Perang Asimetris, Perang Gaya Baru

No comment 1528 views

(Disarikan dari Nugraha, A & Loy, N 2013, Pembangunan Kependudukan untuk Memperkuat Ketahanan Nasional dalam Menghadapi Ancaman Asymmetric War, Direktorat Analisis Dampak Kependudukan, BKKBN, Jakarta, ISBN 978-602-7584-35-8)

Saat ini bermunculan beragam bentuk perang gaya baru. Perang-perang ini disebut: low intensity wars (perang intensitas rendah), small wars (perang-perang kecil), network centric warfare (perang berpusat pada jejaring), fourth generation wars (perang generasi keempat), non-conventional/hybrid wars (perang non-konvensional), dan asymmetric wars (perang asimetris).

Perang konvensional yang selama ini terjadi, musuh yang dihadapi jelas, aktornya negara, yang didukung oleh pasukan dengan aturan yang jelas dan peralatan militer yang dibolehkan oleh konvensi internasional. Sementara perang asimetris dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, diluar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek astagatra (geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan).

 

Tabel 1. Perbandingan antara Pendekatan Keamanan Tradisional dan Non-Tradisional dalam Memandang Konsep Keamanan
Konsep Keamanan Tradisional Konsep Keamanan Non-Tradisional
Sumber/asal ancaman Negara lain Aktor non-negara, baik yang berasal dari domestik atau transnasional
Hakikat ancaman Bersifat militer Bersifat non-militer: ekonomi, politik, pangan, teroris, kesehatan, dan lingkungan hidup
Aktor keamanan Negara Negara, masyarakat, organisasi negara, bahkan individu
Nilai utama keamanan Kedaulatan dan integritas teritorial Kesejahteraan, kualitas hidup, HAM, lingkungan, dll
Respons terhadap ancaman keamanan Tindakan militer Pendekatan keamanan dan pendekatan kesejahteraan
Sumber: Prasetyo Sunaryo, Presentasi Dewan Riset Nasional, 10 Juli 2008 (diolah, dalam Nugraha, A & Loy, N 2013, hlm 14).

Sumber ancaman keamanan nasional meliputi ancaman militer dan non militer, yang dapat berasal dari negara dan aktor non-negara. Strategi yang berbeda dibutuhkan untuk mengatasi ancaman dari sumber dan bentuk yang berbeda. Tabel berikut memperlihatkan sumber dan bentuk ancaman serta solusinya.

 

Tabel 2. Sumber Ancaman, Bentuk Ancaman Keamanan, dan Solusinya
Militer Non-Militer Solusi
Aktor Negara Kekuatan global, regional, perlombaan senjata, perang antar negara Persaingan ekonomi, perebutan sumber daya, perebutan blok perdagangan, perang cyber · Penguatan pertahanan, deterrence

· Pembangunan ekonomi, diplomasi

Aktor Non-Negara

Konflik internal, terorisme, fundamentalisme, kerusuhan SARA

Kejahatan transnasional, kejahatan korporasi transnasional, isu lingkungan, dst · Demokratisasi, intervensi, pengembangan resolusi konflik

· Penegakan hukum, peningkatan ketahanan nasional

Bentuk perang terus bergeser, dari perang dengan kekuatan senjata, menjadi perang asimetris yang menggunakan metode-metode baru untuk mencari kelemahan lawan dan mengeksploitasi kelemahan tersebut untuk mencapai kemenangan.

 

Tabel 3. Perbandingan Konflik/Perang Simetris dan Perang Asimetris
Simetris Asimetris
Aktor Negara Negara, sub-negara, aktor non-negara
Power Setara, berimbang Tidak setara
Instrumen Konvensional, militer Non- konvensional, militer, dan nir-militer
Teknologi Teknologi militer yang tinggi Kombinasi beragam bentuk teknologi militer dan non-militer
Metode dan rekrutmen Formal, melalui pendidikan dan training Non-formal, clandestine
Ideologi Kolektif Pilihan individual
Sumber: Yves Winter (dikutip, dalam Nugraha, A & Loy, N 2013, hlm 15).

Penggunaan teknologi informasi dalam perang asimetris adalah ancaman utama dalam pertahanan dan keamanan nasional suatu bangsa dan negara. Teknologi informasi dalam suatu peperangan merupakan sarana untuk menghancurkan sistem pertahanan dan keamanan nasional lawan melalui teknologi cyber. Teknologi informasi dapat digunakan pula untuk menurunkan semangat bertarung, moral, dan kemauan politik lawan untuk berperang.

Pembangunan karakter manusia merupakan hal utama dalam menjaga ketahanan nasional Indonesia. Dalam hal ini, kebijakan kependudukan berperan sentral dalam membangun kapabilitas dan ketahanan nasional dalam menghadapi perang asimetris. Kebijakan kependudukan ditujukan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kokoh dan menjadi pondasi bagi strategi penanggulangan perang asimetris dalam jangka panjang. (ypi)