MENANGKAP PELUANG DEMOGRAFI

No comment 801 views

(Saduran artikel Andrew Mason, September 2002, Capitalizing on the Demographic Dividend, University of Hawaii at Manoa and the East-West Center)

Penurunan tingkat kelahiran secara besar-besaran mengakibatkan perlambatan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). Konsekuensinya adalah terjadinya perubahan struktur umur penduduk. Struktur umur penduduk berubah ditandai dengan penurunan jumlah penduduk anak-anak, dan lebih banyak jumlah penduduk usia kerja. Kondisi ini mendatangkan keuntungan dari sisi ekonomi. Perubahan struktur umur penduduk ini membuka peluang demografi yang memungkinkan masyarakat di wilayah yang bersangkutan untuk meningkatkan standard kehidupannya secara dramatis.

Akan tetapi, penggunaan istilah ‘bonus demografi’ terlalu riskan dan bisa menimbulkan salah pemahaman karena istilah tersebut memberi kesan bahwa keuntungan ekonomi pasti diperoleh dengan adanya perubahan struktur umur penduduk yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Perubahan struktur umur penduduk ini pada hakikatnya memberi ‘peluang demografi’ yang hanya akan menguntungkan apabila dipersiapkan dan dimanfaatkan secara optimal. Sementara disisi lain, ‘peluang demografi’ tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun apabila disia-siakan.

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN ‘BONUS DEMOGRAFI’?

Bonus demografi mengacu pada suatu masa dalam transisi demografi. Penurunan tingkat kelahiran menghasilkan suatu periode dimana jumlah penduduk usia kerja tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan jumlah penduduk anak-anak. Sedikitnya jumlah anak yang dilahirkan juga berdampak pada penurunan tanggung jawab perempuan dalam pengasuhan anak. Oleh karenanya, terbukalah kesempatan bagi perempuan untuk memasuki dunia kerja. Dengan demikian, penurunan fertilitas membawa dua keuntungan: 1) pertambahan jumlah penduduk usia kerja, dan 2) perempuan berkesempatan memasuki dunia kerja.

Negara yang penurunan tingkat kelahirannya sangat cepat mengalami keuntungan demografi yang paling menonjol. Efek terkecil ditemukan di negara dimana penurunan fertilitas mulai paling akhir.

Penurunan tingkat kelahiran dan kematian yang sangat cepat pada akhirnya akan menuntun kearah penduduk menua dimana prosentase penduduk lanjut usia mencapai 10 persen atau lebih dari total penduduk. Setelah Jepang, Cina merupakan negara yang akan mengalami penduduk menua dimana diproyeksikan pada tahun 2025 prosentase penduduk lanjut usia di Cina adalah sebesar 13,2 persen, dan menjadi 22,7 persen pada tahun 2050.

Apabila pertumbuhan ekonomi di suatu negara stagnan atau bertumbuh pada kisaran yang sama, maka kemungkinan besar negara tersebut akan mendapati dirinya dengan persentase penduduk lanjut usia yang sangat besar dengan pendapatan yang rendah. Penduduk menua merupakan suatu keniscayaan yang akan dialami oleh suatu negara segera setelah peluang demografi berakhir. Oleh karena itu, bonus demografi merupakan fenomena sementara. Hal ini berarti bahwa perlu adanya kebijakan untuk menciptakan kesempatan bagi penduduk usia produktif, dalam hal pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja; kebijakan yang merangsang pertumbuhan ekonomi; menurunkan tingkat kemiskinan; dan yang tidak kalah penting adalah kebijakan bagi penduduk lanjut usia (lansia).

MEMANFAATKAN BONUS DEMOGRAFI: KISAH SUKSES ASIA TIMUR

Bagaimanakah cara negara-negara di Asia Timur memanfaatkan bonus demografi? Ada tiga faktor kunci yang berperan.

  1. Sumber daya manusia

Asia Timur memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dengan kemampuan baca tulis dan tingkat pendidikan yang tinggi disertai derajat kesehatan yang baik. Hal ini menyebabkan beberapa keuntungan seperti: angkatan kerja yang lebih sehat dan lebih produktif, lebih kuat dorongan untuk berinvestasi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan lebih kuatnya dorongan untuk mengurangi fertilitas.

  1. Keberhasilan dalam pertumbuhan lapangan kerja

Ada banyak faktor yang berkontribusi dalam keberhasilan penciptaan pasar kerja, antara lain:

  1. Keberhasilan program penelitian yang menyebabkan besarnya pencapaian dalam produktivitas sektor pertanian (Hayami 2001). Penerapan teknologi pertanian hasil penelitian yang telah dilakukan memungkinkan petani, di Asia Timur yang jumlahnya sangat sedikit, untuk menyediakan bahan pangan bagi penduduk Asia Timur yang jumlahnya sangat banyak.
  2. Keberhasilan dalam menciptakan industri dan pekerjaan baru, baik dalam bidang jasa maupun sektor manufaktur/pabrik.
  3. Kebijakan makroekonomi yang bijaksana yang menciptakan lingkungan yang kondusif untuk investasi (Bauer 2001).
  4. Tingkat investasi yang tinggi

Investasi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dilakukan baik pada level umum maupun level pribadi. Pada level umum, penduduk usia sekolah berhenti bertumbuh sementara penduduk usia kerja dan jumlah pembayar pajak terus bertambah banyak. Hal ini menguntungkan secara fiskal karena peningkatan anggaran untuk membiayai pendidikan siswa dapat dilakukan tanpa harus meningkatkan besarnya pajak yang harus ditarik. Fenomena serupa juga terjadi di tingkat keluarga dimana jumlah anak yang lebih sedikit memungkinkan orangtua untuk mengalokasikan lebih banyak dana bagi perawatan kesehatan dan pendidikan anak, baik pendidikan primer maupun pendidikan tingkat lanjut.

Pada awalnya transisi demografi di Asia Timur, perempuan tidak dapat berpartisipasi dalam lapangan kerja formal, kesenjangan upah antara lelaki dan perempuan sangat besar, dan tingkat pendidikan perempuan jauh lebih rendah dibanding laki-laki. Sejak tahun 1960, perempuan di Asia Timur mengalami kemajuan pesat. Mereka mulai memasuki pasar kerja. Perbedaan tingkat pendidikan dan kesenjangan tingkat pendapatan antara laki-laki dan perempuan berkurang secara signifikan.

Asia Timur telah memberlakukan beberapa kebijakan untuk mengatasi permasalahan diatas. Kebijakan yang diberlakukan meliputi kebijakan untuk menghilangkan kendala yang disebabkan oleh perbedaan gender, kebijakan untuk membekali perempuan dengan alat/perlengkapan yang dibutuhkan dalam berkontribusi terhadap perekonomian, serta kebijakan yang memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk masuk dalam pasar kerja.

Pengalaman internasional dalam hal peluang demografi jelas untuk tiga poin.

  1. Dalam kondisi yang tepat, bonus demografi dapat menghasilkan peningkatan tabungan secara substansial.
  2. Di beberapa negara, perubahan besar dalam struktur umur tidak mengakibatkan peningkatan tabungan. Faktor lain, seperti tingginya tingkat inflasi atau program pensiun umum yang tidak didanai, menghabiskan tabungan yang dihasilkan oleh perubahan demografis.
  3. Tingginya tingkat tabungan tidak selalu menjamin tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi. Situasi politik yang tidak stabil, korupsi, dan kebijakan fiskal yang tidak bijak dapat menghancurkan kepercayaan investor. Akibatnya adalah terciptanya kondisi ekonomi yang tidak dapat bersaing secara efektif dalam mendapatkan sumber daya finansial global.  

PELAJARAN APA YANG BISA DIPETIK?

Sumber daya manusia berkualitas, tingginya tingkat tabungan dan investasi, dan bonus demografi merupakan tiga elemen penting dalam percepatan pertumbuhan ekonomi. Ketiga elemen tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan. Sumber daya manusia berkualitas penting dalam menarik investasi dari luar negeri dan mencegah pelarian modal (capital flight). Tingginya tingkat tabungan dan investasi penting untuk menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih produktif. Sementara bonus demografi menyediakan sumber daya manusia (SDM) dan insentif/perangsang bagi tingkat tabungan dan investasi yang lebih tinggi, meskipun tidak menjamin penggunaan SDM dan tabungan/investasi yang produktif.

Pertumbuhan angkatan kerja yang relatif cepat merupakan berkah bagi negara-negara yang dapat meningkatkan peluang kerja dan mempertahankan pertumbuhan produktivitas kerja. Namun bagi negara-negara dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan produktivitas kerja yang stagnan, pertumbuhan angkatan kerja yang relatif cepat menjadi beban. Meskipun ada lebih banyak perempuan yang dapat memasuki angkatan kerja sebagai akibat dari pengurangan tanggung jawab pengasuhan anak, sumbangsih mereka terhadap pertumbuhan ekonomi dapat diminimalisir oleh adanya praktek diskriminasi dalam hal pendidikan dan lapangan kerja. Meskipun perubahan demografi menguntungkan bagi peningkatan tabungan dan investasi; tingginya tingkat inflasi, ketidakstabilan politik, dan kurang berfungsinya lembaga dan pasar finansial dapat mengubah kondisi demografi yang menguntungkan tadi. (ypi)