PELATIHAN KONSELOR SEBAYA DIARAHKAN UNTUK MENEKAN MASALAH REMAJA

Pontianak (1/4/15) Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat mengaku prihatin terhadap masih adanya kasus trafficking atau perdagangan manusia khususnya remaja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) terselubung di daerah ini. Seperti halnya yang terungkap pada pelatihan Trainning Of Trainner (TOT) Konselor Sebaya bagi Pengelola dan Pembina Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) se-Kalimantan Barat yang dalam pekan ini berlangsung di Pontianak. Salah seorang guru BK peserta TOT yang enggan disebutkan identitasnya menyebutkan, di daerah ini siswa SMP-pun sudah ada yang menjual “kegadisan” rekannya kepada lelaki hidung belang dengan tarif tertentu. Kondisi yang tidak kalah menyedihkan adalah masih adanya perkawinan di bawah umur di beberapa kabupaten/kota di Kalbar. Masih menurut pengakuan peserta lainnya yang juga enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan, remaja putri umur 12 tahun di daerahnya sudah ada yang “terpaksa” dinikahkan karena sudah melakukan hubungan seks pranikah, sehingga terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya. Menanggapi persoalan yang ditengarai menyebabkan tingginya Age Spesific Fertility Rate (ASFR) tersebut, Pelaksana Harian Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Triswanta mengaku prihatin. Oleh karenanya pihaknya berharap dengan diselenggarakannya TOT Konselor Sebaya ini dapat menekan terjadinya kasus-kasus seperti itu. “Saya atas nama lembaga mengharapkan bapak-ibu yang diutus oleh kabupaten/kota untuk mengikuti TOT ini nantinya dapat segera membentuk dan mengembangkan PIK R/M di daerahnya masing-masing, dengan harapan dapat mengeliminir maraknya kasus-kasus yang dialami remaja tersebut,” harap Triswanta.
Menurut Triswanta ASFR Kalimantan Barat hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI tahun 2012) mencapai 104 yang sekaligus menempati peringkat satu nasional, atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang tercatat 48. Kondisi seperti ini dinilai berpengaruh terhadap tingginya angka kelahiran (TFR) di Kalbar. “Kalau tidak ditangani secara serius bukan tidak mungkin angka kelahiran di Kalbar akan semakin tinggi, sebagai akibat dari perkawinan di usia muda. Bahkan akibat perkawinan usia muda ini akan berpengaruh pada tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi yang dilahirkan,” ujar Trsiwanta. Oleh karenanya pihaknya mengajak semua peserta yang terdiri dari unsur SKPD KB dan guru Bimbingan Konseling (BK) kabupaten/kota, untuk bersama-sama membangun kepedulian agar kasus-kasus seperti ini dapat dieliminir. TOT yang berlangsung sejak Minggu 29 Maret sampai Kamis 2 April 2015 ini diikuti 32 peserta, dengan materis yang disampaikan secara ceramah, diskusi kelompok, dan praktek fasilitasi. (by Adi)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *