Memperoleh Hasil Melalui Result Cascade

No comment 3994 views

Result Cascade merupakan alat monitoring dan evaluasi atas proses dan kegiatan advokasi yang dilakukan. Result Cascade ini memudahkan dalam mendokumentasikan hasil-hasil advokasi sehingga orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam upaya advokasi dapat dengan mudah memahaminya. Result Cascade memiliki empat komponen utama. Pertama, disciplined monitoring, Result Cascade menyediakan cara untuk mendokumentasikan para aktor dan aktivitas yang dilakukan yang menghasilkan perubahan kebijakan. Kedua, accountability tracking, Result Cascade bermanfaat sebagai alat monitoring yang dapat melacak penerapan kebijakan. Ketiga, advocacy refinement, Result Cascade merupakan proses untuk menilai hasil advokasi dan peluang untuk memperbaiki strategi advokasi. Dan keempat, effectiveness assessment, Result Cascade menyediakan suatu proses sistematik yang memperlihatkan pentingnya advokasi dalam KB.

Result Cascade secara grafis menyajikan masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), dan dampak (impact). Input meliputi bantuan teknis dan sumber dana yang digunakan untuk menghasilkan output. Input digunakan selama proses penerapan suatu strategi advokasi. Output adalah produk yang dihasilkan dari input. Output merupakan hasil jangka pendek dimana mitra advokasi paling berpengaruh, namun output itu sendiri tidak dapat mengubah status quo. Outcome adalah hasil segera (quick win) dalam pendekatan Advance Family Planning (AFP) dan Result Cascade. Outcome merupakan hasil dari suatu strategi advokasi yang terfokus pada hasil kebijakan. Outcome merupakan hasil dari serangkaian output. Outcome tidak dapat dikontrol sepenuhnya oleh pelaku advokasi. Impact merupakan hasil jangka panjang yang dihasilkan oleh suatu kombinasi dari berbagai intervensi yang dilakukan, dan dapat bersifat positif atau negatif. Dampak dalam konteks advokasi Keluarga Berencana (KB), misalnya, dapat berupa peningkatan atau penurunan kehamilan tidak diinginkan (KTD) sebagai akibat dari perubahan penggunaan kontrasepsi. Seringkali advokasi yang dilakukan tidak secara langsung mempengaruhi dampak (impact).

Result Cascade terbagi dalam dua fase. Fase pertama disebut Quick Win (hasil segera) dimana kita mendokumentasikan proses. Fase kedua, Result Cascade, mendokumentasikan hasil atau dampak dari quick wins.

ASUMSI-ASUMSI POKOK

Kita menggunakan asumsi bahwa pelayanan KB tidak menjadi prioritas dan mendapat anggaran yang sangat rendah di banyak negara berkembang karena pemegang kebijakan kurang memiliki bukti mengenai manfaat Program KB dan pentingnya menyediakan anggaran yang cukup untuk program tersebut. Sebagian besar pendanaan untuk Program KB saat ini diberikan oleh donor, sementara anggaran yang disediakan pemerintah setempat sangat kecil. Berbagai prinsip yang digunakan untuk mendorong Program KB seringkali kurang menyebutkan secara rinci mengenai risiko yang harus dihadapi oleh koordinator kesehatan setempat, kepala daerah, atau menteri kesehatan apabila program tersebut tidak dilaksanakan dengan baik atau apabila mereka tidak mengambil kebijakan untuk mendukung Program KB.

Selain itu, skala risiko yang berkaitan dengan Program KB tidak diketahui dengan jelas. Misalnya berapa persen dana yang harus disediakan untuk Program KB di suatu wilayah? Manakah yang lebih baik, menyediakan anggaran yang lebih besar untuk kontrasepsi suntikan atau pelayanan KB pasca persalinan? Lebih jauh lagi, perlu dipertimbangkan dengan cermat siapa yang akan menyampaikan risiko itu. Apabila kebutuhan akan pelayanan KB yang lebih baik tidak disampaikan dengan benar dan tepat, atau jarang sekali disampaikan oleh kelompok masyarakat setempat atau koalisi regional, pembuat kebijakan tidak akan menyiapkan anggaran yang memadai untuk Program KB.

AFP juga berasumsi bahwa pemantauan terhadap proses tindak lanjut yang terjadi setelah suatu upaya advokasi sukses dilakukan merupakan hal yang sangat krusial untuk memperdalam efek dari suatu hasil segera (Quick Win). Contohnya dalam menindaklanjuti suatu keputusan untuk mengubah kebijakan atau menambah anggaran Program KB, pembuat kebijakan perlu melihat bahwa pelaksana advokasi melacak dan melaporkan perubahan-perubahan jangka pendek yang telah terjadi sebagai akibat dari suatu keputusan yang diambil. Hal ini menekankan pentingnya advokasi di tingkat lokal untuk mendukung Program KB.

Terakhir, AFP berasumsi bahwa keberhasilan berulang dalam advokasi KB akan memudahkan dalam membujuk pemegang kebijakan untuk mengambil risiko yang lebih besar guna mendukung pelaksanaan Program KB di masa mendatang. Tatkala pengambil kebijakan lebih mempercayai pelaksana advokasi sebagai sumber informasi yang berkualitas, mereka akan lebih mendukung Program KB di masa mendatang.

Result Cascade memperioritaskan elemen-elemen berikut dalam memilih proses dan hasil (outcome) yang akan dicari melalui advokasi:

  • Memilih hasil jangka pendek yang diperlukan untuk meraih tujuan jangka panjang bersama mitra kerja.
  • Mengenali prioritas si pengambil kebijakan yang dapat dicapai dalam jangka pendek melalui suatu pendekatan advokasi yang strategis.
  • Fokus pada penyediaan informasi berdasar bukti, menyasar kebutuhan pembuat kebijakan setempat, dan menyampaikan informasi secara jujur dan apa adanya.
  • Mengurangi risiko dan meningkatkan “imbalan” bagi pengambil kebijakan untuk mengambil keputusan.

PEMILIHAN HASIL SEGERA (QUICK WIN)

Beberapa isu kebijakan atau peluang advokasi bisa menghasilkan kesuksesan-kesuksesan jangka pendek, tapi hanya akan memiliki pengaruh jangka panjang apabila kesuksesan-kesuksesan itu memang direncanakan untuk secara langsung mencapai suatu tujuan yang menyeluruh. Dalam hal ini, sasaran SMART dapat dijadikan panduan untuk memilih hasil relevan yang diinginkan. Secara lebih jauh, pendekatan AFP mempertimbangkan lingkungan kebijakan, hubungan dengan pengambil keputusan, dan sumber daya yag tersedia.

Tujuan (goal) adalah pernyataan yang bersifat luas mengenai hasil (outcome) yang diharapkan dan terkait dengan keseluruhan misi proyek/program. “Menurunkan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan” atau “Meningkatkan kesehatan ibu” adalah tujuan. Tujuan mendeskripsikan apa yang ingin dicapai dan tidak dapat diukur secara tepat. Tujuan akan dicapai dalam jangka panjang. Beberapa sasaran (objectives) jangka pendek biasanya mendukung pencapaian suatu tujuan.

PENERAPAN

Result Cascade harus digunakan bersama strategi advokasi terfokus yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran jangka pendek yang secara bertahap akan mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang. Sasaran (objective) adalah pernyataan singkat yang menggambarkan hasil spesifik yang ingin dicapai. Oleh karenanya, ada hubungan yang jelas antara sasaran dan hasil yang diinginkan. Pencapaian sasaran mendorong pada pencapaian tujuan program. Sasaran advokasi yang baik adalah sasaran SMART (Specific, Measurable, Attainable/Achievable, Relevant, Time-bound).

FASE 1: MENDOKUMENTASIKAN HASIL SEGERA (QUICK WINS)

Langkah 1: Mencatat Judul dan Aktivitas Formatif

Catat sasaran SMART dan langkah-langkah penting yang anda ambil untuk mengidentifikasi peluang advokasi. Hal tersebut dapat berupa pertemuan dengan beberapa stakeholder, pembentukan sebuah kelompok kerja, atau pertemuan dengan tim jaminan ketersediaan kontrasepsi. Catat tanggalnya, para aktor kunci, dan tujuan kegiatan/aktivitas.

analisis

Aktivitas adalah tindakan atau intervensi yang menggunakan input untuk menciptakan hasil. Aktivitas bukanlah sasaran, melainkan alat untuk memperoleh hasil. Contoh aktivitas adalah menyelenggarakan pertemuan dengan pakar KB untuk membahas panduan pelatihan distribusi alkon oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini, menyelenggarakan pertemuan merupakan suatu langkah dalam proses mencapai sasaran.

Langkah 2: Dokumentasikan Aktivitas Proses dan Output (Keluaran)

Aktivitas proses dapat meliputi suatu presentasi teknis kepada menteri dengan suatu rekomendasi spesifik untuk menyertakan suatu metode atau alat kontrasepsi baru dan fakta mengapa perubahan itu diperlukan.

Dokumentasikan aktivitas/kegiatan yang anda dan kelompok kerja anda lakukan dan output yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Aktivitas dan output haruslah merupakan aktivitas dan output strategis yang telah anda identifikasi sebelumnya dalam strategi advokasi anda. Output bisa berupa policy brief yang disusun sebagai hasil dari suatu analisis kebijakan, pertemuan penting dengan pakar kunci, atau pertemuan singkat dengan pengambil keputusan. Dalam bagan di atas, aktivitas proses dibuat dalam tiga kotak, namun pada kenyataannya bisa lebih atau kurang dari tiga kotak, sesuai kebutuhan. Kuncinya adalah memilih aktivitas yang paling terhubung secara logis dengan Quick Win.

Langkah 3: Rincikan Quick Win

Quick win adalah keputusan kritis yang harus terjadi dalam waktu dekat dan merupakan satu dari beberapa hasil (outcomes) yang akan menuntun pada perwujudan tujuan yang lebih luas. Quick win merupakan hasil dari sebuah strategi advokasi yang direncanakan.

Dokumentasikan Quick Win secara rinci. Jika Quick Win itu meliputi panduan baru mengenai pembagian tugas, sebutkan tugas apa yang kini dapat dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan. Detil ini akan memudahkan dalam melacak dan mengukur Quick Win dengan Pohon Keputusan dan Result Cascade. Jika anda menggunakan AFP SMART, Quick Win dan langkah sasaran biasanya sama.

Berikut adalah contoh:

quick-win

FASE 2: MENDOKUMENTASIKAN RESULT CASCADE

Langkah 1: Mendokumentasikan Quick Win

Buat daftar Quick Win yang diharapkan menuntun pada peningkatan akses terhadap konrasepsi. Hanya masukkan Quick Win yang berhasil dicapai dari usaha advokasi yang telah dilakukan. Sertakan tanggal pencapaian Quick Win.

Langkah 2: Lacak Pencapaian Outcome secara Berjenjang

Langkah 2 ini memperlihatkan outcome yang harus terjadi jika kita menginginkan Quick Win membawa dampak (impact).

Contohnya, pemerintah suatu kabupaten tertarik untuk meningkatkan pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di wilayahnya. Quick Win yang sukses dihasilkan oleh AFP adalah meningkatkan anggaran Program KB di kabupaten tersebut. Akan tetapi penambahan anggaran ini dapat digunakan untuk berbagai macam kepentingan; beberapa bisa dipakai untuk meningkatkan pemakaian MKJP; sisanya bisa dipakai untuk keperluan lainnya. Oleh karena itu, sangat penting mengetahui bagaimana anggaran digunakan. Dana yang digunakan untuk (1) menambah jumlah penyedia layanan yang dapat melayani pemakaian MKJP, (2) meningkatkan kualitas konseling untuk pemakaian MKJP, dan (3) membuat perubahan dalam ketersediaan kontrasepsi untuk mengakomodasi kebutuhan logistik dari pelayanan MKJP di kabupaten adalah contoh-contoh dari hasil (outcome) yang secara logis dapat menjelaskan peningkatan akses MKJP.

doc-quick-win

Langkah 3: Mendokumentasikan Dampak (Impact)

Masukkan tujuan jangka panjang dalam strategi advokasi. Quick Win atau hasil (outcome) yang berjenjang dalam Langkah 2 seharusnya mengalir menuju pencapaian tujuan jangka panjang, memperlihatkan dampak (impact).

Langkah 4: Identifikasi Sumber Data

Masukkan sumber data yang memvalidasi dampak (impact) dalam tanda panah di bawah dampak.

Berikut adalah contoh:

quick-win2

PANTAU DAMPAKNYA: POHON KEPUTUSAN

Sekarang saatnya kita memantau penerapan Result Cascade. Kita melacak Quick Win untuk mengetahui apakah upaya yang kita lakukan membantu pencapaian dampak (impact) yang dikehendaki. Dalam hal ini, Pohon Keputusan dapat berperan sebagai checklist, yang tentu saja berguna karena advokasi berlangsung dengan sumber daya yang terbatas, kekuasaan/wewenang yang terbatas, dan adanya berbagai tuntutan dalam waktu yang bersamaan.

Langkah 1: Identifikasi Quick Win

Identifikasi Quick Win yang ingin dipantau dan tanggal penyelesaiannya.

Langkah 2: Identifikasi Intervensi yang Paling Efektif

Cari tahu intervensi mana yang paling efektif dalam menciptakan perubahan melebihi Quick Win. Apabila anda menemukan bahwa ada intervensi yang penting dan efektif, namun tidak dilakukan, inilah saatnya untuk meninjau kembali (mereviu) dan memperbaiki (merevisi) strategi dan tindakan advokasi anda. Pada setiap tingkat penerapan, akan diperoleh hasil ya/tidak. Sebuah jawaban “tidak” pada setiap level mewakili suatu peluang advokasi untuk memperoleh hasil. Sebuah jawaban “ya” berarti lanjutkan sesuai rencana untuk mencapai hasil berikutnya.

Contohnya, sebuah Quick Win bisa berupa kebijakan untuk menyertakan metode kontrasepsi baru dalam pelayanan yang disediakan oleh pemerintah. Maka intervensi yang paling efektif untuk meningkatkan pilihan metode kontrasepsi meliputi (1) mendiseminasikan kebijakan, (2) melatih penyedia layanan, dan (3) mengembangkan sistem ketersediaan kontrasepsi yang menyediakan metode baru tersebut. Kita harus melacak apakah semua intervensi ini terjadi meskipun kita tidak secara langsung terlibat dalam aktivitas-aktivitas khusus tersebut. Kita melacak penerapan kebijakan melalui kerjasama dengan mitra terkait dan menyiapkan advokasi tambahan bilamana diperlukan.

Langkah 3: Identifikasi Tim Pemantau

Identifikasi siapa yang akan melacak perkembangan intervensi dan bagaimana kita bisa memperoleh informasi dan komunikasi mengenai hal itu. Dokumentasikan hal ini secara rinci dalam rencana kerja selama proses penyusunan strategi, dimana mitra kerja advokasi diberi tanggung jawab.

contoh

Jika memungkinkan, tentukan waktu pelaksanaan bagi setiap langkah diatas. Beberapa langkah penerapan dapat terjadi secara bersamaan/serempak atau secara berurutan, namun mendokumentasikan kapan hal itu terjadi akan menyediakan bukti pelaksanaan dan wawasan mengenai lamanya proses advokasi yang harus dilalui untuk usaha advokasi di masa mendatang.

Langkah 4: Kolaborasi untuk Memperbarui Usaha, secara Tepat Waktu

Langkah ini memerlukan kerjasama yang erat dengan pemerintah dan pelaksana agar dapat memahami kapan dan mengapa intervensi gagal dan untuk mengembangkan strategi advokasi baru untuk mengatasi hambatan.

MEMAHAMI DAN MENGATUR KEMUNDURAN/RINTANGAN

Tatkala perubahan yang diharapkan tidak terjadi, penting sekali meninjau kembali asumsi yang mendasari strategi advokasi. Secara khusus, kita melihat perubahan dalam penggunaan kontrasepsi sebagai hasil advokasi apabila kita:

  • Membuat asumsi yang masuk akal mengenai permintaan pelayanan KB dan metode spesifik di suatu wilayah.
  • Dan membuat asumsi yang masuk akal mengenai hambatan yang ada di wilayah tersebut terkait akses dan penggunaan kontrasepsi.
  • Dan mencurahkan tenaga untuk melakukan intervensi yang paling efektif dengan mitra kerja kita.

Berikut adalah contoh bagaimana asumsi menentukan strategi namun tidak membawa kepada hasil yang diharapkan:

Mitra kerja KB di Kabupaten A sependapat bahwa seringnya puskesmas kehabisan persediaan alkon berkontribusi terhadap rendahnya pemakaian kontrasepsi. Mereka mengembangkan suatu strategi untuk menjamin ketersediaan kontrasepsi di puskesmas dengan meningkatkan pendanaan untuk transportasi lokal guna memperoleh komoditas/persediaan kontrasepsi secara berkala. Quick Win-nya adalah peningkatan pendanaan di tingkat kabupaten untuk transport guna memperoleh persediaan alkon secara reguler. Berikut adalah beberapa hasil yang tidak diharapkan dari Quick Win dan asumsi-asumsi berbeda yang mendasarinya.

Hasil 1: Meskipun pendanaan telah meningkat, tidak ada perubahan dalam persediaan kontrasepsi (Puskesmas masih sering kehabisan alkon) di Kabupaten A

Penjelasan: Hasil ini menunjukkan kesalahan pada level proses. Peningkatan pendanaan tidak serta-merta menanggulangi habisnya persediaan alkon. Hal ini hanya akan dapat diatasi apabila dana digunakan untuk memperoleh alkon yang kemudian disimpan secara baik dan didistribusikan ke puskesmas.

Hasil 2: Kehabisan stok alkon lebih jarang terjadi di Kabupaten A, tapi tidak ada perubahan pemakaian alkon setelah satu tahun

Penjelasan: Penggunaan alkon mungkin tidak berhubungan dengan habisnya persediaan alkon. Hal ini dapat terjadi apabila perempuan di daerah tersebut lebih menyukai metode/alkon yang tidak tersedia sementara stok yang tersedia adalah alkon yang kurang diminati.

Hasil 3: Kehabisan stok alkon di Kabupaten A lebih jarang terjadi, namun penggunaan alkon di kabupaten itu menurun

Penjelasan: Asumsi kita mengenai hubungan antara persediaan dan pemakaian alkon tidak memperhitungkan variabel lain yang mungkin lebih berperan dalam menjelaskan perilaku pemakaian kontrasepsi di Kabupaten A. Misalnya, adanya peningkatan kematian bayi di Kabupaten A menyebabkan PUS berupaya menambah jumlah anak yang dimiliki sehingga permintaan terhadap kontrasepsi menurun. (ypi)

Sumber: Gillespie, D, Emmart, P, & Fredrick, B, 2013, AFP Results Cascade: A User’s Guide, November, www.advancefamilyplanning.org