MEMAHAMI PROYEKSI PENDUDUK: ASUMSI DIBALIK ANGKA

No comment 2827 views

(Saduran dari Policy Brief oleh Toshiko Kaneda dan Jason Bremner, Understanding population projections: assumptions behind the numbers, Juni 2014, Population Reference Bureau, www.prb.org/publications/reports/2014/united-nations-population-projections.aspxunderstanding-population-projections  )

Para pembuat kebijakan dan perencana program bergantung pada proyeksi penduduk untuk memperkirakan kebutuhan masa depan akan sumber daya (meliputi makanan, air, dan energi) dan jasa, seperti kesehatan dan pendidikan. Proyeksi membuat para perencana dan pembuat kebijakan menjadi waspada terhadap tren atau kecenderungan yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan ekonomi serta membantu mereka menyusun kebijakan dan program pembangunan yang sesuai.

Untuk membuat proyeksi, ahli demografi harus membuat asumsi mengenai tren kelahiran, kematian, dan migrasi di masa depan. Namun, asumsi-asumsi ini tidaklah pasti meskipun didasarkan pada penelitian dan opini ahli.

Proyeksi penduduk menampilkan ukuran penduduk serta distribusi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin di masa depan bila asumsi yang digunakan benar. Walaupun demikian, banyak pengguna proyeksi yang tidak menyadari bagaimana tepatnya proyeksi itu dibuat dan tidak mempertimbangkan asumsi dan keterbatasan yang mendasari penyusunan proyeksi itu. Sangat penting bagi pengguna proyeksi untuk memahami asumsi dan reliabilitas dari proyeksi sebelum menggunakannya.

Ketidakpastian dalam proyeksi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti perkiraan jumlah penduduk saat ini yang berfungsi sebagai dasar pembuatan proyeksi. Ketidakpastian juga bisa disebabkan oleh waktu: proyeksi penduduk dalam rentang waktu yang terlalu lama lebih tidak akurat dibanding proyeksi penduduk untuk kurun waktu yang lebih singkat.

KOMPONEN PROYEKSI PENDUDUK

Pertumbuhan atau penurunan penduduk di suatu negara atau daerah terjadi akibat interaksi tiga faktor demografi: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan (migrasi). Untuk memperkirakan jumlah penduduk di masa mendatang, ahli demografi membuat asumsi mengenai bagaimana tingkat kelahiran, kematian, serta migrasi masuk dan migrasi keluar saat ini akan berubah di masa depan. Berdasarkan asumsi-asumsi ini, pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk berdasar usia dan jenis kelamin di masa depan dihitung dan ditambahkan pada hasil sensus atau perkiraan penduduk di awal periode proyeksi.

Setiap proyeksi yang dihasilkan oleh suatu organisasi atau pemerintah didasarkan pada asumsi organisasi atau pemerintah yang bersangkutan mengenai fertilitas, mortalitas, dan migrasi, dan akan berbeda antara satu proyeksi dengan proyeksi yang lain. Tidak jarang, suatu organisasi atau pemerintah mengembangkan banyak proyeksi untuk mencerminkan beberapa skenario yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Fertilitas

Fertilitas dinyatakan dengan Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate, TFR), suatu ukuran mengenai rata-rata jumlah anak yang akan dimiliki oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya jika tingkat kelahiran pada suatu waktu tertentu tetap sama selama perempuan itu hidup. Diantara ketiga komponen demografi, fertilitas paling besar pengaruhnya terhadap jumlah penduduk di masa depan, terutama di negara-negara berkembang dengan tingkat kelahiran yang tinggi.

Secara global, fertilitas turun di paruh kedua abad ke-20. Meskipun kecepatan penurunan fertilitas tidak sama di semua tempat, TFR dunia saat ini adalah 2,5 anak per perempuan.

Ahli demografi mengasumsikan bahwa daerah dengan fertilitas tinggi akan mengikuti pola penurunan yang serupa dan pada akhirnya stabil dengan dua anak setiap perempuan. Level fertilitas ini disebut ‘replacement level’ (2,1 anak setiap perempuan) karena setiap pasangan memiliki 2 orang anak yang menggantikan mereka nantinya tanpa menambah jumlah generasi penerusnya.

Suatu kesalahpahaman yang umum terjadi adalah bahwa ketika fertilitas menurun ke replacement level, penduduk akan segera berhenti bertumbuh. Di negara-negara yang sebelumnya memiliki tingkat fertilitas tinggi, penduduk akan terus bertambah selama beberapa dekade bahkan setelah fertilitas mencapai replacement level. Tahun-tahun dengan tingkat kelahiran tinggi menghasilkan penduduk dengan struktur umur muda, yang menyebabkan momentum bagi pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang. Momentum ini berarti penduduk di masa depan akan tumbuh pesat karena penduduk muda yang banyak jumlahnya mulai memiliki anak. Penurunan kelahiran tidak hanya mempengaruhi jumlah penduduk, tetapi juga distribusi penduduk menurut umur. Penurunan fertilitas menyebabkan pertumbuhan proporsi penduduk lanjut usia (lansia).

Fertilitas di kebanyakan negara maju saat ini berada jauh dibawah replacement level. Namun mayoritas negara berkembang masih memiliki tingkat kelahiran diatas replacement level. Di negara-negara kurang berkembang, rata-rata perempuan memiliki lebih dari empat orang anak. Sebagian besar negara-negara sub-Sahara Afrika masih memiliki fertilitas yang tinggi, menurun secara perlahan atau bahkan tidak turun sama sekali. Karenanya, asumsi fertilitas untuk negara kurang berkembang cenderung kurang reliabel (kurang dapat diandalkan). Jumlah penduduk dan distribusi umur suatu negara di masa depan dapat bervariasi tergantung pada kapan penurunan fertilitas mulai terjadi, tahapan penurunan, dan apakah penurunan itu berlanjut hingga replacement level atau melambat pada level yang lebih tinggi.

United Nations Population Division (UNPD) menerbitkan beberapa proyeksi setiap dua tahun sekali dengan asumsi fertilitas yang berbeda, meliputi varian fertilitas rendah, medium, dan tinggi karena adanya kemungkinan terjadi kesenjangan antara asumsi dan tren aktual (yang sesungguhnya terjadi). Dalam varian fertilitas medium, diasumsikan ada pertumbuhan dalam penggunaan alat kontrasepsi yang akan menyebabkan penurunan fertilitas. Varian rendah mengasumsikan bahwa TFR di negara yang bersangkutan lebih rendah separuh anak dari varian medium, sementara varian tinggi mengasumsikan bahwa TFR lebih tinggi separuh dari varian medium. Misalkan diproyeksikan bahwa suatu negara memiliki TFR 2,7 dalam varian medium, maka varian rendahnya adalah TFR 2,2 dan varian tingginya adalah 3,2 anak per wanita.

Kesalahpahaman lain yang umum terjadi adalah bahwa penurunan fertilitas terjadi secara otomatis dan berkelanjutan. Pada kenyataannya, penurunan fertilitas seringkali tergantung pada peningkatan investasi di bidang pelayanan Keluarga Berencana (KB), kesehatan, dan pendidikan (khususnya pendidikan bagi perempuan). Banyak negara yang kurang berinvestasi dalam ketiga bidang ini terus-menerus merevisi hasil proyeksinya karena fertilitasnya meningkat. Disisi lain, negara-negara yang cukup berinvestasi dalam ketiga bidang tersebut terus melakukan revisi terhadap hasil proyeksinya karena TFR terus menurun.

Beberapa pengguna proyeksi salah mengasumsikan bahwa jumlah penduduk stabil di tahun terakhir proyeksi. Padahal kenyataan di berbagai negara adalah bahwa jumlah penduduk terus bertumbuh setelah tahun terakhir proyeksi, kecuali dalam proyeksi varian rendah.

Mortalitas

Pada masyarakat dimana kematian relatif tinggi dan usia harapan hidup saat lahir relatif rendah, perubahan dalam mortalitas berperan penting dalam jumlah penduduk di masa yang akan datang. Dalam masyarakat dengan mortalitas yang sudah rendah dan usia harapan hidupnya meningkat, mortalitas kecil pengaruhnya dalam perkiraan jumlah penduduk di masa depan. Asumsi umum yang mendasari proyeksi penduduk di semua negara adalah tingkat kematian yang terus menurun dan meningkatnya usia harapan hidup.

Pandemik HIV dan dampaknya yang besar terhadap kematian di negara-negara dengan prevalensi HIV tinggi menimbulkan kebutuhan untuk mempertimbangkan kemungkinan perluasan infeksi HIV di masa mendatang dan penanganannya. Pertimbangan ini akan mempengaruhi asumsi mengenai mortalitas dan proyeksi penduduk. Sejauh mana HIV akan mempengaruhi kematian di masa depan akan tergantung pada investasi yang terus-menerus dalam mencegah dan menangani penyakit ini. UNPD berasumsi bahwa jumlah kematian akibat HIV akan berkurang karena semakin terbukanya akses terhadap terapi antiretroviral dan semakin sedikitnya jumlah penderita karena infeksi baru.

Di banyak negara maju, fertilitas rendah dikombinasikan dengan penurunan kematian diantara para lansia akan berdampak pada penduduk menua. Proyeksi PBB menyatakan bahwa proporsi penduduk berusia 65 tahun keatas di banyak negara maju akan meningkat.

Banyak orang yang bertanya-tanya apakah para ahli demografi memasukkan variabel lain yang mungkin meningkatkan kematian dalam membuat proyeksi seperti konflik di masa depan, bencana alam, atau perubahan gaya hidup seperti bertambahnya jumlah penduduk yang mengalami obesitas dan kurang melakukan olahraga. Karena ketidakpastian mengenai dimana konflik dan bencana alam akan terjadi di masa depan, apa dampaknya, dan bagaimana tingkat kematian akan dipengaruhi, ahli demografi tidak memasukkan faktor-faktor tersebut kedalam proyeksi. Dalam hal perubahan gaya hidup, data mengenai dampak perrubahan pola hidup terhadap kematian masih belum tersedia atau baru ada di beberapa negara dan belum dimasukkan kedalam asumsi proyeksi penduduk. Secara umum, ahli demografi belum mengasumsikan perubahan-perubahan lain dalam mortalitas selain menurunnya kematian bayi, dampak HIV, dan meningkatnya usia harapan hidup.

Migrasi

Migrasi internasional tidak bisa diprediksi dan sulit dimasukkan dalam asumsi proyeksi. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, aliran migrasi sering terjadi akibat perubahan jangka pendek (dalam faktor ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan) yang sulit diantisipasi. Kedua, tidak tersedianya informasi yang dapat diandalkan (reliabel) mengenai jumlah imigran dan emigran. 

Meski demikian, migrasi dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan penduduk di suatu negara atau daerah tertentu. Selama bertahun-tahun, pola migrasi yang paling umum terjadi adalah perpindahan penduduk dari negara berkembang ke negara maju dan dari negara maju yang lebih miskin ke negara maju yang lebih kaya. Penduduk di negara dan daerah dengan fertilitas rendah, dimana jumlah kematian melebihi jumlah kelahiran, akan berkurang jumlahnya tanpa adanya migrasi masuk. Perpindahan penduduk diantara negara-negara berkembang akibat peluang ekonomi, bencana alam, atau gejolak politik juga mengubah peta demografis.

Asumsi-asumsi migrasi seringkali memperhitungkan pengalaman negara-negara yang memiliki sejarah tingginya migrasi masuk, seperti Amerika Serikat. Bagaimanapun juga, karena sifatnya yang tak bisa diprediksi, diasumsikan bahwa tingkat migrasi saat ini akan tetap untuk suatu kurun waktu dan akan menurun secara perlahan.

BAGAIMANA PEMBUAT KEPUTUSAN DAN PERENCANA PROGRAM DAPAT MENGGUNAKAN PROYEKSI SECARA BAIK?

Akurasi proyeksi penduduk secara utama bergantung pada ketepatan asumsi yang mendasari penyusunan proyeksi tersebut. Para ahli demografi berusaha untuk membuat asumsi sebaik mungkin berdasar bukti dan data yang tersedia dan merevisi proyeksi saat mereka menerima informasi baru dari berbagai sumber seperti sensus, registrasi vital, statistic imigrasi, dan survei demografi. Oleh karena itu, sangat penting apabila pembuat kebijakan dan para perencana memahami asumsi-asumsi yang mendasari berbagai proyeksi yang sudah dibuat. Pemahaman akan ketidakpastian dalam proyeksi penduduk dan implikasi dari ketidakpastian itu bagi rencana dan kebijakan yang dibuat dalam rentang waktu tertentu adalah hal yang penting dalam menyusun perencanaan yang baik.

Pengguna proyeksi penduduk juga diharapkan menolak kesalahpahaman umum mengenai proyeksi penduduk dan memahami bahwa:

  1. Pertumbuhan penduduk tidak serta merta berhenti saat fertilitas mencapai angka replacement level.
  2. Kelahiran tidak secara otomatis menurun, sebagaimana diasumsikan dalam proyeksi, tanpa melakukan investasi dalam bidang pelayanan Keluarga Berencana (KB), kesehatan, dan pendidikan (khususnya bagi perempuan).
  3. Jumlah penduduk tidaklah stabil atau tetap di akhir periode proyeksi.

Pemahaman yang benar terhadap ketiga poin penting diatas akan menyebabkan pembuat kebijakan dan perencana program memiliki perhitungan yang lebih realistis terhadap dampak pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang.

Pada saat yang sama, pembuat kebijakan dan perencana program dapat berkontribusi terhadap peningkatan akurasi proyeksi penduduk dengan mendukung upaya-upaya nasional dan internasional untuk mengumpulkan data demografis yang lebih akurat sehingga menuntun kepada pembuatan asumsi yang lebih tepat, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas proyeksi yang dihasilkan dan meningkatkan nilai dari proyeksi tersebut bagi pembuatan perencanaan dan kebijakan. (ypi)