Sitename

Description your site...

Kuantitas Penduduk Kota Pontianak

Kuantitas Penduduk Kota Pontianak

Buku Kota Pontianak dalam Angka 2013 (BPS Kota Pontianak 2013) menunjukkan bahwa jumlah pemakai alat kontrasepsi di Kota Pontianak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 terdapat 68,66% Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan alokon; meningkat menjadi 68,74% pada tahun 2010, dan pada tahun 2013 terdapat 69,16% PUS di Kota Pontianak yang ber-KB.
Angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) Kota Pontianak berdasar Sensus Penduduk 2010 adalah yang terendah kedua di Provinsi Kalimantan Barat setelah Kabupaten Melawi, sebesar 2,39 (Ichwanny 2012, hlm 26). Artinya setiap perempuan di Kota Pontianak pada tahun 2010 rata-rata akan melahirkan 2 orang anak selama masa reproduksinya apabila perempuan tersebut mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung. Sementara data SIAK Kemendagri (2014, hlm 26) menyatakan bahwa TFR Kota Pontianak pada tahun yang sama adalah 2,30. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua sumber data tersebut.
Berkaitan dengan banyaknya kelahiran per kelompok umur ibu (Age Specific Fertility Rate atau ASFR) di Kota Pontianak pada tahun 2010, BPS Provinsi Kalimantan Barat (dalam Ichwanny 2012, hlm 26) mengungkapkan bahwa puncak jumlah kelahiran terjadi pada ibu-ibu dalam kelompok umur 25-29 tahun. Sedangkan jumlah kelahiran pada kelompok umur 15-19 tahun terbilang rendah, yakni 17 kelahiran pada setiap 1000 orang perempuan usia 15-19 tahun di Kota Pontianak.
Kenyataan lain yang perlu mendapat perhatian adalah posisi Kota Pontianak dalam hal Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Meskipun IPM Kota Pontianak adalah yang tertinggi diantara 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat (74,64 pada tahun 2013, Bappeda Kota Pontianak 2014, hlm 42), IPM Kota Pontianak berada di peringkat ke-8 dari 9 kota di Pulau Kalimantan, dan yang terakhir adalah Kota Singkawang. Sedangkan dari 98 kota di Indonesia, IPM Kota Pontianak berada di posisi ke-87 (Bappeda Kota Pontianak 2014, hlm 42). Karena itu, perlu dilakukan pengendalian kuantitas penduduk di Kota Pontianak untuk membantu Pemerintah Kota Pontianak dalam meningkatkan kualitas penduduk Kota Pontianak secara optimal dengan sumber daya yang ada. Pengendalian kuantitas penduduk Kota Pontianak merupakan suatu upaya menata dan mengelola penduduk untuk mengubah penduduk dari beban pembangunan menjadi aset pembangunan yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sehingga kesejahteraan masyarakat Kota Pontianak dapat terwujud.
Selain komponen fertilitas, pengendalian kuantitas penduduk tidak lepas dari komponen mortalitas (kematian) dan migrasi atau mobilitas penduduk (perpindahan dan persebaran penduduk). Ahli demografi menyatakan bahwa pada saat angka kematian bayi tinggi, maka orangtua cenderung untuk memiliki lebih banyak anak. Sedangkan disaat kondisi kesehatan makin membaik dan anak memiliki peluang yang lebih besar untuk hidup, dengan kata lain angka kematian bayi rendah, orangtua mulai membatasi jumlah anak yang dilahirkan. Para demografer juga menyatakan bahwa penduduk pendatang cenderung memiliki anak yang lebih sedikit dibanding penduduk asli.
Hasil sensus penduduk 2010 memperlihatkan bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) di Kota Pontianak relatif kecil dibandingkan keempat belas kabupaten/kota lainnya, yakni 22 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup. Dan posisi terendah dalam hal AKB ditempati oleh Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak dengan 21 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup (Ichwanny 2012, hlm 30-31).
Angka Kematian Bayi (AKB) berbanding terbalik dengan Usia Harapan Hidup (UHH). Semakin rendah AKB, maka UHH semakin tinggi; dan sebaliknya, semakin tinggi AKB, maka UHH semakin rendah. UHH Kota Pontianak berdasar perhitungan BPS Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 71,36 tahun (Ichwanny 2012, hlm 33).
Data Sensus Penduduk 2010 juga menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) Kota Pontianak terbilang rendah diantara 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Terdapat 205 kematian ibu; baik ibu yang sedang hamil, bersalin, maupun dalam masa nifas; per 100.000 kelahiran hidup di Kota Pontianak pada tahun 2010 (Ichwanny 2012, hlm 32).
Data Sensus Penduduk 2010 (BPS 2013) menyebutkan bahwa Kota Pontianak adalah kota dengan migrasi masuk risen tertinggi di Provinsi Kalimantan Barat, disusul Kabupaten Kubu Raya. Sementara untuk migrasi seumur hidup, Kota Pontianak menduduki posisi kedua setelah Kabupaten Kubu Raya. Sebanyak 7,4% penduduk Kota Pontianak adalah migran, yakni penduduk pendatang dalam lima tahun terakhir (migrasi risen). Prosentase penduduk Kota Pontianak yang berstatus migran seumur hidup adalah 28% pada tahun 2010. Artinya ada 28% penduduk Kota Pontianak yang dilahirkan di daerah lain.
Persebaran penduduk di Kota Pontianak sendiri boleh dibilang tidak merata. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketimpangan kepadatan penduduk di tiap kecamatan sebagaimana terlihat pada gambar 4.1. Persebaran penduduk yang tidak merata disertai tingginya kepadatan penduduk di Kota Pontianak dapat menjadi kendala dalam proses pembangunan Kota Pontianak. (ypi)

No Responses

Leave a Reply