Pentingnya 1000 hari pertama kehidupan bagi masa depan bangsa Indonesia

like_1000Pada dua tahun terakhir ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mulai gencar mensosialisasikan pentingnya Seribu Hari Pertama Kehidupan. Hal ini dikarenakan, perhatian yang kita berikan pada 1000 hari pertama kehidupan individu akan berpengaruh pada masa depan bangsa Indonesia. Mantan Kepala BKKBN Bapak Sugiri Syarief dalam sebuah kuliah umum di Jakarta menyatakan bahwa kemajuan suatu bangsa 80% nya ditentukan oleh kualitas SDM nya, sedangkan 20% lainnya ditentukan oleh kekayaan Sumber Daya Alam. Pernyataan ini makin diperkuat dengan hasil analysis dari penelitian kohor di 5 negara yang memberikan bukti kuat bahwa gizi yg cukup di dalam kandungan dan di usia 2 tahun pertama kehidupan sangat penting untuk pembangunan SDM (Victora dkk, 2008).

Seribu Hari Pertama Kehidupan adalah masa selama 270 hari (9 bulan) dalam kandungan ditambah dengan 730 hari (2 tahun) pertama pasca lahir (Achadi, 2014). Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa krisis bagi individu karena pada masa tersebut khususnya pada usia janin 0 sampai 8 minggu merupakan fase terbentuknya cikal bakal individu yang akan menjadi otak, hati, jantung, ginjal, tulang dan sebagainya. Pada usia kehamilan 9 minggu sampai dengan lahir, terjadi pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut pada organ tubuh individu sehingga siap untuk lahir kedunia. Kemudian individu akan mengalami puncak perkembangan fungsi otak pada usia 0 bulan sejak kelahirannya sampai 2 tahun. Adapun perkembangan fungsi otak yang dimaksud adalah perkembangan melihat, mendengar, berbahasa dan fungsi kognitif yang lebih tinggi (Thompson & Nielson, 2001). Setelah usia individu lebih dari 2 tahun, perkembangan fungsi kognitif yang lebih tinggi akan turun. Terkait dengan hal tersebut diatas maka wajar kiranya bahwa pada seribu pertama kehidupannya, individu memerlukan asupan gizi yang cukup.

Ketercukupan gizi pada masa 1000 hari pertama kehidupan ini dianggap sangat penting dalam periode kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan dampak dari malnutrition yang terjadi pada periode ini bersifat permanen dan berjangka panjang. Menurut Rajagopala (dalam Achadi, 2014) dinyatakan bahwa dampak malnutrition yang terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan terbagi pada dua dampak, yaitu dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang. Dampak jangka pendek malnutrition pada periode tersebut antara lain gangguan perkembangan otak, gangguan pertumbuhan dan gangguan metabolik. Adapun dampak jangka panjang dari malnutrition adalah gangguan perkembangan kognitif/pendidikan, stunting (“pendek” akibat gangguan pertumbuhan) dan timbulnya penyakit seperti hipertensi, diabetes, obesitas, jantung koroner dan stroke. Berbicara mengenai kasus malnutrition ternyata Indonesia masuk dalam 17 negara yang memiliki tiga masalah gizi tinggi pada balita dari 193 negara yang ada (Achadi, 2014). Tiga masalah gizi tersebut adalah stunting (pendek), wasting (kurus) dan overweight (gemuk). Oleh karena itu perlu kiranya kita semua berusaha untuk mencegah munculnya penyakit multi generasi seperti yang tersebut diatas.

Kasus malnutrition bukan hanya tanggung jawab dinas kesehatan tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama termasuk BKKBN, karena BKKBN merupakan lembaga non kementrian yang fokus dalam peningkatan kualitas SDM melalui program peningkatan kualitas keluarga. Dalam meningkatkan kualitas keluarga, BKKBN mempunyai program pembangunan keluarga. Dalam menjalankan program pembangunan keluarga, BKKBN telah membentuk kelompok-kelompok yang bernaung di bawah pembinaan kedeputian Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga, antara lain BKB, BKR, PIK R/M, BKL dan UPPKS.

Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), fokus pada tumbuh kembang balita dengan memberikan pemahaman kepada para keluarga terkait tumbuh kembang balita sehingga orang tua yang memiliki balita dapat membantu anaknya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR), fokus pada tumbuh kembang remaja yang didalamnya membantu orang tua yang memiliki anak remaja untuk dapat mengetahui dan memahami tumbuh kembang remaja termasuk masalah-masalah yang sering dialami remaja saat mencari identitas dirinya. Masa pencarian identitas diri sering membuat remaja terjerumus pada masalah triad KRR (3 Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja) yaitu HIV/AIDS, Narkoba/NAPZA dan Sek Pra Nikah. Oleh karena itu BKKBN Juga membentuk kelompok Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dan Mahasiswa, yang beranggotakan remaja dan mahasiswa untuk dibekali pengetahuan dan pemahaman terkait Triad KRR sehingga mereka dapat terhindar dari dampak triad KRR tersebut.

Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL), fokus pada pemberian pemahaman kepada keluarga yang mempunyai lansia agar dapat menerima dan memperlakukan lansia dikeluarganya dengan semestinya sehingga lansianya dapat menjadi lansia tangguh. Adapun UPPKS adalah kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera yang bertujuan memberikan pembinaan pada keluarganya untuk dapat meningkatan pendapatan keluarganya dengan cara memberikan bantuan dana untuk pengembangan usaha keluarga dan memberikan pelatihan untuk mereka agar dapat meningkatkan kulitas produk dan dapat memasarkan produk yang dihasilkan. UPPKS ini selain bermanfaat bagi yang mempunyai usaha, juga dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya karena dapat menambah lapangan pekerjaan. Apabila program pembangunan keluarga BKKBN tersebut berjalan lancar dan optimal maka kasus malnutrition di Indonesia dapat dihindari.

Selain melalui kelompok-kelompok tersebut diatas untuk mencegah kasus malnutrition di Indonesia, BKKBN juga menggelontorkan program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). PUP diyakini senjata paling ampuh mencegah malnutrition, karena hasil dari beberapa studi yang pernah dilakukan di Indonesia kasus malnutrition banyak dijumpai pada anak yang dilahirkan oleh ibu yang masih diusia remaja. Kondisi ini terjadi karena pada usia remaja seseorang memerlukan banyak asupan gizi untuk tumbuh kembangnya, dan disisi lain mereka harus berbagi dengan janin dalam kandungannya untuk pertumbuhan janin tersebut. Perebutan gizi untuk tumbuh kembang janin dan si calon ibu yang masih remaja tersebutlah yang menjadi penyebab malnutrition pada anak. Oleh karena itu kita perlu mendukung usaha pemerintah untuk mensukseskan “Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan” (Gerakan 1000 HPK), yang pernah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 30 Oktober 2013 melalui Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Suksesnya Gerakan 1000 HPK dapat membantu pencapaian poin kelima dari program Nawacita Presiden Joko Widodo yaitu “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”. (rien)