MEMANFAATKAN BONUS DEMOGRAFI: MEMPERCEPAT PERUBAHAN SOSIOEKONOMI DI UGANDA

(Saduran Policy Brief Uganda National Planning Authority, July 2014)

PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN PENDUDUK DI UGANDA

Selama tigapuluh tahun terakhir, Uganda mengalami penurunan kematian anak secara kontinu, sementara tingkat kelahiran tetap tinggi. Akibatnya, terjadi pertumbuhan penduduk yang tinggi di Uganda dimana kelompok umur muda sangat besar jumlahnya sehingga angka ketergantungan penduduk muda (kurang dari 15 tahun) lebih dari 50 persen. Tingginya rasio ketergantungan penduduk muda ini merupakan penghalang utama bagi terjadinya perubahan dan perkembangan sosial.

KESEMPATAN UNTUK MEMPEROLEH BONUS DEMOGRAFI

Bonus demografi mengacu pada keuntungan ekonomi yang dinikmati suatu masyarakat disaat tingkat kelahiran dan kematian menurun dengan cepat dan rasio orang dewasa yang bekerja meningkat secara signifikan dibandingkan dengan jumlah penduduk muda (kurang dari 15 tahun). Pengalaman dari Negara-Negara Macan Asia menunjukkan bahwa untuk mencapai bonus demografi, suatu negara harus memprioritaskan investasi di bidang kesehatan dan pendidikan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi; mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja untuk memastikan bahwa “surplus” angkatan kerja dapat masuk ke pasar kerja dan memiliki daya beli yang kuat; dan mendorong akuntabilitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya yang ada dan dalam pelayanan sosial kepada masyarakat.

Bonus demografi tidaklah bersifat otomatis. Bonus demografi terjadi tergantung pada investasi dan reformasi dalam 3 sektor: Keluarga Berencana (KB), pendidikan, dan kebijakan ekonomi.

Suatu negara haruslah mengalami penurunan kelahiran secara bertahap untuk mencapai struktur umur yang didominasi oleh penduduk usia kerja. Penurunan kelahiran dapat terjadi karena dua hal: masyarakat memilih untuk memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih kecil (memiliki lebih sedikit anak) dan mereka memiliki alat untuk mewujudkan keinginan mereka. Dalam hal ini, pemerintah bertugas menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan berupa alat kontrasepsi (alkon), serta menyediakan dan mempermudah akses terhadap pelayanan alkon. Pemerintah juga bertugas untuk mengubah pola pikir masyarakat melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai pentingnya Program Keluarga Berencana (KB) guna mendorong masyarakat untuk mengadopsi keinginan memiliki jumlah anak yang lebih sedikit. Keberhasilan pelaksanaan Program KB juga akan berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak. Dengan berkurangnya jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga, maka terbukalah peluang keluarga tersebut untuk meningkatkan kualitas anak-anaknya. Hal ini dikarenakan keluarga tersebut memiliki lebih banyak dana dan anggaran yang dapat dialokasikan untuk biaya kesehatan dan pendidikan yang lebih tinggi, serta memungkinkan keluarga tersebut untuk menabung.

Sektor kedua yang perlu diperhatikan guna memperoleh bonus demografi adalah sektor pendidikan. Perlu dilakukan investasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan primer, sekunder, dan tersier, serta investasi untuk meningkatkan kualitas pelatihan vokasional (pelatihan untuk mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja). Semua investasi yang dilakukan ini akan menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan efisien.

Pasar kerja haruslah bersifat fleksibel agar dapat menyerap pekerja baru dan memudahkan pekerja untuk berganti dari satu kegiatan ekonomi ke kegiatan ekonomi yang lain. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong investasi domestik dan internasional memerlukan efisiensi finansial, sehingga meningkatlah akses untuk mendapatkan pelayanan finansial, pinjaman, dan modal usaha berkualitas tinggi. Perlu juga dilakukan investasi untuk memperkuat kualitas institusi publik, perluasan penggunaan telepon dan sambungan internet, serta peningkatan eksport untuk menarik investasi asing dan tabungan lokal. Promosui eksport ini juga akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumber daya dan industri suatu negara.

KEBIJAKAN UNTUK MEMANFAATKAN BONUS DEMOGRAFI DI UGANDA

Kebijakan yang dapat dilakukan oleh Uganda untuk memanfaatkan bonus demografi meliputi kebijakan dalam bidang kesehatan dan Keluarga Berencana (KB), pendidikan, dan ekonomi.

Kebijakan di Bidang Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB):

  1. Mempertahankan dan mempercepat penurunan kematian bayi melalui imunisasi dan peningkatan asupan nutrisi yang bergizi pada bayi, balita, dan anak-anak.
  2. Mengatasi unmet need alat kontrasepsi (alkon) dan pelayanan kontrasepsi dengan mengurangi hambatan permintaan, akses, dan penggunaan alkon.
  3. Mempertahankan tingkat investasi yang tinggi di Bidang KB oleh pemerintah.

 

Kebijakan di Bidang Pendidikan:

  1. Meningkatkan investasi di bidang pendidikan, meliputi pendidikan sekunder dan pendidikan tinggi yang bersifat universal.
  2. Mengatasi isu kualitas pendidikan, tingkat droupout sekolah, dan perbedaan gender dalam penerimaan siswa di sekolah.
  3. Memperkuat pendidikan vokasional (yang berhubungan dengan pekerjaan).

Kebijakan ekonomi, tenaga kerja, dan lapangan pekerjaan:

  1. Mendorong fleksibilitas pasar kerja.
  2. Mengatasi kendala yang dihadapi pemuda untuk mendapat pekerjaan.
  3. Mendorong investasi dalam sektor lapangan kerja yang menyerap tenaga kerja seperti konstruksi, pertanian modern, dan pengolahan hasil tanaman.
  4. Investasi pengembangan infrastruktur seperti energi, transportasi, dan komunikasi.
  5. Mengatasi rendahnya keterampilan kerja tenaga kerja dengan menyesuaikan sistem pendidikan sehingga dapat menghasilkan lulusan yang siap masuk ke pasar kerja.

Kebijakan ini dapat diimplementasikan pula di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat untuk menyongsong dan memanfaatkan bonus demografi. (ypi)