TEORI CALDWELL: ALIRAN KEKAYAAN ANTARGENERASI

No comment 1453 views

(Saduran artikel HS Kaplan dan J Bock, 2002, Fertility Transition: Caldwell’s Theory of Intergenerational Wealth Flows, Elsevier Science Ltd., International Encyclopedia of the Social and Behavioral Sciences, ISBN: 0-08-043076-7)

Pada tahun 1976, Caldwell mengemukakan teori transfer kekayaan antargenerasi. Dalam teori tersebut, ia menjelaskan hubungan langsung antara struktur/susunan keluarga dan fertilitas (tingkat kelahiran). Caldwell menyatakan bahwa terdapat dua bentuk struktur keluarga. Pertama, dalam masyarakat primitif atau tradisional, kekayaan mengalir dari generasi yang lebih muda ke generasi yang lebih tua. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar apabila orangtua dalam masyarakat tradisional cenderung memiliki banyak anak. Anak dinilai memiliki nilai ekonomis yang tinggi, khususnya dalam masyarakat agraris dimana anak kerap dijadikan pekerja untuk membantu di ladang, sawah, atau menjaga ternak. Orangtua dalam masyarakat tradisional juga memiliki harapan bahwa anak dapat menjamin jaminan hari tua. Mereka berharap bahwa kelak di hari tuanya, mereka akan tinggal bersama dan dirawat oleh anak mereka.

Kedua, masyarakat di negara-negara maju cenderung memiliki anak lebih sedikit karena kekayaan mengalir dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Bagi masyarakat ini, anak memiliki nilai yang mahal. Mereka harus menyisihkan lebih banyak dana untuk kesehatan dan biaya pendidikan anak.

Kekayaan dalam teori Caldwell tidak hanya sebatas kekayaan berbentuk materi seperti uang dan barang. Kekayaan yang dimaksud dalam teori ini juga meliputi kekayaan non-material seperti jasa, pelayanan, dan jaminan yang disediakan seseorang bagi orang lain. Jaminan dalam hal ini adalah jaminan rasa aman di hari tua, yakni jaminan bahwa anak akan menjaga, melayani, dan merawat orangtuanya yang sudah lansia.

Perubahan dari struktur keluarga ‘tradisional’ ke struktur keluarga ‘modern’ terjadi ketika sekelompok besar orang mengtadopsi nilai baru dan meresponnya dengan tingkat kelahiran yang rendah. Dengan kata lain, pendidikan berperan dalam mengubah nilai yang dimiliki masyarakat sehingga mengubah cara pandangnya mengenai nilai ekonomis anak. Masyarakat yang tadinya berpikir bahwa anak mendatangkan keuntungan ekonomis, kini berpikir bahwa anak juga membawa beban ekonomis, sehingga memutuskan untuk memiliki lebih sedikit anak. Dengan demikian, peningkatan pendidikan mempercepat dan dapat mendorong terjadinya transisi (perubahan) fertilitas.

Caldwell bukanlah orang pertama yang mengajukan teori mengenai hubungan antara aliran kekayaan antargenerasi dengan tingkat kelahiran. Namun dibandingkan dengan ahli lain, Caldwell adalah satu-satunya yang mengenali adanya dampak teknologi, seperti nilai ekonomis dari pendidikan, terhadap aliran kekayaan.

Selain itu, Caldwell berpandangan bahwa ada dua determinan utama yang menentukan aliran kekayaan antargenerasi. Determinan pertama adalah system nilai yang berkaitan dengan dukungan di hari tua. Sementara determinan kedua adalah hubungan antara individu dan keluarga yang lebih besar.

Willis (1982) mengkritisi teori Caldwell dengan menyatakan bahwa generasi tua yang memiliki sifat altruistik akan menganggap bahwa keberhasilan yang diraih oleh keturunannya juga merupakan keberhasilan mereka. Hal ini akan membuat mereka bersedia untuk berinvestasi lebih banyak guna meningkatkan kualitas keturunannya melalui penyediaan dana kesehatan dan pendidikan yang lebih besar, bahkan apabila dibandingkan dengan orangtua yang bertindak semata-mata untuk keuntungan diri sendiri.

Banyak lagi kritikan terhadap teori yang diajukan oleh Caldwell. Sayangnya semua bantahan tersebut tidak mengukur aliran kekayaan absolut. Diantara sekian banyak ahli yang mengajukan kritikan terhadap Caldwell, belum ada yang mengukur keuntungan bersih yang diberikan seorang anak bagi orangtuanya dalam masyarakat dengan fertilitas tinggi, ataupun beban bersih yang dihabiskan seorang anak dalam masyarakat yang tingkat kelahirannya rendah. Keuntungan ataupun beban bersih ini sesungguhnya sangat mudah diukur dengan mengurangkan jumlah dana yang disediakan oleh seorang anak bagi orangtuanya dengan jumlah dana yang diterima anak dari orangtuanya.

Berkaitan dengan jaminan hari tua, hasil sejumlah penelitian yang telah dilakukan dapat dikelompokkan menjadi dua golongan. Beberapa penelitian, antara lain yang dilakukan oleh Hugo pada tahun 1997 dengan menggunakan data pada tingkat nasional di Indonesia, menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kelahiran yang tinggi cenderung berharap bahwa kelak mereka akan mendapat dukungan di hari tua dari anak-anaknya. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Hawkes dan Jones pada tahun 1997 terhadap masyarakat yang berburu dan berladang berpindah menemukan bahwa individu-individu lansia dalam masyarakat tersebut masih merupakan produser/penghasil, dan masih melakukan jenis pekerjaan yang lain untuk mensuport anggota keluarga yang lebih muda.

Dalam teori aliran kekayaan disebutkan bahwa pendidikan mempengaruhi perubahan fertilitas melalui tiga cara. Pertama, pendidikan menggantikan sistem nilai tradisional yang berorientasi kepada masyarakat dan melatih anak untuk mengejar tujuan pribadi. Kedua, pendidikan mengurangi kemampuan anak untuk berkontribusi terhadap penghasilan keluarga karena waktu yang mereka miliki dihabiskan untuk belajar di sekolah. Anak juga kehilangan pengetahuan dan keterampilan tradisional yang dibutuhkan untuk memperoleh penghasilan. Ketiga, pendidikan, secara langsung maupun tidak, meningkatkan beban biaya pengasuhan anak. Beban biaya yang harus dikeluarkan orangtua untuk pendidikan anak yang semakin tinggi akan mendorong orangtua untuk membatasi jumlah anak.

Teori Caldwell ini memiliki dua kekuarangan. Data yang ada tidak mendukung interpretasi kaku terhadap hipotesis aliran kekayaan antargenerasi. Selain itu, penentu aliran kekayaan dalam keluarga tidak didukung dengan dasar teoritis yang dirinci dan ditentukan dengan baik. Teori ini tidak merinci mengapa sistem nilai tertentu, yang menyebabkan aliran kekayaan, muncul. Teori ini juga tidak merinci hubungan antara faktor ekonomi dari luar keluarga, psikologis manusia, dan evolusi budaya.

Kekuatan teori Caldwell adalah bahwa teori ini merupakan sumbangsih besar bagi ilmu kependudukan. Teori ini menjelaskan kondisi masyarakat dengan tingkat fertilitas yang tinggi dan rendah. Kekuatan kedua adalah bahwa teori ini menjelaskan variabel eksogen serta proses psikologis dan sosial. Proses psikologis dan sosial menerjemahkan pengaruh variabel eksogen terhadap perilaku seseorang. Proses psikologis dan sosial menekankan faktor-faktor ekonomi dan sosial dalam memahami transisi fertilitas. Teori ini juga memperluas ilmu kependudukan dengan mengarahkan perhatian pada isu budaya. Teori ini menginspirasi dan mempengaruhi munculnya sejumlah besar penelitian empiris. (ypi)