Menyongsong RPJMN III, BKKBN BertekadTingkatkan Capaian ber-KB

Memasuki RPJMN ke-3 dan mendukung program pemerintah yang baru ini, BKKBN dituntut untuk bekerja keras dalam meningkatkan kualitas perencanaan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga(KKBPK) di tahun 2015 guna mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.

Dalam sambutannya pada acara Konsolidasi Perencanaan Program dan Anggaran Tahun 2015 yang diselenggarakan pada hari Senin, 14 September 2014 di Hotel Grand Aquila, Bandung. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Prof. Dr. Fasli Djalal, mengajak seluruh Kepala Perwakilan dan Sekretaris BKKBN di Provinsi  untuk meningkatkan cakupan ber-KB pada tahun 2015. Dengan meningkatkan cakupan ber-KB pada masyarakat akan berdampak pada menurunnya TFR yang akhirnya bermuara pada menurunnya angka Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP).

Dalam menyongsong RPJMN III dan mendukung program pemerintahan yang baru, BKKBN bergerak di tiga domain penting, yaitu menangani masalah kuantitas penduduk, kesehatan reproduksi, dan pembangunan keluarga.

Menurut data SDKI 2012, capaian BKKBN dalam mengajak masyarakat ber-KB adalah sebesar 57,9%.Pada tahun 2015,diharapkan BKKBN dapat menambah angka tersebut sebanyak 2,1% sehingga capaian ber-KB masyarakat 61%. Menurut data SUSENAS yang dilihat dari tahun 2012 hingga 2015 nampak titik keberhasilan BKKBN dalam meningkatkan cakupan masyarakat untuk ber-KB.

Selain itu, Kepala BKKBN juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa cakupan ber-KB akan dititikberatkan menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dengan target pada tahun 2015 sebanyak 20% capaian menggunakan MKJP. Untuk mencapai target-target tersebut, Kepala BKKBN meminta keseriusan dari masing-masing satker yang ada di 33 provinsi.Beliau berharap tiap satker dapat berjuang dengan kekuatan yang penuh.

Sejak tahun 1990 hingga tahun 2000, laju pertumbuhan penduduk sudah berhasil diturunkan menjadi 1,45% walau laju pertumbuhan penduduk yang ideal sesuai dengan target pemerintah adalah 0,5%.Namun Prof Dr. Fasli Djalal mengingatkan agar berhati-hati dalam melihat perkembangan yang ada. Hasil Sensus 2000 sampai dengan 2010 angka laju pertumbuhan penduduk meningkat hingga 1,49%.Jika angka itu dibiarkan, maka proyeksi penduduk pada tahun 2035 yang sejatinya 305 juta jiwa akan bertambah menjadi 343 juta jiwa.Itu berarti ada sekitar 38 juta jiwa yang lahir tidak terencana.Dengan begitu, untuk yang 38 juta jiwa lahir tersebut tentunya pemerintah harus menyediakan pangan, pendidikan, kesehatan, sarana air bersih, rumah untuk tinggal, dan lapangan pekerjaan agar mereka yang lahir tersebut dapat menjadi manusia yang memiliki IPM yang tinggi.

Program kerja yang dilaksanakan saat ini bertujuan agar setiap anak yang lahir adalah anak yang berkualitas, untuk dapat bersaing dalam segala hal dan nantinya akan membanggakan keluarga, bangsa dan negara.