KUNCI KELUARGA HARMONIS TERLETAK DALAM PENYESUAIAN

No comment 1363 views

Seperti kita tahu bahwa pernikahan adalah bersatunya dua individu yang mempunyai karakter yang berbeda, dan memiliki latar belakang adat budaya yang berbeda dalam satu ikatan yang sah. Meskipun telah mengambil keputusan menikah, tidak otomatis dapat menyatukan perbedaan yang ada dalam masing-masing individu. Akan tetapi adanya kesamaan tujuan akan dapat membuat individu untuk berusaha saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing agar tujuan pernikahan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dapat tercapai (pasal 1, UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974).
Semua orang yang membentuk rumah tangga sudah pasti ingin rumah tangga yang dibentuk berjalan harmonis sampai dengan maut memisahkan, semua permasalahan yang menimpa dapat diatasi bersama tanpa harus mengorbankan kebahagian masing-masing pihak baik suami maupun istri. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa perceraian banyak terjadi dikalangan masyarakat indonesia saat ini, dan dari tahun ketahun menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan dalam acara “Seminar Membangun Ketahanan Keluarga di Tengah Krisis dan Tingginya Gugat Cerai” yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional di Jakarta pada bulan desember 2013, dinyatakan bahwa angka perceraian di Indonesia merupakan yang tertinggi se Asia Pasifik (http.okezone.com).
Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya perceraian, salah satunya adalah stres yang dialami oleh istri. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Farida pada tahun 2014 di Makassar menyatakan bahwa faktor internal (kondisi psikologis) menyumbang 48%, sedangkan faktor eksternal seperti suami, ekonomi, dan anak masing-masing menyumbang 38%, 34% dan 30% (http.unm.ac.id). Jika kita cermati hasil penelitian tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa sumber yang paling dominan menyebabkan stres pada istri dalam rumah tangga, adalah kondisi psikologis istri.
Menurut Dra. Roslina, Psikolog yang menjadi pembicara dalam Forum Ibu Bijak pada pertemuan yang berlangsung pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 2015 di Pendopo Resto Pontianak dinyatakan bahwa stres pada ibu/istri disebabkan oleh tidak adanya “penerimaan” dalam diri individu. Penerimaan yang dimaksud disini adalah penerimaan istri akan perannya sebagai istri, ibu, menantu yang semuanya mempunyai konsekuensi pada penyesuaian diri individu terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan.
Penyesuaian diri terhadap tugas dan tanggung jawab terhadap peran wanita sebagai istri, memegang peranan yang sangat penting dalam mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2014), penyesuaian dalam perkawinan berlangsung dalam empat tahap antara lain penyesuaian diawal pernikahan, penyesuaian sebagai orang tua, penyesuaian di masa dewasa madya dan penyesuaian dimasa dewasa akhir.
Pertama, penyesuaian diawal pernikahan yang dilakukan oleh seorang istri adalah mengenali karakter suaminya yang sebenarnya. Lamanya masa pengenalan karakter yang dilakukan oleh dua sejoli saat pacaran tidak lantas menyebabkan istri atau suami terhindar dari fase kritis penyesuaian diri pada awal pernikahan. Hal ini dapat diamati dari banyaknya kasus perceraian yang ada disekeliling kita, yang mana mereka yang memilih cerai justru mereka yang sudah berpacaran bertahun-tahun bahkan ada yang sudah mencapai sepuluh tahun tapi ketika menikah usia pernikahan mereka tidak lebih dari satu tahun. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh ketidakberhasilan mereka mengatasi fase kritis penyesuaian pada awal pernikahan. Tidak jarang istri/suami menginginkan pasangannya mengubah kebiasaan dan mengikuti keinginan istri/suami. Kondisi ini akhirnya menyebabkan istri/suami tidak dapat leluasa untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai karakter dirinya yang sebenarnya. Kondisi ini apabila berlangsung terus menerus, maka akan menyebabkan tekanan pada masing-masing individu yang merasa tertindas haknya. Kondisi Ini merupakan salah satu contoh tidak adanya penerimaan pada kelebihan dan kekurangan pasangan, sehingga menggagalkan penyesuaian diri yang dilakukan individu.
Selain penyesuaian terhadap karakter suami, seorang istri juga harus dapat menyesuaikan diri dengan keluarga suami terutama bagi para istri yang setelah menikah tinggal satu rumah dengan keluarga suami. Seorang istri harus dapat menyesuaiakan diri dengan mertua, saudara ipar ataupun saudara lain dari pihak suami. Penyesuaian ini akan makin sulit ketika istri berasal dari latar belakang adat budaya yang berbeda. Oleh karena itu, kesadaran untuk menumbuhkan sikap saling menghargai dan menerima perbedaan akan membantu istri untuk dapat berhasil dalam penyesuaian diri dengan keluarga suami. Ketidakberhasilan dalam penyesuaian diri dengan suami dan anggota keluarga suami menyebabkan kekecewaan, perasaan bingung, tertekan dan stres, sehingga menyebabkan konflik suami istri yang tidak jarang berakhir pada perceraian.
Kedua, penyesuaian menjadi orangtua. Setelah memasuki fase penyesuaian dengan pasangan dan keluarga pasangan, seorang istri dihadapkan pada penyesuaian menjadi orang tua. Sebagai orang tua terutama istri harus mampu memerankan diri menjadi ibu yang harus mengasuh dan mendidik anak. Pemahaman tentang pengasuhan anak pada saat akan memutuskan menikah sangat membantu dalam keberhasilan pengasuhan anak. Disisi lain suami juga dituntut untuk dapat menjadi patner yang baik dalam pengasuhan anak, terutama untuk istri yang mempunyai aktivitas diluar rumah (bekerja). Ketidakberhasilan istri untuk mengasuh anaknya dan tidak adanya dukungan suami dalam pengasuhan anak menyebabkan istri tidak mampu menyesuaiakan diri dalam perannya sebagai orang tua.
Ketiga, penyesuaian dimasa dewasa madya. Penyesuaian dimasa dewasa madya dilakukan setelah memiliki anak, atau dengan kata lain saat anaknya beranjak dewasa. Pada masa-masa ini biasanya pasangan (istri/suami) dituntut untuk dapat menjadi pengamat dan pendengar yang baik bagi pasangannya. Terutama untuk istri yang memiliki suami yang mempunyai kesibukan yang padat dalam pekerjaannya. Istri dituntut untuk menunjukkan perhatian yang lebih terutama dalam membantu menjaga stabilitas emosi suami dalam bekerja, meskipun istri juga seorang pekerja (karyawan) dan juga stabilitas emosi anak serta keluarga lain. Selain menjaga stabilitas emosi suami, istri juga harus menjaga stabilitas emosinya sehingga stabilitas emosi dalam rumah tangga terjamin.
Keempat, penyesuaian dimasa dewasa akhir. Penyesuaian dimasa dewasa akhir dalam sebuah perkawinan berkaitan dengan terjadinya perubahan fisik, mental, sosioemosional, masa pensiun, dan kematian pasangan. Penyesuaian dalam pernikahan selalu dilakukan pasangan sejak awal memasuki pernikahan sampai dengan maut atau talaq memisahkan. Penyesuaian mental dan sosioemosional pasangan pada masa dewasa akhir menjadi hal yang patut untuk diperhatikan. Mulai berkurangnya kemampuan fisik dan hilangnya peran dalam pekerjaan saat memasuki usia pensiun kadangkala dapat menjadi sumber permasalahan bagi keluarga. Kondisi ini dikarenakan adanya rasa ketidakberdayaan dan rasa “tidak berati” dalam diri suami yang menyebabkan dia merasa tidak dibutuhkan lagi dalam keluarga. Oleh karena itu peran istri dan anak dalam menunjukkan perhatian dan rasa hormat pada suami/ayah sangat dibutuhkan. Selain itu peristiwa kematian pasangan juga sangat berpengaruh pada stabilitas mental dan emosional pasangan yang ditinggalkan. Mereka butuh menyesuaikan diri untuk hidup sendiri tanpa ada orang yang selalu memberikan perhatian, meskipun disisi lain ada anak disampingnya akan tetapi kondisi mereka berbeda dengan anak.
Perkawinan yang dibangun dengan upaya penyesuaian diri kedua belah pihak dari awal pernikahan sampai dengan akhir pernikahan dapat mendorong terwujudnya keharmonisan dalam rumah tangga. Keberhasilan penyesuaian tergantung pada keikhlasan masing-masing pasangan untuk melepaskan ego pribadinya dan menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan.
Menurut Ny. Abbasuni yang merupakan istri dari salah satu mantan wakil Gubernur Kalimantan Barat di Era Orde Baru, wanita inspiratif yang menjadi narasumber dalam pertemuan Forum Ibu Bijak Pontianak (28/03/2015) menyatakan bahwa rumah tangga akan harmonis apabila masing-masing pihak baik suami maupun istri siap dan ikhlas menerima apa adanya dirinya dan pasangannya, serta mampu memposisikan diri dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri selain bersedia menerima kelebihan dan kekurangan suami, ia juga harus bersedia menerima kelebihan dan kekurangan keluarga suami terutama mertua dan adik/kakaknya. Tidak hanya menerima apapun kondisi suami dan keluarga, tetapi juga harus dapat menempatkan diri pada posisi yang seharusnya dikeluarga suami.
Lebih lanjut Ny Abbasuni, menuturkan bahwa kunci untuk dapat menerima mertua dan adik/kakak dari suami adalah dengan menanamkan kesadaran dalam diri bahwa keberhasilan yang dicapai oleh suami saat ini tidak dapat lepas dari jasa orang tuanya, yang telah mengasuh dan mendidik suami sampai menjadi orang yang saat ini menjadi pasangan kita. Selain itu seorang istri juga dituntut untuk dapat memahami posisinya dalam keluarga suami, ia harus pandai membuat batasan dalam dirinya sampai sejauh mana ia masuk dalam pusaran permasalahan keluarga suami. Apabila istri berhasil melakukan penyesuaian diri maka istri akan mudah diterima oleh keluarga suami sehingga mendukung terwujudnya keluarga yang harmonis. Sebaliknya apabila istri tidak berhasil menyesuaikan diri dengan keluarga suami maka akan menyebabkan kegelisaan dan ketegangan yang berujung pada stres.
Perlu diketahui bahwa Ny. Abbasuni adalah ibu dari tujuh orang anak, yang berhasil mendidik anak-anaknya sehingga menjadi anak-anak yang mandiri. Beliau menikah dengan Bapak Abbasuni, sejak awal pernikahannya beliau tinggal dengan orang tua, mertua, saudara ipar dan ponakan dari kedua belah pihak dalam satu rumah. Selama pernikahannya sampai dengan berpulangnya Bapak Abbasuni ke rahmatullah, hampir dipastikan bahwa tidak ada permasalahan keluarga yang bersumber dari konflik interpersonal dengan keluarga suami. Bahkan kehadiran orang tua, mertua, ipar dan ponakan sangat membantu dalam mengasuh ketujuh buah hatinya. Ini adalah salah satu contoh nyata bahwa keberhasilan penyesuaian diri mendukung terwujudnya keluarga yang harmonis. (rien)