Sitename

Description your site...

Meningkatkan usia kawin pertama melalui program Genre Kalbar Bisa

logo genre kalbar bisa

(Oleh : Drs.Pranowo Adi M.Si / Widyaiswara BKKBN Prov.Kalbar)

 Dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, yang mencapai 237,6 juta jiwa menurut hasil Sensus Penduduk 2010, isu kependudukan menjadi prioritas penting bagi Pemerintah Indonesia. Prioritas pembangunan kependudukan yang salah satunya dilaksanakan oleh BKKBN dilakukan dengan merevitalisasi program Keluarga Berencana, serta memberdayakan perempuan, generasi muda dan lanjut usia. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-undang nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Dengan dasar undang-undang ini pula, kelembagaan BKKBN yang tadinya bernama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Dengan demikian tanggung jawab pembangunan Kependudukan termasuk didalamnya tugas pengelolaan Kependudukan juga menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsi BKKBN. Kebijakan yang terpadu antara pengendalian kelahiran (fertilitas), peningkatan kesehatan untuk mencegah kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas), dan pengaturan mobilitas (migrasi) penduduk.

Di bidang kesehatan, anak-anak yang kurang gizi, dan tidak memperoleh kesempatan bertumbuh kembang dengan baik sehingga pada masa remajanya pertumbuhannya tidak optimal, terlibat dalam penyalahgunaan obat dan narkotika serta penyakit HIV/AIDS menambah beban manusia Indonesia sehingga daya saingnya terus menurun seperti tampak pada peringkat Human Development Index (HDI/IPM). Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya adalah remaja yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,70%) dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,30%). Remaja memiliki peran penting dalam pembangunan. Kedudukan dan peran strategis remaja ini tercermin dari eksistensinya sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan sebagai agen perubahan (agent of change) yang merupakan perwujudan dari kedudukan dan perannya dalam pembangunan nasional. Namun yang harus disadari bersama adalah kedudukan dan peran strategis remaja tersebut tidak akan bermakna apabila kita melihat kondisi eksisting remaja saat ini, yaitu terjadinya degradasi kemampuan remaja dalam berbagai bidang diantaranya masih banyaknya angka putus sekolah, tingginya angka pengangguran usia produktif serta rendahnya rasa kebersamaan dan nasionalisme.

Melihat besarnya jumlah penduduk kelompok remaja tersebut di atas akan sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya dimasa yang akan datang. Kondisi yang terlihat saat ini adalah kurangnya memiliki daya saing, kurang produktif dan kreatif, mudah menyerah serta banyak yang terlibat berbagai persoalan sosial dam kriminalitas. Mengingat yang termasuk dalam kategori remaja dengan usia 10-24 tahun adalah wanita yang termasuk dalam kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang sangat berpotensi menambah jumlah penduduk, apabila melakukan hubungan seks pra nikah sehingga berdampak kepada terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh terhadap kualitas penduduk di daerah ini. Apabila persoalan ini terus berlanjut, maka akan membawa pengaruh terhadap pertambahan penduduk maupun laju pertumbuhan penduduk di Kalimantan Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya yang saat ini sudah cukup mengkhawatirkan.

Untuk itu perlu dilakukan langkah transformatif untuk mencapai kondisi yang diharapkan dengan pembentukan Tim Kerja GenRe di BKKBN dan dengan stakeholder dan mitra kerja dengan mengoptimalkan MOU yang sudah ada melalui rapat-rapat koordinasi yang terjadwal, serta mengoptimalkan sumber daya tersedia baik yang ada di BKKBN maupun pada Stakeholder dan Mitra kerja serta sumberdaya yang ada pada kelompok remaja yang bergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja itu sendiri. Hal ini dilakukan dengan membentuk Distric Working Group Genre di kabupaten dan kota serta pembentukan Forum PIK Remaja di Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dibekali dengan ketrampilan life skil serta terbentuknya model “Kampung GenRe”.

Strategi yang dikembangkan adalah model Generasi Berencana Kalimantan Barat Bersatu, Inovatif, Sinergis dan Adaptif atau GenRe Kalbar Bisa adalah suatu rancangan upaya perubahan yg sangat penting di provinsi Kalimantan Barat. Generasi Berencana adalah suatu kelompok kaum muda berusia 10 – 24 tahun belum menikah yang pada tahun 2015 diproyeksikan akan berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa atau hampir 30 persen dari jumlah penduduk di provinsi Kalimantan Barat yang berjumlah 4,8 juta jiwa. Kata Berencana ini adalah bentuk suatu pencapaian tujuan yang harus direncanakan terutama berkaitan dengan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja yang meliputi merencanakan pendidikan setinggi mungkin, merencanakan karirnya, merencanakan kapan harus menikah dan berapa jumlah anak ideal yang rencanakan serta berperilaku hidup sehat dan berpartsipasi dalam kehidupan di masyarakat

Selain itu langkah yang harus dilakukan adalah memodifikasi konten atau slogan strategi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) agar tujuan utama GenRe ini dapat tercapai lebih baik, dari Triad KRR menjadi “Triad KRR Plus”. Sehingga konten slogan tidak lagi hanya Tolak Sex Bebas, Tolak Napza, Tolak HIV/AIDs tetapi juga “Tadak Kawen Mude” atau menolak menikah diusia muda. Saluran komunikasi yang digunakan juga yang lebih youth friendly seperti media sosial, media massa dan lain lain dengan tetap memperhatikan kearifan lokal.

Harapan selanjutnya adalah tingginya tingkat kelahiran remaja usia 15-19 tahun bisa diturunkan, tingkat usia kawin pertama perempuan bisa dinaikan menjadi minimal 21 tahun; Indeks pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi remaja di Kalimantan Barat rendah bisa ditingkatkan; Prosentase remaja pernah mendengar dan mengikuti PIK Remaja rendah meningkat; Informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) melalui PIK remaja juga akan meningkat; dan Pembinaan petugas kepada Keluarga yang mempunyai anak remaja juga akan semakin lebih baik; serta Remaja yang mendengar istilah ‘GenRe’ akan semakin tinggi. Untuk itu perlu diambil langkah-langkah perubahan (transformation) melalui akselerasi dari program GenRe di Provinsi Kalimantan Barat sehingga pelaksanaan program Genre di Provinsi Kalimantan Barat akan dapat menjadi rujukan bagi provinsi lain. (by Ad)

Tags:

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.