PAHAMILAH “CINTAMU” SEBELUM MENGAMBIL KEPUTUSAN MENIKAH

Salah satu tugas perkembangan masa dewasa adalah memilih pasangan hidup dan mengelola kehidupan rumah tangganya (menikah). Seseorang yang akan memilih pasangan hidup tidak jarang menentukannya berdasarkan cinta yang dimilikinya. Karena banyak orang yang beranggapan bahwa keberhasilan pernikahan selalu dihubungkan dengan kekuatan cinta yang melandasinya. Sayangnya tidak banyak yang tahu jenis cinta yang dijadikan pijakan dalam membina rumah tangga, sehingga terkadang menimbulkan penyesalan pada diri orang tersebut dan akhirnya memilih untuk mengakhiri rumah tangganya karena hilang atau pudarnya rasa cinta kepada pasangan yang telah dinikahinya.

Cinta kepada pasangan bisa tumbuh sebelum pernikahan dan bisa juga tumbuh setelah pernikahan. Cinta merupakan salah satu bentuk emosi yang dimiliki individu, yang kemudian mendorong individu untuk mengekspresikannya dalam bentuk tingkah laku. Cinta bersifat subjektif, oleh karenanya setiap individu mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam memaknainya. Tak jarang pengalaman hidup yang dialami oleh masing-masing individu mempengaruhinya dalam mengartikan kata cinta.

Kelley (dalam Stenberg, 1987) menyatakan bahwa cinta merupakan suatu perasaan dan tingkah laku yang positif, serta komitmen yang dimiliki oleh seseorang dalam menjaga stabilitas perasaan dan tingkah lakunya yang dapat berpengaruh pada hubungan yang sedang dijalani. Berdasarkan pengertian ini Stenberg mengeluarkan teori tentang cinta yang dikenal dengan Triangular Theory of Love atau yang biasa dikenal dengan teori segitiga cinta. Merujuk pada teori ini, Stenberg menyatakan bahwa ada tiga komponen dalam cinta yaitu intimacy (keintiman), passion (gairah)dan commitment (komitmen). Pertama, intimacy adalah perasaan dalam suatu hubungan yang mendorong individu untuk selalu berusaha menjalin kedekatan, keterikatan dan ketertarikan dengan individu yang dicintainya. Kedua, passion adalah dorongan dalam diri individu untuk selalu dekat secara fisik, menikmati atau merasakan sentuhan fisik, dan adanya hasrat seksual dengan individu yang dicintainya. Adapun Commitment adalah keputusan seseorang untuk bertahan dengan individu yang dicintanya dan tetap bertahan sampai akhir.

Ketiga komponen cinta tersebut memunculkan delapan kombinasi jenis cinta antara lain:

  1. Liking, adalah cinta individu yang hanya memiliki intimacy, tanpa adanya passion dan commitment.
  2. Infatuated Love, yaitu cinta pada pandangan pertama. Individu yang memiliki jenis cinta ini, biasanya menganggap individu yang dicitainya sebagai sosok ideal. Passion muncul secara tiba-tiba, hasrat emosi dan kontak fisik yang tinggi sehingga terkadang menyebabkan individu menjadi posesif terhadap individu yang dicintainya.
  3. Empty Love, yaitu merupakan satu jenis cinta yang berasal dari keputusan untuk mencintai seseorang dan mempunyai komitmen untuk terus mencintai pasangannya meskipun tidak ada intimacy dan passion.
  4. Romantic Love, yaitu kombinasi dari intimacy dan passion. Cinta ini menempatkan seseorang tertarik kepada individu yang dicintainya karena adanya ketertarikan fisik dan emosional.
  5. Companionate Love, yaitu kombinasi dari intimacy dan commitment. Cinta jenis ini menjadikan individu yang terlibat dalam hubungan percintaan merasa seperti seorang sahabat.
  6. Fatuous Love, yaitu merupakan jenis cinta yang berlangsung secara cepat dan rapuh karena hubungannya bersifat impulsif.
  7. 7. Consummete Love/True Love, yaitu jenis cinta yang didalamnya memiliki tiga komponen cinta yaitu intimacy, passion, dan commitment. Hubungan yangdimiliki tetap menyenangkan meskipun diterpa berbagai masalah.
  8. 8. Non Love, yaitu jenis hubungan tanpa adanya rasa cinta atau rasa suka karena tidak ada komponen cinta dalam hubungan tersebut.

Jika kita mencermati jenis-jenis cinta diatas, tentunya banyak orang yang menginginkan Consummete Love/True Love dalam kehidupan rumah tangganya. Consummete Love tidak serta merta terbentuk begitu saja, tetapi butuh proses dalam mewujudkannya. Consumette Love akan lebih mudah terbentuk ketika seseorang mempunyai kesiapan yang matang dalam merencanakan pernikahannya, baik kesiapan personal mapun kesiapan kondisional. Kesiapan personal meliputi kematangan emosional yang dipengaruhi usia, kematangan sosial yang dipengaruhi oleh pengalaman pacaran, kesehatan emosional dan persiapan peran. Kesiapan kondisional yang meliputi sumber daya keuangan dan sumber daya waktu.

Berdasar hal tersebut diatas, maka perlu kiranya bagi generasi muda untuk merencanakan masa depannya, salah satunya adalah dengan melakukan Pendewasaan Usia Perkawinan. Hal ini dimaksudkan agar pada saat mereka memasuki fase pernikahan, telah memiliki kesiapan yang matang baik dari segi personal maupun kondisional sehingga akan lebih mudah terbentuk keluarga yang berkualitas yang melahirkan generasi berkualitas demi kemajuan bangsa. (rien)