Mengatasi Hambatan Perkembangan Anak Akibat Persalinan di Usia Remaja dengan BKB

Hasil SDKI 2012 menunjukkan bahwa ASFR 15-19 di Provinsi Kalimantan Barat adalah 104, artinya di Provinsi Kalimantan Barat telah terjadi 104 kelahiran hidup dari setiap 1000 ibu usia 15-19 tahun. Angka ini menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan hasil SDKI 2007, ASFR 15-19 tahun di Provinsi Kalimantan Barat adalah 84. Artinya hanya ada 84 kelahiran hidup dari setiap 1000 ibu usia 15-19 tahun.

Kondisi ini cukup memprihatinkan, karena kondisi tersebut sedikit banyak akan berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berakibat pada rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masyarakat Kalimantan Barat. Seperti kita tahu bahwa saat ini Kalimantan Barat berada pada posisi ke-28 dari 33 Provinsi yang ada, dalam hal IPM.

Jika dilihat dari aspek pendidikan, persalinan di usia remaja secara tidak langsung akan membuat remaja kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga angka rata-rata lama sekolah menjadi pendek. Dilihat dari aspek kesehatan, persalinan di usia remaja akan berdampak pada kematian ibu dan bayi yang disebabkan oleh organ reproduksi ibu yang belum matang. Banyak penelitian yang telah dilakukan di Indonesia khususnya di Provinsi Kalimantan Barat yang mengungkapkan hal tersebut. Disisi lain persalinan remaja juga akan mengakibatkan remaja hidup dalam status sosial ekonomi yang rendah, karena tidak adanya pekerjaan dan penghasilan yang layak akibat rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki. 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menurut Perpres Nomor 62 Tahun 2010 adalah lembaga pemerintah non-kementrian yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada presiden melalui menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan. BKKBN bertugas melaksanakan fungsi pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.

Dalam melaksanakan tugasnya, BKKBN mempunyai visi dan misi yaitu “Penduduk Tumbuh Seimbang 2015”. Adapun misinya yaitu “mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera”. Dalam menjalankan visi dan misinya tersebut BKKBN mengeluarkan beberapa program terobosan khususnya dalam mengantisipasi dan menanggulangi dampak negatif dari persalinan di usia remaja yaitu BKB (Bina Keluarga Balita), meskipun Program BKB ini tidak dimaksudkan untuk hal tersebut.

Program BKB dicanangkan BKKBN sejak tahun 1984. BKB dibentuk sebagai wadah kegiatan keluarga yang mempunyai anak balita agar keluarga tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lain dalam pembinaan tumbuh kembang anak yang dilakukan sejak dalam kandungan (BKKBN, 2014). Orangtua yang aktif dalam Program BKB diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dalam mengasuh anak dengan pola asuh yang tepat, meskipun ibu dari balita tersebut memiliki pendidikan yang tergolong rendah. Pengetahuan yang diberikan berupa penyuluhan mengenai tumbuh kembang anak yang terdiri dari tugas-tugas perkembangan anak dan stimulasi yang diberikan orangtua agar anak dapat menjalankan tugas perkembangannya dengan baik sesuai dengan fasenya. Anak yang dapat menjalankan tugas perkembangannya dengan baik maka dapat dipastikan akan dapat berhasil menjalankan tugas perkembangan tersebut pada periode selanjutnya yaitu remaja dan dewasa juga dapat berjalan dengan baik, dan begitupula sebaliknya ketidaksuksesan seseorang dalam menjalankan tugas perkembangannya akan berpengaruh pada kesuksesan, sehingga akan terbentuk generasi yang berkualitas.

Remaja yang ikut aktif dalam BKB akan mendapatkan pengetahuan mengenai tujuh aspek perkembangan anak, antara lain: aspek Gerakan Kasar (GK), aspek Gerakan Halus (GH), aspek Komunikasi Pasif (KP), aspek Komunikasi Aktif (KA), aspek Kecerdasan (KC), aspek Menolong Diri Sendiri (MD), dan Tingkah Laku Sosial (TS). Tujuh aspek perkembangan anak tersebut tertuang dalam Kartu Kembang Anak (KKA) yang dibagikan pada kader dan anggota BKB. Maksud dari pemberian pengetahuan tentang aspek-aspek perkembangan anak tersebut adalah untuk memudahkan keluarga yang menjadi anggota BKB untuk dapat memonitoring perkembangan anak, membimbing dan membina anaknya dengan cara asih dan asuh sesuai dengan tingkat perkembangan anaknya, serta dapat mendeteksi secara dini hambatan perkembangan yang dimungkinkan dialami oleh anaknya.

Selain dapat mendeteksi hambatan perkembangan anak, keluarga yang aktif dalam kegiatan BKB khususnya keluarga remaja akan mendapatkan pengetahuan tentang cara menstimulasi perkembangan anaknya. Salah satu contoh yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menstimulasi perkembangan Gerakan Kasar pada anak contohnya gerakan merangkak adalah dengan mengajak anaknya bermain “kucing-kucingan” atau binatang lain yang jalannya merangkak. Hal ini dimaksudkan agar kekuatan otot anak terlatih, sehingga untuk perkembangan gerakan kasar lainnya seperti duduk sendiri, berdiri dan berjalan tanpa bantuan dapat dilalui anak dengan mudah. Hal ini harus benar-benar mendapat perhatian yang serius dari orang tua. Karena jika melihat kondisi dimasyarakat khususnya masyarakat Kalimantan Barat, banyak orangtua yang bangga mempunyai balita yang dapat berjalan dengan cepat karena bantuan “baby walker”. Padahal jika ditinjau dari segi kesehatan, anak yang dapat berjalan dengan cepat tanpa melalui tahapan-tahapanya akan berpengaruh pada perkembangan ototnya. Dimana otot anak yang menggunakan baby walker akan cenderung berkembang pada otot yang salah. Hal ini diungkapkan oleh dr. Irwanto anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (2013). Lebih lanjut diungkapkan bahwa baby walker memperkuat tungkai bawah, tetapi tungkai atas (paha) dan pinggul tetap tidak terlatih. Padahal tungkai atas dan pinggul sangat penting untuk berjalan. Jadi pemakaian baby walker tidak bermanfaat untuk melatih anak berjalan. Pengetahuan seperti ini sulit didapat oleh remaja, yang menjadi orangtua pada usia dini, dari lingkungannya.

Banyaknya tambahan pengetahuan dan keterampilan yang didapat orangtua, khususnya orangtua berusia remaja yang kebanyakan sangat minim pengetahuan tentang cara mengasuh anak yang baik dan benar, perlu mendapat motivasi agar segera masuk dan aktif menjadi anggota BKB agar anak yang terlanjur lahir dalam kondisi “kurang beruntung” dapat tumbuh menjadi generasi yang berkualitas meskipun berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang kondisi kesehatan, sosial ekonomi dan pendidikan yang kurang menguntungkan.

Penulis:

Rindang Gunawati, S.Psi

Pegawai Perwakilan BKKBN Prov. kalbar