SITI MASDAH: 10 LANGKAH DALAM MENGHADAPI BONUS DEMOGRAFI DAN TANTANGAN KETENAGAKERJAAN

Pemenang I Lomba Pidato Kependudukan Tahun 2015 Kategori Dewasa Muda

(Pontianak-19/5) Pemerintah menetapkan minimal 4 indikator yang harus dipersiapkan dalam rangka menyongsong tercapainya bonus demografi, yakni terkait penyiapan sumber daya manusia, upaya penurunan Total Fertility  Rate (TFR), sektor tenaga kerja, dan penyediaanlapangan pekerjaan dalam rangka meningkat perekonomian. Sementara itu, menurut pemenang pertama Lomba Pidato Kependudukan Tingkat Provinsi Kalimantan Barat tahun 2015, Siti Masdah mengatakan setidaknya ada dua hal lagi yang perlu dipersiapkan selain apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Dua hal yang mungkin terlupakan oleh kita adalah ketersediaan sumber daya alam dan akses jalan yang memadai”, kata Siti Masdah. Masdah menjelaskan bagaimana mungkin bonus demografi akan berjalan sesuai harapan apabila sumber daya alam yang ada tidak kita jaga dengan baik, ataukah mungkin masyarakat dapat mengakses semua informasi dan mendapatkan pekerjaan yang layak apabila jalan atau tempat untuk mendapatkan informai sulit di jangkau?

Terkait dengan kesiapan Provinsi Kalimantan Barat dalam menghadapi bonus demografi dan tantangan ketenagakerjaan, tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Semua mengetahui bahwa pembakaran hutan dan pembabatan hutan terjadi dimana-mana, padahal hutan adalah paru-paru bumi. Bagaimana anak cucu kita akan mengolah sumber daya alam yang tersedia kalau saat ini, kita sendiri yang menghancurkan sumber daya alam yang ada. Peningkatan TFR Kalimantan Barat juga sangat tinggi, berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2007 TFR kita sebesar 2,77, sedangkan SDKI tahun 2012 TFR Kalimantan Barat meningkat menjadi 3,1. Ditambah lagi Age Spesific Fertility Rate (ASFR)15-19 tahun tertinggi di Indonesia yaitu 104 per 1000 kelahiran. “Bagaimana penduduk bangsa ini akan berkualitas jika para remajanya sudah lebih dahulu menikah sebelum mereka mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi’, ungkap Masdah dengan sedih.

Masdah menggambarkan, bahwa berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 penduduk Kalimantan Barat sebanyak 4.395.983 jiwa dengan angkatan kerja berjumlah 2.000.147 jiwa dan yang belum terserap ke lapangan pekerjaan sebanyak 101.620 orang. Tingkat pendidikan di Provinsi Kalimantan Barat juga masih rendah, sehingga akan mengalami kesulitan tatkala bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalimantan Barat sebesar 70,31, dimana angka ini masih jauh dari rata-rata nasional yakni sebesar 73,29, sehingga kita  menempati urutan 28 dari 33 provinsi di Indonesia. Sementara itu, ketersediaan transportasi juga belum memadai. Masdah mencontohkan banyaknya masyarakat desa yang tidak dapat membawa anak ke puskesmas untuk imunisasi karena jalannya rusak, masih tingginya angka kematian ibu dan balita karena tidak dapat mengakses fasilitas yang memadai dan masih banyak contoh lain yang dapat kita perhatikan di lapangan.

Jika hal tersebut tidak di antisipasi dengan baik, maka bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2020-2035 di Kalimantan Barat, dipastikan tidak akan membawa daerah ini ke arah yang lebih baik, atau sebaliknya justeru akan mendatangkan malapetaka yang besar berupa kriminalitas semakin meningkat, pengganguran meningkat, masyarakat miskin bertambah, persaingan untuk mendapatkan kebutuhan fasilitas kesehatan, pendidikan dan pelatihan serta semakin meningkat jumlah lansia yang akan menambah beban negara akan semakin berat.

Sebagai pemenang Lomba Pidato Kependudukan tahun ini, Siti Masdah mencoba memberikan tawaran  sebagai bentuk upaya preventif dalam menghadapi bonus demografi dan tantangan ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Barat. Upaya tersebut yakni: Pertama, memperbaiki akses jalan dari pedesaan menuju perkotaan; kedua, menjaga kelestarian sumber daya alam yang tersedia; ketiga, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan program wajib belajar 12 tahun; keempat, mendorong generasi muda untuk memiliki jiwa kewirausahaan; kelima, menyiapkan lapangan pekerjaan sesuai dengan keterampilan masyarakat dan produk unggulan daerah; keenam, mendorong investasi padat karya yang spesifikasi tenaga kerjanya disesuaikan dengan rata-rata pendidikan masyarakat; ketujuh, menyiapkan fasilitas dan tenaga kesehatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat; kedelapan, mengembangkan ekonomi kreatif sesuai sumber daya alam yang ada di daerah; kesembilan, memberikan ketrampilan pada masyarakat sebelum memasuki lanjut usia (lansia) agar mereka tetap produktif di masa lansia; dan kesepuluh, memperbaiki manajemen pengelolahan keuangan daerah, agar apa yang sudah diprogramkan tidak sia-sia dan dapat dievaluasi secara bekala.

Siti Masdah yakin apabila sepuluh langkah yang dia tawarkan tersebut dapat diwujudkan, maka keuntungan dari bonus demografi dapat kita rasakan dan masyarakat mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kamampuan dan keterampilan masing-masing. Siti Masdah menambahkan bahwa hal tersebut merupakan perbuatan baik seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah menjanjikan akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi, jika makhluk-Nya beriman dan bertaqwa kepada Allah, akan tetapi jika kita melalaikan tugas tersebut, maka Allah akan membalas sesuai apa yang telah kita kerjakan (Q.S. Al-A’raf ayat 96). Pada akhirnya, Siti Masdah mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Barat pada khususnya untuk peduli terhadap problematika kependudukan, sehingga akan lebih siap dalam menghadapi bonus demografi dan tantangan ketenagakerjaan di masa depan. (tan)