Sitename

Description your site...

Orientasi Teknis Dasar-dasar Demografi

headerBEKASI, 3-6 DESEMBER 2012

Tenaga pengelola perencanaan pengendalian penduduk di BKKBN tingkat pusat dan provinsi haruslah memiliki wawasan yang luas dan keterampilan analisis yang memadai terkait dengan kondisi kependudukan dan permasalahannya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan usaha peningkatan kompetensi yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan Orientasi Teknis Dasar-Dasar Demografi sebagai dasar pemahaman terkait bidang perencanaan pengendalian penduduk, khususnya dalam menyusun proyeksi penduduk tingkat provinsi.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan orientasi teknis dasar-dasar demografi dalam rangka peningkatan kompetensi bagi tenaga pengelola perencanaan pengendalian penduduk (Kepala Subbidang Penetapan Parameter Kependudukan tingkat provinsi). Sehingga peserta diharapkan dapat:

  1. Memahami materi dasar-dasar demografi terkait dengan perencanaan pengendalian penduduk.
  2. Memiliki sensitivitas terhadap bidang kependudukan dan permasalahannya di provinsi yang bersangkutan.
  3. Menerapkan materi yang diperoleh dalam bidang tugasnya di BKKBN.

Orientasi ini berlangsung selama empat hari pada hari Senin-Kamis, 3-6 Desember 2012 di Hotel Horison Bekasi, Ruang Cikurai Lantai 3, Bekasi Barat. Dalam kegiatan ini diajarkan materi Pengantar Demografi; Struktur, Piramida, dan Persebaran Penduduk; bKonsep dan Pengukuran Fertilitas, Mortalitas, dan Migrasi; Life Table; serta materi Proyeksi Penduduk.

Pembukaan yang semula dijadwalkan pada hari Senin, 3 Desember 2012 pukul 19.30 WIB diundur pelaksanaannya pada hari Selasa, 4 Desember 2012 pukul 08.20 WIB. Orientasi dibuka oleh Dra. Anita Dini Sudarnati. Beliau menyampaikan permohonan maaf Direktur Perencanaan Pengendalian Penduduk yang tidak dapat membuka acara ini karena harus menghadiri Global Youth Conference di Bali.

Dalam materi Pengantar Demografi yang disampaikan olehZainul Hidayat dari LDFE Universitas Indonesia, disampaikan hal-hal berikut:

  • Demografi telah mulai dipelajari pada tahun 1762 oleh Johan Sussmilch. Ia mendefinisikan demografi sebagai ilmu yang mempelajari hukum tuhan yang berkaitan dengan perubahan manusia meliputi kelahiran, kematian, dan pertumbuhannya.
  • Bapak Demografi, Donald J. Bogue, pada tahun 1969 mengaitkan kependudukan lebih kepada pendekatan statistik (demografi murni). Sementara George W. Barclay pada tahun 1970 lebih mengarahkan demografi kepada penggambaran secara statistik mengenai perilaku penduduk secara menyeluruh.
  • Fokus demogafi adalah perubahan jumlah, persebaran, dan komposisi/struktur penduduk.
  • Adolphe Landry (1945) menyarankan perlu ada pembedaan demografi murni dan studi kependudukan. Demografi murni (pure demography) menghasilkan teknik-teknik untuk menghitung indikator-indikator demografi. Sedangkan studi atau analisis kependudukan yang lenih luas adalah studi mengenai hubungan antar faktor-faktor perubahan penduduk dan faktor-faktor pembangunan. Studi ini berusaha menjelaskan sebab akibat perubahan variabel demografi.
  • Kepadatan penduduk di Jakarta saat ini lebih kurang 18.000 jiwa/km2.
  • Teori-teori kependudukan dari Malthus sampai Neo-Malthusian, pronatalis dan antinatalis membahas hubungan antara jumlah manusia dengan daya dukung (carrying capacity) lingkungan.
  • Transisi demografi lebih mudah dianalisis apabila generasi dan penduduknya tidak banyak mengalami perubahan. Contohnya DI Yogyakarta sering mengalami perubahan penduduk akibat besarnya migrasi masuk dari kelompok umur muda karena alasan pendidikan. Sulit melakukan analisis posisi DIY dalam keempat fase transisi demografi.
  • Registrasi vital sulit dilakukan pada masyarakat yang pola pikirnya masih sangat sederhana.
  • Ciri-ciri sensus penduduk: individual, universal, pencacahan bersifat menyeluruh, serentak di seluruh wilayah cakupan, secara periodik (10 tahunan). Sensus penduduk tidak dapat digantikan oleh sumber data yang lain karena kekhususan karakteristik sumber data ini.
  • Survei dilakukan untuk memperoleh data yang lebih rinci tentang suatu hal. SKRT (survei kematian) terakhir dilakukan pada tahun 2002, saat ini sudah dimasukkan kedalam Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilaksanakan setiap tahun. Sakernas dilakukan dua kali dalam setahun, Februari dan November, sesuai dengan kondisi musim di Indonesia. Umumnya pelaksanaan pada bulan Februari, estimasinya hanya sampai dengan tingkat provinsi; sementara pelaksanaan pada bulan November, estimasinya sampai ke tingkat kabupaten/kota.
  • Data survei sangat khusus sehingga perlu kehati-hatian dalam menerapkan analisis untuk pengambilan keputusan. Pahami dulu desain awal suatu survei untuk tujuan apa. Contoh pada saat ingin menghitung TFR berdasar hasil SUSENAS, cari tahu apakah SUSENAS memang didesain untuk menghasilkan data TFR. Kalaupun tidak, tetapi apabila jumlah wanita usia subur (WUS) yang terjaring dalam SUSENAS representatif sesuai jumlah WUS dalam populasi, maka data TFR bisa diambil dari SUSENAS.
  • Tren penduduk 1971-2010 menunjukkan bahwa lonjakan pertumbuhan penduduk terbesar adalah di Jawa Barat, sedangkan provinsi lain, pertumbuhan penduduknya cenderung landai.
  • Berdasarkan kesepakatan yang diterima, TFR hasil SP2010 adalah 2,414. TFR hasil sensus penduduk:

 

Sensus

1971

1980

1990

2000

2010

TFR

5,605

4,680

3,326

2,344

2,414

 

  • TFR Kalimantan Barat berdasar SP2010 adalah 2,639.
  • Kelahiran di Indonesia terjadi setiap 7,36 detik atau 4,3 juta per tahun.
  • Kematian bayi di Indonesia terjadi setiap 3,6 menit sekali (IMR 34 per 1000 kelahiran hidup).
  • Usia kawin pertama (UKP) mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan jumlah WUS yang menikah pada kelompok umur 15-19 tahun sehingga jumlah WUS yang menikah pada usia 25-29 tahun menurun dibanding pada kohor sebelumnya.

Materi berikutnya yakni “Struktur, Piramida, dan Persebaran Penduduk”, juga disampaikan oleh Zainul Hidayat (LDFE Universitas Indonesia), berisi:

  • Tiga fenomena penduduk: komposisi, dinamika (perubahan jumlah penduduk pada suatu tempat dan waktu tertentu), dan persebaran penduduk.
  • Setiap kelompok umur memiliki perilaku dan kebutuhan yang berbeda. Misalnya kebutuhan makan bayi dan balita tentulah tidak sama dengan kebutuhan makan penduduk kelompok umur 20-24 tahun. Kebutuhan penduduk laki-laki dan perempuan atau perkotaan dan pedesaan tentulah tidak sama. Hal ini perlu diperhatikan pada saat membaca piramida penduduk.
  • Penduduk Jawa Barat dan Pulau Sumatera berdasar hasil SP2010 masing-masing lebih dari 50 juta jiwa. Jawa Barat (termasuk Banten) memiliki jumlah penduduk terbesar, disusul Pulau Sumatera dan Jawa Timur. Posisi keempat diduduki oleh Jawa Tengah. Sulawesi, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara masing-masing menempati posisi kelima, keenam, dan ketujuh dalam hal jumlah penduduk.
  • LPP di Pulau Jawa kelihatan kecil karena pembaginya banyak; sedangkan jumlah penduduk Papua sedikit, sehingga pembaginya pun sedikit, akibatnya LPP Papua terlihat besar.
  • Persentase buta huruf usia 10 tahun keatas di Indonesia pada tahun 2011 masih cukup besar yaitu 6,34%. Perempuan (8,47%) lebih banyak daripada laki-laki (4,19%).
  • Urbanisasi adalah jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Saat ini 49,6% penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan.
  • Sex ratio yang ideal secara demografi adalah antara 95 sampai dengan 105.
  • Migrasi bukan ancaman. Apabila pemerintah daerah khawatir bahwa keberadaan transmigran akan membahayakan keberadaan penduduk lokal, sebaiknya buat kontrak bahwa mereka akan menjadi transmigran dalam jangka waktu tertentu dan kemudian kembali ke daerah asal mereka.
  • Salah satu upaya meyakinkan pemerintah daerah untuk mendukung perencanaan pengendalian penduduk adalah dengan mengajukan analisis cost-benefit dari kebutuhan setiap penduduk baru. Misalnya biaya pangan, kesehatan, pendidikan dan penciptaan lapangan kerja yang harus disediakan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan penduduknya. Analisis sex ratio juga bisa dijadikan salah satu bahan advokasi.

Bapak Febri Wicaksono dari Sekolah Tinggi Ilmu Statistik menyampaikan materi Konsep dan Pengukuran Fertilitas, sebagai berikut:

  • BPS selalu melakukan pendataan pada pertengahan tahun untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
  • Perhitungan jumlah kelahiran tidak bisa menggunakan data jumlah penduduk 0 tahun karena jumlah penduduk 0 tahun hanya menggambarkan jumlah penduduk yang survive atau masih hidup pada saat pendataan berlangsung. Padahal tidak semua bayi lahir hidup pasti hidup, ada peluang mengalami kematian. Singkatnya, jumlah penduduk 0 tahun tidak sama dengan jumlah kelahiran setahun.
  • Metode penghitungan fertilitas ada dua cara, langsung dan tidak langsung. Metode penghitungan langsung: CBR, GFR, ASFR, dan TFR. Metode penghitungan tidak langsung: P/F ratio, rele, palmore, gunasekaran-palmore, anak kandung (own children).
  • Metode yang digunakan BPS dalam menghitung TFR adalah metode anak kandung. Metode ini menggunakan teknik reverse-survival. Data yang dibutuhkan adalah data hubungan dengan kepala rumah tangga (KRT).
  • Variabel penentu fertilitas meliputi variabel intercourse, konsepsi dan gestasi. Davis & Black membaginya menjadi 11 variabel antara dan dimampatkan menjadi 7 variabel oleh Bongaarts pada tahun 1978.
  • Kerangka berpikir untuk melakukan analisis fertilitas dari Freedman (1975).
  • SP1990 dilakukan pada bulan Oktober, bukan tengah tahun.
  • Data hasil pendataan keluarga yang dimiliki oleh BKKBN dapat menghasilkan ukuran CWR. Data CWR hasil pendataan keluarga 2010 dikombinasikan dengan IMR dan AHH hasil SP2010 dapat menghasilkan ukuran TFR dengan Metode Palmore.

Sarni Maniar Berliana yang juga berasal dari STIS mengajarkan tiga materi, yakni Konsep dan Pengukuran Migrasi, Konsep dan Pengukuran Mortalitas, dan Life Table:

  • Migrasi internal (minimal 6 bulan): in-migration dan out-migration. Migrasi internasional (minimal setahun): immigration dan emigration.
  • Recent migration: migrasi lima tahun yang lalu.
  • Untuk migrasi yang dihitung hanyalah kelompok penduduk diatas usia 5 tahun.
  • Data migrasi risen (yang terjadi dalam lima tahun terakhir) neto per kelompok umur per jenis kelamin dibutuhkan untuk membuat proyeksi penduduk.
  • SP2010 dilakukan pada bulan Mei 2010, sehingga penduduk tengah tahun adalah jumlah penduduk pada bulan November 2009. Cara menghitung jumlah penduduk bulan November 2009 adalah menghitung mundur dari Mei 2010 dengan LPP dimana t-nya = 6 (bulan).
  • Data MMR yang diperoleh dari data SP2010 sebenarnya kurang sesuai untuk menghitung MMR. Data itu lebih cocok untuk menghitung pregnancy-related death (Sarni Maniar Berliana).
  • Untuk menghitung kematian secara tidak langsung, dapat menggunakan aplikasi MORTPAK (yang terbaru adalah versi 4.3). Data input adalah ALH dan AMH per perempuan (bukan per perempuan pernah kawin) pada usia 15-19 tahun sampai dengan 45-49 tahun. Pada MORTPAK, kita bekerja pada aplikasi FERTCB dan QFIVE.
  • Cara membaca ALH: Rata-rata ALH untuk perempuan kelompok umur 10-14 tahun di Kalimantan Barat adalah 0,0007958669. Artinya, ada 8 anak lahir hidup pada setiap 10.000 perempuan kelompok umur 10-14 tahun.
  • Rata-rata banyaknya anak masih hidup per wanita kelompok umur 10-14 tahun = jumlah anak pernah lahir dari wanita kelompok umur 10-14 tahun/jumlah wanita kelompok umur 10-14 tahun.
  • AMH harus lebih kecil dari ALH. Yang aman, jumlah desimalnya harus disamakan, jadi kalau ALH 5 desimal, AMH juga harus 5 desimal.
  • Life table digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan data rate atau rasio.
  • Kohor adalah sekelompok orang yang mengalami suatu peristiwa pada suatu periode yang sama, misalnya: sama-sama lahir dalam tahun yang sama, sekolah pada tahun yang sama, dll.
  • Informasi dasar yang dibutuhkan untuk membuat life table adalah ASDR.
  • Asumsi dalam membuat life table: tidak ada migrasi, tidak ada perubahan dalam resiko kematian, besaran kohor merupakan jumlah tetap, dan jumlah kematian menyebar secara merata.
  • Kita biasanya menggunakan life table yang kelompok umur (abridged).
  • Semakin rendah IMR suatu negara, maka level negara itu dalam life table akan semakin tinggi. Misalnya saat ini Indonesia dalam life table Coale-Demeny West ada di level 25, suatu saat bila IMR kita menurun, maka level kita bisa meningkat menjadi 26.

Materi terakhir yakni Proyeksi Penduduk diajarkan oleh Febri Wicaksono (STIS), berisi antara lain:

  • Metode proyeksi: metode matematik (menggunakan fungsi matematika yang diterapkan pada jumlah penduduk, hanya menggunakan data penduduk keseluruhan) dan metode komponen (fertilitas, mortalitas, dan migrasi). Kedua metode akan menunjukkan hasil yang berbeda bila rentang waktu yang diambil cukup panjang.
  • Metode matematik terbagi menjadi metode aritmatik, geometrik, dan eksponensial.
  • Proyeksi penduduk hendaklah tidak terlalu lama rentangnya karena akan mengurangi akurasi hasil. Sebaiknya maksimal 30 tahun.

Kegiatan orientasi ditutup oleh Dra. Anita Dini Sudarnati dari DITRENDUK. Dalam kesempatan ini, beliau meminta agar FAPSEDU yang sudah terbentuk di provinsi masing-masing agar dirangkul dalam melakukan berbagai kegiatan advokasi, penggerakan, dan sosialisasi Program KKB. Kemudian provinsi diminta untuk segera membentuk FAPSEDU di tingkat kabupaten/kota.

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.