumlah pemakai kontrasepsi dalam istilah KB lazim disebut dengan Contraceptive Prevalence Rate (CPR). CPR ialah jumlah PUS yang menggunakan alokon modern (suntik, pil, kondom, implant, IUD, MOW, atau MOP) dibandingkan jumlah keseluruhan PUS dalam suatu wilayah. Peningkatan CPR diharapkan akan menurunkan jumlah kelahiran (Total Fertility Rate, TFR). Dengan banyaknya jumlah PUS yang menggunakan alokon (CPR tinggi), maka angka kelahiran akan menurun (TFR rendah), sehingga lebih sedikit jumlah bayi yang lahir. Dengan sendirinya, sedikitnya jumlah kelahiran akan menurunkan jumlah kematian bayi dan ibu akibat kehamilan, persalinan, dan masa nifas.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Program KB melalui peningkatan CPR akan mengurangi angka kematian anak? Dalam hal ini, terdapat banyak hal yang berperan dalam kelangsungan hidup seorang anak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kelangsungan hidup seorang anak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti: kondisi kesehatan ibu saat mengandung; masalah genetika; proses kelahiran; apakah anak itu memperoleh ASI atau tidak; pemberian nutrisi bergizi; imunisasi; dan pengasuhan. Program KB berperan dalam membantu orangtua mengatur jarak kelahiran sehingga dapat mengasuh dan merawat anak secara lebih baik. Orangtua dapat menyisihkan biaya untuk memperoleh perawatan antenatal, melahirkan dengan pertolongan tenaga kesehatan, menyediakan nutrisi, imunisasi, dan perawatan kesehatan yang dibutuhkan oleh seorang anak. Dengan sedikitnya jumlah anak yang dimiliki, orangtua bisa lebih memperhatikan tumbuh kembang anak sehingga kelangsungan hidup anak lebih terjamin.

Program KB menurunkan angka kematian anak melalui peningkatan angka pemakaian kontrasepsi (CPR) yang berakibat pada turunnya persentase kehamilan dan persalinan yang berisiko. Kehamilan dan persalinan yang berisiko adalah yang termasuk dalam 4T (empat terlalu): ibu hamil dan bersalin di usia yang terlalu muda atau terlalu tua, jarak kelahiran terlalu dekat, dan kelahiran terlalu sering. Penurunan persentase kelahiran yang berisiko dengan sendirinya akan menurunkan angka kematian anak.

Program Keluarga Berencana (KB) diasosiasikan dengan perubahan persentase persalinan yang berisiko. Analisis yang dilakukan oleh Stover dan Ross menunjukkan bahwa distribusi kelahiran menurut faktor risiko berubah saat TFR turun dari >7 menjadi <2. Perubahan terbesar adalah peningkatan proporsi persalinan anak pertama (cenderung meningkatkan angka kematian) dan penurunan proporsi kelahiran paritas tinggi dan berbagai faktor risiko (cenderung menurunkan kematian). Tidak banyak perubahan proporsi kelahiran dengan interval pendek (Stover dan Ross, 2013).

Jarak dan urutan kelahiran serta usia ibu saat melahirkan berhubungan dengan Angka Kematian Anak (AKA). Risiko kematian anak tertinggi terjadi pada lima kondisi: usia ibu kurang dari 18 tahun, interval kelahiran 24 bulan (jarak waktu persalinan dengan persalinan sebelumnya 24 bulan atau kurang), persalinan anak pertama, usia ibu lebih dari 34 tahun, dan persalinan anak ketiga atau lebih. Penelitian Stover dan Ross (2013) juga memperlihatkan bahwa risiko kematian anak semakin tinggi pada kondisi: (1) usia ibu lebih dari 34 tahun dengan interval kelahiran 24 bulan atau kurang; (2) usia ibu lebih dari 34 tahun dengan interval kelahiran 24 bulan atau kurang dan merupakan kelahiran anak ketiga keatas; (3) usia ibu kurang dari 18 tahun dengan jarak kelahiran kurang dari 24 bulan; (4) kelahiran anak ketiga atau lebih dengan interval kelahiran kurang dari 24 bulan; serta (5) usia ibu lebih dari 34 tahun dan melahirkan anak ketiga atau lebih. Analisis yang dilakukan oleh Kozuki dkk (2013) menyatakan bahwa jarak kelahiran yang terlalu pendek (kurang dari 24 bulan) akan mengakibatkan kelahiran prematur (sebelum waktunya).

Ibu dengan banyak anak atau jarak kelahiran yang sangat dekat tidak dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk merawat setiap anaknya sebanyak waktu yang mungkin dapat diluangkan oleh ibu dengan jumlah anak yang lebih sedikit dan jarak kelahiran yang lebih lama. Akibatnya, anak-anak tersebut mungkin kurang memperoleh perawatan yang memadai. Kondisi ini mungkin yang menyebabkan rendahnya penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan, untuk misalnya vaksinasi dan imunisasi, sehingga meningkatkan kematian anak.

Sumber: Stover, J, Sonneveldt, E, & Emmart, P, 2016, Family Planning Save Lives! How Does This Work?, January, disajikan dalam International Conference on Family Planning, Bali.

No Responses

Leave a Reply