Sitename

Description your site...

Pemberian ASI eksklusif dan Pertumbuhan Bayi

Pengertian-ASI-EksklusifOleh: Arif Wicaksono1), Syarifah Nurul Yanti2)

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bayi (Bahiyatun, 2008). Air susu ibu merupakan makanan pertama, utama, dan terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah. Air susu ibu mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi (Prasetyono, 2009).

Bayi yang mendapat ASI dapat terhindar dari malnutrisi, baik kurang gizi maupun lebih gizi (overweight dan obesitas), mempunyai kecerdasan lebih, mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit dan masih banyak manfaat positif lain dari ASI terhadap tumbuh kembang anak (Hendarto, 2010).

Menurut World Health Organization (WHO) ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain (WHO, 2013). Sama halnya dengan WHO, Depkes RI (2007) memberikan pengertian, ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja, segera setelah bayi lahir sampai umur 6 bulan tanpa makanan atau cairan lain termasuk air putih, kecuali obat dan vitamin.

Pemberian ASI eksklusif menurut pedoman internasional dianjurkan selama 6 bulan yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat baik bagi bayi, ibu, keluarga maupun negara. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif terbukti memberikan risiko yang lebih kecil terhadap berbagai penyakit infeksi (diare, infeksi saluran napas, infeksi telinga, pneumonia) dan penyakit lainnya (obesitas, alergi, penyakit kronis) di kemudian hari (Sulanto et al, 2012; Ambarwati dan Wulandari, 2010; Behrman et al., 2007).

Manfaat pemberian ASI eksklusif sangat jelas peranannya dalam kesehatan ibu dan bayi sehingga masuk dalam program kesehatan pemerintah. Menurut profil Kesehatan Indonesia tahun 2011, cakupan pemberian ASI Eksklusif nasional adalah 61,5 % dan di Kalimantan Barat hanya mencapai 50,9 %, yang menunjukkan cakupan pemberian ASI Eksklusif di Kalbar ada di bawah rata-rata Nasional.

ASI juga berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan mempergunakan satuan panjang atau satuan berat (Tanuwidjaya, 2008).

Berat badan (BB) adalah parameter pertumbuhan yang paling sederhana, mudah diukur dan diulang. Berat badan merupakan ukuran yang terpenting yang dipakai pada setiap pemeriksaan penilaian pertumbuhan fisik anak pada semua kelompok umur karena BB merupakan indikator yang tepat untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak saat pemeriksaan (akut) (Latief, 2009).

Tinggi badan (TB) merupakan ukuran antropometri kedua yang terpenting. Pengukuran TB sederhana dan mudah dilakukan, jika dikaitkan dengan hasil pengukuran BB akan memberikan informasi penting tentang status nutrisi dan pertumbuhan fisik anak. Ukuran tinggi badan pada masa pertumbuhan dapat terus meningkat sampai tinggi maksimal dicapai. Tinggi badan merupakan indikator yang menggambarkan proses pertumbuhan yang berlangsung dalam kurun waktu relatif lama (kronis) dan berguna untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan fisik di masa lampau (Latief, 2009).

Penelitian yang dilakukan oleh Conita dkk tahun 2014 tentang perbedaan pertumbuhan bayi yang diberi ASI Eksklusif dan tidak di salah satu Puskesmas di kota Pontianak menunjukkan hasil terdapat perbedaan rerata pertumbuhan berat badan bayi usia 3-6 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan yang tidak diberi ASI eksklusif. Bayi yang diberi ASI eksklusif menunjukkan pertumbuhan yang mendekati rerata pertumbuhan normal bayi pada usia tersebut (Conita, Arundina, Wicaksono, 2014) .

Rerata kenaikan berat badan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif terbukti lebih tinggi dibandingkan bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan selisih 0,18 kg/bulan. Adapun jika dibandingkan dengan rerata kenaikan berat badan normal bayi pada usia 3-6 bulan sebesar 1,25 lb atau 0,45 kg/bulan (Behrman et al., 2007), maka selisih kenaikan berat badan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif hasil penelitian ini lebih tinggi 0,17 kg dari nilai normal. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pertumbuhan berat anak tidak ideal jika tidak diberi ASI eksklusif. Hal ini akan menaikkan berat badan, menaikkan indeks massa tubuh dan berpotensi menciptakan obesitas pada bayi atau anak.

Hasil yang didapatkan untuk panjang/tinggi badan adalah tidak terdapat perbedaan rerata pertumbuhan panjang badan bayi usia 3-6 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan yang tidak diberi ASI eksklusif (Conita, Arundina, Wicaksono, 2014). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kramer dan Kakuma (2012), yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari peningkatan panjang badan bayi usia 4-6 bulan pada bayi yang diberi ASI eksklusif selama 6 bulan dan bayi yang diberi makanan tambahan pada usia 4-6 bulan dengan selisih rerata sebesar 0,1 cm/bulan.

Hal-hal yang menyebabkan seorang ibu tidak memberikan ASI eksklusif antara lain kesibukan kerja, ASI tidak keluar atau pengetahuan si ibu terhadap ASI itu sendiri yang kurang. Pengetahuan merupakan proses terbentuknya tindakan dan tingkat pengetahuan yang telah dijelaskan oleh Notoadmojo (2007) menjadi penting kaitannya dengan proses pengetahuan ASI dan menyusui. Keberhasilan seorang ibu dalam memberikan ASI tidak terlepas dari pengeteahun ibu tentang ASI maupun berbagai faktor yang mempengaruhi produksi ASI, baik faktor yang berasal dari ibu maupun faktor yang berasal dari bayi yang disusui. Salmah (2006) mengemukakan, ibu hamil perlu untuk meningkatkan pengetahuannya tentang pentingnya ASI.

Penelitian yang dilakukan Alfiansyah tahun 2014 di RSUD dr. Soedarso Pontianak tentang pengetahuan ibu hamil mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI mendapatkan beberapa hasil sebagai berikut : pengetahuan ibu hamil mengenai ASI tergolong sangat baik, Pengetahuan ibu hamil mengenai produksi ASI tergolong cukup baik dan pengetahuan ibu hamil mengenai kontrasepsi untuk ibu menyusui tergolong kurang baik ( alfiansyah, Arundina, Wicaksono, 2014).

ASI selain merupakan sumber nutrisi yang sangat penting juga merupakan metode kontrasepsi pada ibu menyusui. Terlepas dari peran hormonal yang merupakan pokok dari proses menyusui, ASI sendiri merupakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan, namun karena kurang baiknya manajemen laktasi membuat para ibu mulai memilih alat kontrasepsi yang dianggap benar dan tepat pada masa menyusui baik yang hormonal ataupun non hormonal. Kontrasepsi merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengatur jarak kehamilan. Sampai saat ini para ahli masih memperdebatkan kapan sebaiknya kontrasepsi dimulai dan metode kontrasepsi yang sesuai pada wanita menyusui, namun yang pasti penggunaan alat kontrasepsi bagi ibu menyusui harus dipilih alat kontrasepsi yang tepat agar tidak mengganggu produksi ASI.

Pilihan penggunaan kotrasepsi untuk menunda kehamilan terutama disaat menyusui merupakan faktor yang harus dipahami ibu, baik jenis kontrasepsinya, maupun efek yang ditimbulkan agar tujuan penggunaan alat kontrasepsi tercapai tanpa membawa dampak negatif bagi bayi. Evans (dalam HTA, 2009) menyatakan pada masa menyusui seringkali wanita mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD/unwanted pregnancy) pada interval yang dekat dengan kehamilan sebelumnya karena kembalinya menstruasi dan terjadinya ovulasi sulit untuk diperkirakan, hal tersebut dikarenakan lamanya masa anovulasi pada periode pasca persalinan tergantung dari banyak faktor diantaranya: pola pemberian ASI, variasi biologis, nutrisi, geografi, budaya dan faktor sosioekonomi.

Adalah menjadi tugas kita bersama untuk memberikan pemahaman atau penyuluhan terhadap ibu hamil atau ibu menyusui mengenai pentingnya ASI Eksklusif, untuk pertumbuhan bayi dan sebagai metode kontrasepsi untuk ibu tersebut, jika memberikan ASI Eksklusif secara tepat.

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.