The 1st Internasional Symposium on Health Research

The 1st Internasional Symposium on Health Research
The 1st Internasional Symposium on Health Research

Kesehatan merupakan salah satu ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat dan hak asasi manusia nomor satu. Kegiatan simposium internasional ini bertujuan untuk meningkatkan peran masyarakat ilmiah (pelajar, mahasiswa, peneliti, dosen, dan praktisi ilmiah) dalam mengembangkan kesehatan. Kegiatan ini diadakan untuk mempromosikan ilmu dan teknologi, memfasilitasi terjadinya pertukaran informasi dan pengalaman dalam bidang kesehatan masyarakat, mengidentifikasi kesenjangan wawasan dan mengembangkan agenda penelitian masa depan untuk mengatasi kesenjangan dalam kesehatan.

Dengan demikian, tujuan simposium ini adalah:

  1. Tukar-menukar informasi, kebijakan dan upaya-upaya dalam penelitian kesehatan masyarakat, serta upaya mengatasi kesenjangan dalam bidang kesehatan.
  2. Berbagi informasi mengenai penerapan hasil-hasil penelitian dalam kebijakan kesehatan untuk mengatasi kesenjangan dalam bidang kesehatan.
  3. Berbagi pengalaman dalam merancang intervensi kesehatan masyarakat yang berdasarkan bukti dan merancang kebijakan untuk mengatasi kesenjangan dalam bidang kesehatan.

Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat (Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc, DipCom) didampingi Kepala Subbidang Penetapan Parameter Kependudukan Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat (Yulaecha Padma Ichwanny, S.Psi, MAPS). Simposium berlangsung pada tanggal 16-18 November 2011 di Sanur Paradise Plaza Hotel, Bali. Pelaksana kegiatan ini adalah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) bekerja sama dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Hasil penelitian Joseph R. Sharkey, PhD, MPH, RD dkk di daerah perbatasan Texas-Meksiko mengungkapkan bahwa banyak anak usia 6-11 tahun dari keluarga miskin di daerah perbatasan Texas-Meksiko yang mengalami obesitas dan menderita penyakit diabetes tipe 2. Penyebabnya adalah:

  • Tingginya konsumsi makanan kalengan.
  • Mereka pada umumnya mengalami kekurangan makanan, sehingga cenderung makan terlalu banyak pada saat mereka memperoleh makanan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa lamanya seorang anak telah mengalami obesitas atau kelebihan berat badan berpengaruh terhadap peluang mereka menderita diabetes tipe 2.

Penelitian terhadap penduduk lansia di Jepang oleh Fumie Aizawa, dkk menghasilkan informasi mengenai Negara Jepang yang telah menjadi “super aging society” atau masyarakat super lansia. Hal ini terjadi berkat “Gerakan 8020” yang telah dicanangkan sejak tahun 1989. Gerakan 8020 adalah lansia yang berusia 80 tahun hendaknya memiliki sedikitnya 20 gigi agar dapat hidup sehat dan masih produktif. Hipotesis penelitian ini adalah peningkatan kesehatan mulut dan gigi dapat memperpanjang usia dan menjadikan lansia hidup sehat dan produktif.

Penelitian ini bersifat longitudinal sejak tahun 1997 hingga tahun 2007. Penelitian ini dilakukan di Prefektur Iwate terhadap 432 orang penduduk berusia 80 tahun pada tahun 1997. Metode yang digunakan adalah decision tree analysis dan logistic regression analysis by gender. Data diolah dengan Program SPSS 19. Variabel independen adalah kondisi kesehatan dan gaya hidup responden berusia 80 tahun. Variabel dependen adalah jumlah gigi dan tekanan darah maksimal (yang digunakan adalah tekanan darah diastolik).

Hasilnya penelitian Fumie Aizawa secara lebih rinci adalah sebagai berikut:

  • Umur panjang diasosiasikan dengan jenis kelamin. Perempuan lebih panjang umur dibanding laki-laki.
  • Jumlah gigi responden laki-laki yang masih hidup pada akhir penelitian (tahun 2007) lebih banyak daripada responden perempuan. Sehingga kemampuan mengunyah responden laki-laki lebih baik daripada responden perempuan.
  • Jumlah gigi yang lebih banyak menyebabkan kemampuan mengunyah makanan dengan lebih baik. Kemampuan mengunyah yang lebih baik ini membantu pencernaan, meningkatkan fungsi persendian, fungsi otak, dan peredaran (sirkulasi) darah.
  • Meskipun secara demografis perempuan lebih panjang umur dibanding laki-laki, kemampuan responden laki-laki untuk mengunyah berperan signifikan dalam memperpanjang usia mereka.
  • Singkatnya, jumlah gigi (dan kemampuan mengunyah) berperan signifikan untuk memperpanjang usia.

Dr. Dra. Rita Damayanti, MSPH melakukan penelitian tentang perokok dan kemiskinan di Jakarta. Penelitian ini lebih bertujuan untuk melakukan advokasi, bukan merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian pada umumnya. Hasilnya:

  • Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam hal negara dengan jumlah perokok terbanyak.
  • Perokok lak-laki lebih banyak daripada perokok perempuan.
  • Perokok yang tinggal di desa lebih banyak dibanding perokok yang tinggal di daerah perkotaan.
  • Jumlah perokok dengan tingkat pendidikan rendah, atau bahkan tidak mengenyam pendidikan formal sama sekali, lebih banyak disbanding jumlah perokok dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
  • Perokok dari golongan ekonomi lemah lebih banyak ketimbang yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas.
  • 11% pengeluaran penduduk ekonomi menengah ke bawah yang kepala keluarganya merupakan perokok dipergunakan untuk membeli rokok, bukannya dialokasikan untuk membeli makanan bergizi seperti susu, ikan, telur, dan daging. Oleh karena itu, tidak heran bila ditemukan anak dan balita yang mengalami kekurangan gizi yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang memiliki ayah seorang perokok. Temuan yang lebih memprihatinkan menyatakan bahwa pengeluaran untuk rokok ternyata lebih besar daripada untuk kesehatan dan pendidikan.
  • Janin dari ibu perokok, atau yang memiliki ayah perokok, cenderung memiliki berat badan rendah (kurang dari 2,5 kg) pada saat dilahirkan dan lebih mudah terkena infeksi.
  • Orang yang ketagihan merokok membutuhkan nikotin untuk meningkatkan kadar dopamine dalam syarafnya sehingga mereka merasa lebih mudah berpikir bila merokok.
  • Perlu ada kebijakan tembakau yang kuat yang mempersyaratkan bahwa tunjangan atau bantuan kepada keluarga miskin hanya diberikan kepada keluarga yang kepala keluarganya tidak merokok.
  • Selain itu, perlu ada penambahan pajak dan cukai untuk rokok.

Penelitian mengenai melek kesehatan dilakukan oleh Dr. Ahmad Shahrul Nizam di Malaysia dan menghasilkan informasi sebagai berikut:

  • Melek kesehatan adalah individu memahami dan mampu menggunakan informasi yang ada untuk meningkatkan kesehatannya.
  • Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa promosi kesehatan yang gencar dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak selama ini masih mengabaikan kebutuhan masyarakat yang belum melek kesehatan, dalam arti banyak masyarakat yang belum memahami dan belum mampu menggunakan informasi kesehatan yang mereka terima. Hal ini tentu saja mengakibatkan dana yang telah dikeluarkan untuk promosi kesehatan menjadi tidak tepat sasaran dan sia-sia.
  • Tidak melek kesehatan dapat berakibat kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan dan sistem perawatan kesehatan, meningkatnya jumlah pasien di rumah sakit, tingginya biaya untuk perawatan kesehatan, buruknya akses terhadap dan penggunaan pelayanan medis.
  • Hasil:

ü Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap melek kesehatan.

ü Wawasan mengenai kesehatan responden yang berusia lebih muda lebih tinggi dibandingkan responden yang lebih tua.

ü Ras atau suku bangsa berpengaruh terhadap wawasan kesehatan.

Hasil penelitian yang dipaparkan berikutnya adalah penelitian tentang perilaku yang meningkatkan kesehatan pada anak usia sekolah di Michigan, Amerika Serikat oleh Phanarat Chenchop. Penelitian ini menggunakan Pender’s Health Promotion Model untuk mengukur perilaku yang meningkatkan derajat kesehatan (sebagai variabel dependen). Sedangkan variabel independen selaku prediktor perilaku yang meningkatkan derajat kesehatan pada penelitian ini adalah: dukungan sosial (dukungan guru, orangtua, dan tetangga), konteks lingkungan (keamanan di lingkungan tempat tinggal), dan kondisi afektif (harga diri/self-esteem, depresi). Penelitian ini merupakan penelitian longitudinal yang menggunakan data sekunder. Uji statistik yang dilakukan adalah korelasi bivariat dan regresi. Hasil uji regresi untuk menemukan prediktor yang paling signifikan adalah:

©    Semakin tingginya dukungan dari orangtua, semakin baik perilaku anak untuk meningkatkan kesehatannya.

©    Semakin tinggi self-esteem (semakin baik cara pandang terhadap diri sendiri), semakin baik perilaku anak untuk meningkatkan kesehatannya.

Penelitian mengenai sikap mental tenaga medis berkenaan dengan advokasi sosial oleh Philip Scullion dari Inggris memberikan informasi berikut:

  • Tenaga medis adalah orang-orang yang terlibat dalam usaha peningkatan kesehatan.
  • Convention rights (PBB 2009) menyebutkan bahwa orang-orang cacat memiliki hak untuk menikmati/memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas tanpa ada pembedaan/diskriminasi.
  • Kenyataan yang ada, tenaga medis cenderung mengabaikan gejala-gejala penyakit baru yang sedang diderita oleh orang cacat dengan menganggap gejala penyakit itu disebabkan oleh cacat yang disandangnya.

Misalnya orang yang baru menjalani amputasi mengalami kesemutan, tenaga medis cenderung menganggap bahwa hal itu disebabkan oleh amputasi yang baru dijalaninya.

  • Kecacatan cenderung tidak dipedulikan oleh tenaga medis.
  • Fragmentasi dari berbagai kelompok penderita cacat menyebabkan advokasi menjadi hal yang mustahil.

Tantangan-tantangan kesehatan daerah perkotaan di wilayah Asia Pasifik diteliti dengan mencermati tiga daerah: the horn of Africa, Taiwan, dan Indonesia. Hasilnya:

The horn of Africa:

  • Urbanisasi memiliki dua definisi. Yang pertama adalah migrasi dari desa ke kota. Definisi kedua adalah meningkatnya fasilitas, sarana dan prasarana di suatu wilayah sehingga menjadi seperti kota.
  • Urbanisasi meningkat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit menular, perubahan gaya hidup yang menuntun pada meningkatnya kondisi kronis (seperti diabetes), dan meningkatnya kekerasan dan kecelakaan yang berhubungan dengan lalu lintas.
  • Strategi kunci:

– Tindakan/aksi lintas sektoral.

– Partisipasi/peran serta masyarakat.

– Bukti/data yang kuat.

  • Cara mengatasi masalah kesehatan di daerah perkotaan:

– Komitmen politik.

– Bukti dasar yang terintegrasi dan reliabel (dapat diandalkan).

– Tindakan yang menyeluruh.

Taiwan:

  • Hidup sehat dengan menjauhi rokok/tembakau dan melakukan olah raga.
  • Lansia sehat.

Indonesia:

Tantangan terbesar adalah kontinuitas (kesinambungan) dan keberlanjutan.

Recommended For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *