MOBILITAS PENDUDUK INTERNASIONAL: ALASAN DAN CARA

No comment 1423 views

Masih segar ingatan kita terhadap nasib Siti Zaenab, TKI yang dieksekusi mati di Arab beberapa hari yang lalu. Selasa kemarin, 14 April 2015, Pemerintah Arab Saudi mengeksekusi mati Siti Zaenab binti Duhri, 47 tahun, buruh migran asal Bangkalan, Jawa Timur, pada pukul 10.00 waktu setempat. Siti sendiri dipidana atas kasus pembunuhan istri majikannya, Nourah binti Abdullah Duhem al Maruba, pada 1999 yang kemudian ditahan di Penjara Umum Madinah sejak 5 Oktober 1999.
Terlepas dari alasan dan mengapa TKI kita banyak yang bernasib kurang baik di negeri orang, pada ulasan kali ini, penulis mencoba mengulas latar belakang bagaimana para migran pergi ke luar negeri, serta bagaimana kaitan kebijakan pengarahan mobilitas internasional termasuk diantaranya permasalahan TKI.

Alasan Utama
Jika diperhatikan, terdapat beberapa alasan yang menjadi dasar para migran pergi ke luar negeri. Penulis mencatat setidaknya ada tiga alasan mendasar yang mendasari mereka hijrah ke manca negara. Alasan yang pertama yaitu adanya Wage gaps atau kesenjangan upah. Wage gaps banyak dijadikan alasan para migran pindah ke luar negeri yakni dengan maksud memperoleh keuntungan (uang) di negara luar yang tentunya lebih kaya atau dengan kata lain perpindahan mereka ke luar negeri karena adanya perbedaan upah yang mencolok dibandingkan di negara asal. Selain itu, wage gaps banyak dijadikan para migran sebagai alasan mereka untuk membuka mata atau menambah cakrawala.

Alasan kedua yakni The Need for Worked atau kebutuhan untuk bekerja. Pada alasan yang kedua ini, dikenal adanya Pulling up & Pulling down of employment. Pulling up of employment diartikan bahwa pekerja dengan latar belakang pendidikan di bawah kebutuhan, masuk ke bidang pekerjaan yang sebenarnya memerlukan pendidikan yang lebih tinggi. Kondisi ini banyak terjadi pada saat harga minyak melambung pada era 80-an, sehingga negara luar terutama negara timur tengah sangat banyak membutuhkan tenaga kerja. Kebalikannya, yaitu Pulling down of employment yakni pekerja dengan latar belakang pendidikan tinggi, memasuki bidang pekerjaan yang sebenarnya diperuntukkan bagi pekerja berpendidikan rendah. Kondisi ini banyak terjadi seperti sekarang ini, bahkan kondisi ini banyak ditemui di negera kita. Pekerjaan yang sebenarnya hanya butuh pekerja dengan latar belakang pendidikan SMA, banyak dimasukki oleh pekerja dengan pendidikan Perguruan Tinggi. Jika kita melihat migran yang pergi ke luar negeri, banyak sekali dari mereka yang bekerja tidak sesuai dengan pendidikan. Berdasarkan situs resmi BNP2TKI, penempatan TKI periode 1 Januari s.d. 28 Februari 2015, TKI yang berpendidikan SMA berjumlah 11.515 orang, disusul SMP 17.900 orang dengan mayoritas bekerja sektor domestik (11.954 orang). Kondisi ini menunjukkan setidaknya pekerjaan sektor domestik yang seharusnya bisa diisi oleh pekerja dengan latar belakang pendidikan SMA/SMP kebawah, terpaksa diisi oleh mereka yang berpendidikan SMA ataupun SMP.

Alasan ketiga yang medasari mereka pergi ke luar negeri adalah Development Disruption (Gangguan Pembangunan) dan Personal Disruption atau Gangguan Pribadi termasuk Gangguan Keluarga (Family Disruption). Pada alasan yang ketiga ini, biasanya terjadi akibat adanya gangguan dalam pembangunan sosial ekonomi, atau adanya involusi atau bias kota, serta adanya urbanisasi semu yang justru menimbulkan pengangguran. Gangguan personal dalam migrasi timbul sebagai perilaku hidup yang diturunkan antar generasi atau culture of migration. Urban involution atau sering dikenal sebagai urban bias, diartikan bahwa pembangunan banyak dilakukan di daerah-daerah yang memang sudah banyak penduduknya. Sementara itu, daerah yang penduduknya sedikit, seringkali terlewatkan dari proses pembangunan. Kondisi ini banyak sekali dilihat di negara kita. Daerah perdalaman, tertinggal, terpencil dan perbatasan nyaris tidak berubah kondisinya secara signifikan.
Dalam perbincangan migrasi internasional, sering dikenal juga istilah culture shock atau kegoncangan perilaku budaya. Kegoncangan perilaku budaya yang diakibatkan migrasi ke luar negeri ini diakibatkan oleh TKI yang tidak siap melihat dan menerima kondisi budaya luar. Begitu calon TKI melihat kondisi di luar negeri, mereka kaget dan ingin kembali ke negara asal, sementara itu begitu kondisi keluarganya (keluarga di rumah tidak menarik), mereka tidak bisa menerima dan ingin kembali ke luar negeri.

Bagaimana orang pergi ke luar negeri?
Menurut berbagai sumber yang diperoleh, penulis mencatat enam cara bagaimana seseorang pergi ke luar negeri. Pertama karena adanya Colonial Path atau aspek kolonial. Hal ini banyak terkait dengan penjajahan/histori. Kita bisa melihat banyaknya orang Jawa yang ada di Suriname. Adanya orang Jawa di Suriname ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perkebunan-perkebunan yang dibuka di sana. Pada akhir 1800-an, Belanda mulai mendatangkan para kuli kontrak asal Jawa, India dan Tiongkok. Orang Jawa awalnya ditempatkan di Suriname tahun 1880-an dan dipekerjakan di perkebunan gula dan kayu yang banyak di daerah Suriname.

Cara yang kedua adalah Family Ties dimana negara penerima migran memberikan prioritas kepada pendatang yang mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Cara yang ketiga adalah adanya Network atau Jaringan. Misalnya kita melihat adanya pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri melalui jasa PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) yang memang sudah memiliki jaringan luas di luar negeri. Cara keempat yakni dengan cara menyelundup atau disebut Smugglers (penyelundup). Penyelundup ini biasanya melalui proses independen artinya keinginan sendiri pergi ke luar negeri dengan cara menyelundup. Penyelundupan ini merupakan bentuk perpindahan secara illegal ke luar negeri yakni dengan masuk ke negara orang tanpa biaya. Cara yang terakhir adalah sebagai Trafficker. Proses terakhir ini biasanya tidak independen, melainkan adanya unsur eksploitasi. Misalnya calon pekerja yang semula ditawari sebuah pekerjaan yang layak, namun pada kenyataannya dipekerjakan sebagai wanita penghibur, pekerja seks komersial dan lain sebagainya.

Kebijakan Pengarahan Mobilitas Penduduk Internasional
Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri saat ini kebanyakan masih berupa tenaga kerja yang tidak profesional, artinya Tenaga Kerja Indonesia bekerja pada sektor domestik, konstruksi dan jasa sopir. Beberapa provinsi di Indonesia ada yang menyatakan bahwa migrasi internasional menjadi sumber devisa, meskipun secara nasional belum menemui kesepakatan. Masih ada tarik ulur dari berbagai pihak, sehingga muncullah moratorium TKI (TKI informal). TKI yang tidak profesional menyebabkan perlindungan tidak maksimal. Kondisi yang diinginkan adalah adanya integrasi antara migrasi, perburuhan, perdagangan dalam satu unit manajemen, sehingga tenaga kerja dalam konteks internasional dapat diberikan perlindungan, difasilitasi secara profesional, sehingga ada pengakuan yang saling menguntungkan (mutual recognition) antara negara penerima, negara pengirim, dan diri TKI itu sendiri. Selain itu, perlu dilakukan Labour Market Test yakni penempatan pasar melalui tes, sehingga penempatan mereka di luar negeri memang benar-benar sesuai dengan keinginan pasar.
Semoga dengan terciptanya kondisi yang saling menguntungkan antara negara pengirim, negara penerima dan menguntungkan bagi TKI itu sendiri, akan menciptakan kesejahteraan bagi semuanya. Jangan sampai TKI yang disebut-sebut sebagai pahlawan devisa, keadaan mereka di negara luar justru mengkhawatirkan, atau bahkan terancam. Demikianlah ulasan yang sangat singkat terkait bagaimana dan alasan kepergian para migran ke luar negeri. Tentunya saran dan masukan dari pembaca sangatlah penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan tulisan ini serta tulisan berikutnya (tan).